Spanyol dan Belgia akan berhadapan di perempat final Piala Dunia pada hari Jumat, mempertemukan dua tim dengan narasi kontras yang menarik. Di satu sisi, La Roja hadir sebagai operator paling halus turnamen ini—tim yang tak terkalahkan dalam 35 pertandingan berturut-turut di bawah kepemimpinan Luis de la Fuente. Di sisi lain, Belgia datang dengan momentum emosional setelah menghancurkan Amerika Serikat 4-1, kemenangan yang dilahirkan dari satu intervensi politik paling aneh dalam sejarah sepak bola modern.
Kemenangan Belgia atas AS tidak lepas dari drama luar biasa di luar lapangan. Striker AS, Folarin Balogun, awalnya dihukum satu pertandingan larangan karena kartu merah. Namun, sanksi tersebut dicabut setelah Presiden Donald Trump secara pribadi mengajak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kasus tersebut. Intervensi eksekutif yang langka ini memicu kontroversi global, menimbulkan pertanyaan tentang independensi badan disiplin FIFA dan batas-batas campur tangan politik dalam olahraga. Belgia, di bawah asuhan Rudi Garcia, menjawab tekanan tersebut dengan performa dominan, mencetak empat gol tanpa pamrih dan melaju ke perempat final.
Namun, tantangan yang menunggu Belgium kini berubah drastis. Spanyol di bawah De la Fuente telah mengalami transformasi total sejak kekecewaan di Piala Dunia 2022 di Qatar, di mana mereka tersingkir di babak 16 besar lewat adu penalti melawan Maroko di bawah Luis Enrique. De la Fuente, mantan pelatih tim muda Spanyol yang mengenal banyak pemainnya sejak masa formatif, telah membangun tim nasional yang bermain dengan kohesi mirip tim klub: terdisiplin, terorganisir, seimbang, dan sulit dibobol.
Hasilnya gemilang. Spanyol memenangkan Liga Negara 2023, merebut gelar Kejuaraan Eropa ke-empat mereka pada 2024—gelar pertama sejak 2012—dan mencapai final Liga Negara lagi tahun berikutnya, hanya tersingkir lewat adu penalti 0-0 melawan Portugal. Portugal, yang diperkuat Cristiano Ronaldo, juga menjadi korban terakhir Spanyol di Piala Dunia ini, dikalahkan 1-0 lewat gol menit terakhir. Gol penentu itu dicetak oleh pengganti, Mikel Merino, dengan assist dari pengganti lain, Ferran Torres, baru beberapa menit setelah keduanya masuk. Ini menggarisbawahi salah satu kekuatan utama La Roja: kedalaman skuad yang luar biasa.
Kekuatan Spanyol tidak dibangun di sekitar satu pemenang pertandingan yang jelas, melainkan pada kedalaman kolektif. Di Euro 2024, mereka mencetak 15 gol dengan 10 pencetak gol berbeda—rekor turnamen untuk jumlah pencetak gol terbanyak dalam satu tim dalam satu edisi. Bahkan bintang muda Lamine Yamal, yang baru pulih dari cedera hamstring pada April, telah menunjukkan bahwa ledakan kreativitas singkat darinya sudah cukup untuk mengacaukan pertahanan lawan dan menciptakan ruang bagi rekan timnya. Manajemen cedera Yamal menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana tim modern mengelola beban kerja pemain muda berbakat.
Di sisi Belgia, tantangan semakin berat dengan absensi Amadou Onana. Gelandang andalan itu mengalami robekan ligamen silang anterior (ACL) selama pertandingan melawan AS dan terpaksa keluar pada menit ke-21. Meskipun kemudian turut merayakan di bangku cadangan dengan tongkat, ketiadaannya menciptakan celah besar di tengah lapangan yang harus diisi Garcia. Menghadapi Spanyol yang jarang butuh undangan untuk menguasai bola dan mengontrol tempo, tugas menggantikan Onana menjadi salah satu teka-teki taktis paling sulit di turnamen ini.
Secara taktis, pertemuan ini menjanjikan pertarungan menarik antara filosofi berbasis posse Spanyol dengan transisi cepat dan fisikitas Belgia. De la Fuente cenderung menggunakan sistem 4-2-3-1 yang fleksibel, memanfaatkan lebar dari sayap seperti Yamal dan Nico Williams untuk menarik pertahanan, sementara Rodri dan Fabian Ruiz mengontrol tempo di tengah. Belgium under Garcia sering bermain 4-3-3 yang bergantung pada kecepatan Jeremy Doku dan ketajaman Kevin De Bruyne (jika fitur) atau Romelu Lukaku di depan. Tanpa Onana, kemampuan Belgia untuk memecah tekanan pertama Spanyol dan melancarkan counter-attack akan diuji keras.
Sejarah pertemuan keduanya di panggung besar juga menambah rasa penasaran. Spanyol belum pernah kalah dari Belgia di fase knockout turnamen besar, meskipun Belgium memenangkan pertemuan fase grup Liga Negara 2024. Faktor psikologis juga bermain peran: Spanyol bermain dengan keyakinan juara, sementara Belgia bermain dengan mentalitas 'nothing to lose' setelah melewati badai politik. Kemenangan siapapun akan mengirim pesan kuat ke semifinal: apakah kontrol tertata atau ledakan emosional yang akan memerintah.