Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani hadir di Olympic Sports Center Gymnasium dengan target melaju ke perempat final, namun lawan dari Inggris, Ben Lane dan Sean Vendy, menunjukkan ketahanan mental dan variasi serangan yang sulit dibaca. Pertandingan berlangsung sengit sejak awal, kedua pasangan saling mengejar poin dan memperlihatkan tempo permainan cepat khas ganda putra dunia.
Pada gim pertama, skor berkedip 5-5 sebelum Lane/Vendy mencatat lari 4-0 yang memaksa Sabar/Reza ke posisi mengejar. Meskipun sempat mengejar hingga 18-20, sebuah pengembalian yang tersangkut di net mengakhiri gim dengan kekalahan 18-21. Kedisiplinan di net dan kemampuan memaksa lawan mengangkat shuttlecock menjadi kunci keunggulan pasangan Inggris.
Gim kedua tidak menunjukkan perbaikan signifikan. Sabar/Reza tersandung kesalahan tidak terpaksa yang membuat mereka tertinggal 8-11 pada interval. Agresivitas Lane/Vendy di depan net terus memaksa pengembalian tanggung, dan setiap peluang disambar dengan smash tajam. Akhirnya, pasangan Indonesia kalah 12-21, mengakhiri perjalanan mereka di turnamen ini.
China Open 2026 merupakan bagian dari seri BWF World Tour Super 1000, turnamen bergengsi yang menawarkan poin ranking besar dan hadiah uang total lebih dari satu juta dolar AS. Kehadiran pasangan Indonesia di babak 16 besar menandakan konsistensi mereka di level elit, namun kekalahan ini menghentikan momentum yang dibangun sejak awal musim.
Sebelum ke Changzhou, Sabar/Reza pernah meraih gelar di Indonesia Masters 2025 dan semifinal All England 2025, menempatkan mereka di sepuluh besar ranking dunia. Performa tersebut membangkitkan harapan publik akan medali di turnamen bergengsi beregu seperti Thomas Cup, namun hasil di China Open menunjukkan celah yang masih harus ditutup, terutama dalam menangani tekanan poin kritis.
Kekalahan ini menyisakan hanya dua wakil ganda putra Indonesia di babak 16 besar: Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri serta Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin. Kedua pasangan tersebut dijadwalkan berlaga pada siang hingga sore hari yang sama, menambah beban mental bagi tim pelatih untuk memastikan setidaknya satu pasangan lolos ke perempat final.
Fajar/Fikri, yang merupakan juara dunia 2023, diharapkan menjadi tulang punggung Indonesia. Sementara Raymond/Joaquin, pasangan muda yang naik daun setelah juara Thailand Open 2025, memiliki kesempatan untuk membuktikan kualitas mereka di panggung besar. Kedua pasangan akan menghadapi lawan yang tidak kalah tangguh, sehingga persiapan taktis dan fisik menjadi prioritas utama.
Gaya bermain Lane/Vendy yang mengandalkan variasi servis pendek, dorongan cepat ke net, dan smash sudut tajam telah menjadi referensi bagi banyak pasangan ganda putra. Sabar/Reza kesulitan mengantisipasi perubahan ritme tersebut, terlihat dari banyaknya pengembalian yang melayang di area net dan langsung disambar. Analisis video pasca laga akan menjadi bahan evaluasi penting bagi tim coaching Indonesia.
Belum ada komentar resmi dari pelatih ganda putra Indonesia, Aryono Miranat, terkait kekalahan ini. Namun, sumber internal mengindikasikan akan ada sesi evaluasi intensif sebelum laga berikutnya, dengan fokus pada peningkatan ketahanan mental di poin-poin kritis dan peningkatan variasi serangan dari posisi belakang.
Ke depan, Indonesia harus memaksimalkan poin ranking di turnamen berturut-turut seperti Japan Open dan Denmark Open pada kuartal ketiga 2026. Kemenangan di turnamen-turnamen tersebut tidak hanya memperbaiki ranking, tetapi juga membangun kepercayaan diri menghadapi Piala Thomas 2026 yang dijadwalkan di akhir tahun.
Secara luas, hasil ini mengingatkan bahwa kedalaman bakat ganda putra Indonesia masih memerlukan pembinaan berkelanjutan, terutama di aspek konsistensi di level Super 1000. Program pengembangan atlet muda di PB Djarum dan klub-klub daerah diharapkan dapat menghasilkan cadangan yang siap bersaing di panggung dunia dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Kesimpulannya, meskipun Sabar/Reza berhenti di babak 16 besar, perjuangan Indonesia di China Open 2026 belum berakhir. Fokus kini beralih ke Fajar/Fikri dan Raymond/Joaquin, yang membawa harapan untuk menyelamatkan martabat bulu tangkis putra di turnamen bergengsi ini.