Johor Darul Ta'zim (JDT) resmi menasbihkan diri sebagai penguasa sepak bola domestik setelah memecahkan rekor dunia sebagai tim dengan catatan tak terkalahkan terpanjang. Kemenangan 3-0 atas Kuching City FC di Stadion Sultan Ibrahim, Jumat (21/8), menjadi saksi bisu sejarah baru The Southern Tigers yang kini mengukir 109 pertandingan beruntun tanpa tersentuh kekalahan di Liga Super Malaysia.
Dominasi JDT di lapangan hijau tampak nyata sejak peluit babak pertama dibunyikan. Keran gol dibuka oleh Marcos Guilherme pada menit ke-11, disusul oleh kontribusi Oscar Arribas dan Shahab Zahedi yang memastikan kemenangan telak. Kemenangan ini sekaligus melampaui rekor legendaris yang dipegang klub Pantai Gading, ASEC Mimosas, yang mencatatkan 108 laga tanpa kalah dalam kurun waktu 1989 hingga 1994.
Keberhasilan ini bukan sekadar catatan statistik, melainkan buah dari manajemen profesional yang diterapkan sejak 2021. Kekalahan terakhir JDT di liga terjadi pada April 2021 saat takluk 0-1 dari Terengganu FC. Sejak saat itu, tim asuhan Xisco Munoz tersebut menjelma menjadi kekuatan yang nyaris mustahil ditaklukkan oleh lawan-lawan mereka di tanah Malaysia.
Menariknya, komposisi skuad JDT dalam laga bersejarah ini lebih banyak diisi oleh pemain asing. Hanya dua pemain lokal, kiper Syihan Hazmi dan penyerang Arif Aiman, yang mengisi starting XI. Hal ini mencerminkan strategi agresif klub dalam mengombinasikan talenta internasional berkualitas dengan pemain lokal terbaik untuk menjaga standar performa tetap di level tertinggi.
CEO JDT, Luis Garcia, mengakui bahwa mempertahankan rekor tersebut bukanlah perkara mudah. Menurutnya, status JDT sebagai raksasa sepak bola Negeri Jiran membuat setiap lawan memiliki motivasi tambahan. Setiap pertandingan bagi JDT sering kali terasa seperti laga final, di mana lawan akan mengerahkan segala kemampuan untuk merusak rekor impresif tersebut.
Garcia menyebut bahwa tekanan untuk menjaga konsistensi di setiap laga sangat tinggi. Pengalamannya di liga-liga Eropa memberikan perspektif bahwa mempertahankan dominasi dalam jangka panjang menuntut disiplin yang luar biasa, baik dari sisi taktik maupun mentalitas pemain di lapangan.
Bagi publik Indonesia, capaian JDT tentu mengundang decak kagum sekaligus pertanyaan besar mengenai tata kelola klub sepak bola. Konsistensi JDT dalam bertahun-tahun menunjukkan bahwa stabilitas manajemen dan investasi yang tepat sasaran menjadi kunci utama dalam membangun dinasti sepak bola yang disegani di level Asia Tenggara.
Di Indonesia, tantangan serupa sering kali terbentur pada masalah finansial dan pergantian manajemen klub yang tidak menentu. Meskipun banyak klub memiliki basis suporter yang fanatik, namun konsistensi performa di liga domestik selama bertahun-tahun masih menjadi barang mewah yang sulit diraih oleh tim-tim Liga 1.
Fenomena JDT juga menjadi cermin bagi klub-klub Indonesia untuk mulai memikirkan proyek jangka panjang. Penggunaan pemain asing yang berkualitas harus dibarengi dengan pengembangan akademi yang mumpuni agar ketergantungan pada pemain impor tidak menghambat perkembangan talenta lokal dalam jangka panjang.
Ke depan, JDT diprediksi akan terus berusaha memperlebar catatan rekor ini. Dengan dukungan fasilitas kelas dunia dan struktur organisasi yang matang, The Southern Tigers telah menetapkan standar baru yang kini menjadi patokan bagi klub-klub lain di kawasan ASEAN untuk mengejar ketertinggalan.
Langkah selanjutnya bagi JDT bukan hanya soal dominasi domestik, melainkan pembuktian di panggung Asia. Rekor dunia yang mereka pecahkan menjadi modal kepercayaan diri yang besar untuk menghadapi tantangan di level yang lebih kompetitif, seperti Liga Champions Asia, di mana mereka dituntut untuk menunjukkan kualitas yang sama.
Tren positif ini diharapkan dapat memicu kompetisi yang lebih sehat di kawasan. Ketika satu klub menetapkan standar performa yang tinggi, klub-klub lain di liga domestik mau tidak mau harus berbenah, meningkatkan kualitas infrastruktur, dan memperkuat skuad agar kesenjangan kualitas tidak semakin melebar di masa depan.