Pemain sayap Mohamadou Sumareh tidak menahan pujian usai Malaysia memastikan tiket semifinal Piala AFF 2026. Laskar Tan Cheng Hoe menyelesaikan babak grup sebagai runner-up Grup B dengan mengumpulkan sembilan poin dari empat laga. Hanya Thailand yang berhasil mengalahkan mereka, sementara Myanmar, Laos, dan Filipina dikalahkan secara bergantian.
Kebanggaan Sumareh tak hanya soal hasil, tapi proses. "Pujian kepada pemain muda, mereka memberikan segala-galanya," ucapnya kepada Berita Harian. Pemain berusia 31 tahun itu menyoroti fakta bahwa separuh dari anak-anak muda tersebut debut pertama kali memakai jersey timnas senior. Namun mereka tampil solid hingga menit terakhir.
Regenerasi ini bukan kebetulan. Pelatih Tan Cheng Hoe sengaja mempercayakan lini belakang ke Faris Danish (20 tahun) di bek kiri dan Alif Ahmad (23 tahun) di bek kanan. Di depan, Pavithran Gunalan (21 tahun) diberi mandat sebagai penyerang sayap. Ketiganya bermain penuh percaya diri meski ini panggilan pertama mereka ke pasukan kebangsaan.
Statistik pertahanan jadi bukti nyata kematangan tim muda ini. Dari tiga kemenangan beruntun, Malaysia hanya kebobolan satu gol. Faris dan Alif membentuk pasangan bek yang langkah kaki mereka sinkron, sementara Pavithran tidak hanya mencetak gol tapi juga mundur membantu pertahanan. Pola main 4-4-2 yang bertransformasi jadi 4-5-1 saat bertahan membuat lawan kesulitan menemukan celah.
Sumareh mengungkap rahasia di balik kekompakan tersebut. "Anda lihat, bukan 11 bintang membentuk satu pasukan, tetapi 11 sahabat membentuk satu pasukan," kata mantan pemain Pahang dan Johor Darul Ta'zim itu. Frasa itu mengingatkan pada filosofi timnas Indonesia era Shin Tae-yong yang dulu menekankan "keluarga" di atas individualitas. Bedanya, Malaysia sekarang membuktikannya dengan pemain yang rata-rata berusia di bawah 23 tahun.
Kondisi ini menimbulkan perbandingan tak terhindarkan dengan situasi di Indonesia. Garuda Muda baru saja melewati era John Herdman yang berakhir tanpa hasil maksimal di babak grup. Regenerasi di Jakarta masih bergelut mencari komposisi ideal antara naturalisasi dan pemain lokal. Malaysia justru memilih jalur sabar: membangun dari liga domestik dan tim U-23, lalu naikkan ke senior secara bertahap.
Liga Super Malaysia (MSL) berperan besar. Faris Danish dibesarkan di akademi Johor Darul Ta'zim (JDT), klub yang mendominasi liga domestik dan rutin bermain di AFC Champions League. Alif Ahmad juga berasal dari sistem JDT. Pavithran merambah dari Selangor FC. Ketiganya sudah terbiasa bermain di tekanan tinggi dan infrastruktur profesional sebelum dipanggil ke timnas.
Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara Liga 1 dan kualitas timnas. Banyak pemain muda lokal yang mendapat menit bermain minim di klubnya karena kuota asing dan naturalisasi. Proyek naturalisasi memang memberikan hasil cepat, tapi Malaysia membuktikan jalur organik bisa menghasilkan tim yang kompeten di tingkat ASEAN hanya dalam waktu singkat.
Sumareh sendiri jadi simbol transisi. Ia lahir di Gambia, naturalisasi warga Malaysia 2018, dan kini jadi senior yang membimbing generasi baru. "Saya sangat bangga dengan mereka dan mereka melakukannya dengan sangat baik," tuturnya. Peran veteran seperti dia, bersama Syamer Kutty Abba dan Dion Cools, menciptakan lingkungan aman bagi anak-anak muda bereksperimen tanpa takut salah.
Tantangan semifinal akan lebih berat. Lawan potensialnya bisa Vietnam, Thailand, atau Indonesia — tim-tim dengan pengalaman final berulang. Malaysia harus hadapi tekanan psikologis yang beda dari babak grup. Keseimbangan antara keberanian muda dan ketenangan senior akan diuji di babak knockout.
Jika Malaysia lolos ke final, ini jadi bukti nyata bahwa model regenerasi berkelanjutan — bukan proyek instan — layak ditiru. Bagi Indonesia, pelajaran utamanya jelas: investasi ke akademi, kesabaran di liga domestik, dan kepercayaan penuh ke pemain muda justru bisa jadi jalan tercepat ke puncak ASEAN.