Promotor Claressa Shields, Dmitriy Salita, menegaskan pertarungan melawan Lauren Price pasti akan terwujud dan digelar di tanah air Uncle Sam. Kesepakatan ini datang tak lama setelah Shields merebut kembali gelar WBC dan WBA kelas menengah (72,5 kg) lewat knockout dramatis pada ronde keenam atas Kaye Scott di State Farm Arena, Atlanta, pekan lalu.
Kemenangan atas Scott menandakan comeback Shields ke divisinya yang dulu ia kuasai dengan empat sabuk sekaligus. Petinju berusia 29 tahun itu sengaja menurunkan 38 pon berat badan setelah sempat naik ke kelas berat, membuktikan ketahanan fisik dan mental yang langka dimiliki atlet tinju modern. Rekornya kini berdiri di 19 kemenangan, empat di antaranya lewat KO.
Di sisi lawan, Lauren Price hadir sebagai juara sejati kelas welter (66,6 kg) yang memegang empat sabuk sekaligus — WBC, WBA, IBF, dan WBO. Walis yang juga peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 mencatat catatan bersih 10-0 dengan dua knockout. Promotornya, Ben Shalom, mengonfirmasi kedua pihak sudah menyetujui kontrak dua laga dan hanya menunggu proses penandatanganan resmi.
Latar belakang duel ini tak sekadar soal sabuk. Shields dan Price mewakili generasi emas tinju putri yang lahir dari sistem Olimpiade — Shields emas di London 2012 dan Rio 2016, Price di Tokyo 2020. Keduanya transisi ke pro dengan dominasi cepat, dan pertemuan mereka jadi narasi alami: petinju terbaik generasi sebelumnya melawan penguasa generasi kini.
Salita mengakui laga Shields vs Scott, meski lawannya relatif tidak dikenal di AS, tetap memenuhi State Farm Arena dan menghasilkan pendapatan tiket jutaan dolar. Ia yakin kehadiran Price — yang punya basis penggemar sendiri di Inggris dan Eropa — akan melonjakkan daya tarik komersial pertarungan ke level yang belum pernah tercapai tinju putri.
Dari sudut bisnis, ini momen krusial. Tinju putri selama ini sering dipasarkan sebagai penyelenggara laga pendukung (undercard). Kali ini, dua bintang Olimpik dengan karir pro tanpa cacat jadi main event. Jika sukses, ini bisa jadi template baru: laga tinju putri sebagai produk utama yang mandiri, bukan pelengkap.
Bagi penggemar Indonesia, konteksnya menarik. Meskipun tinju pro putri belum populer di nusantara, nama Shields sudah dikenal lewat siaran internasional. Price kurang familiar, tapi status juara sejati dan emas Olimpiade membuatnya narasi yang mudah dijual. Jika laga ini tayang di platform streaming global seperti DAZN atau ESPN+, akses jadi mudah — cukup langganan internet, tak butuh TV kabel berbayar mahal.
Salita menegaskan prioritas Shields selalu lawan terbaik, bisnis kedua. Sikap ini jarang ditemukan era modern di mana petinju sering memilih lawan 'aman' demi melindungi rekor. Shields sudah membuktikannya: ia naik turun kelas, tantang juara sejati, dan terima risiko kalah demi legacy. Price juga tak mengejar uang mudah — ia pertahankan empat sabuk lawan lawan berkualitas seperti Stephanie Pineiro.
Teknisnya, duel ini menjanjikan kontras gaya. Shields agresif, berdaya hancur, dan punya IQ tinju tinggi dari pengalaman ratusan laga amatir. Price lebih teknis, gerak kaki halus, dan jabat straight kiri yang tajam — ciri khas tinju Olimpik Eropa. Selisih kelas berat (6 kg) jadi variabel: Shields harus turun berat lagi atau Price naik? Kontrak dua laga membuka peluang masing-masing jadi tuan rumah di kelasnya sendiri.
Masa depan tinju putri global sedang ditulis di meja negosiasi ini. Jika laga pertama sukses komersial, pintu terbuka untuk lebih banyak main event putri, fee yang lebih adil, dan sponsor utama yang selama ini enggan masuk. Shields dan Price tidak hanya bertarung untuk sabuk — mereka bertarung untuk seluruh ekosistem tinju putri profesional.
Langkah selanjutnya adalah penandatanganan kontrak resmi dan penetapan venue. Las Vegas, New York, atau Dallas jadi kandidat kuat mengingat kapasitas arena dan infrastruktur siaran. Target Desember-Januari realistis: cukup waktu untuk kamp promosi global, medical clearance, dan pembuatan naratif media. Dunia tinju menunggu — dan Indonesia pun sebaiknya ikut menyimak.