Rosiade Padel Tournament 2026 resmi mencatatkan diri dalam buku sejarah Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) setelah sukses menggelar turnamen padel seri gratis dengan jumlah peserta terbanyak serta total hadiah uang tunai terbesar. Penghargaan prestisius ini diserahkan langsung oleh Wakil Direktur Utama MURI, Osmar Semesta Susilo, kepada Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, dalam sebuah seremoni di Serpong, Tangerang Selatan, Sabtu (21/2/2026).
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan olahraga padel di Indonesia. Konsistensi penyelenggaraan turnamen sebanyak lima kali dalam satu tahun tanpa memungut biaya pendaftaran menjadi kunci utama di balik apresiasi tersebut. Langkah ini dianggap sebagai manifestasi nyata dalam mendorong gaya hidup aktif sekaligus memperkuat fondasi ekosistem olahraga yang relatif baru di tanah air.
Kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir dalam seri ketiga turnamen tersebut memberikan legitimasi kuat terhadap upaya pengembangan padel. Erick menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya sekadar ajang kompetisi fisik, melainkan juga instrumen penggerak ekonomi lokal, terutama bagi sektor UMKM yang terlibat di area sekitar penyelenggaraan.
Industri olahraga di Indonesia memang tengah mengalami transformasi signifikan. Padel, yang memadukan elemen tenis dan squash, kini tumbuh pesat di kota-kota besar seperti Jakarta. Pilihan Andre Rosiade untuk menggratiskan akses turnamen menjadi strategi jitu dalam memecah hambatan masuk bagi masyarakat yang ingin mencoba olahraga ini namun terkendala biaya.
Strategi jangka panjang yang dipersiapkan mencakup segmentasi peserta yang lebih terstruktur. Tidak hanya turnamen bersifat rekreasional, penyelenggara juga merancang kompetisi khusus muslimah serta kategori kelompok usia mulai dari U-10 hingga U-18. Pendekatan inklusif ini menjadi krusial untuk menjaring talenta muda sejak dini.
Lebih jauh lagi, kolaborasi dengan federasi internasional menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kualitas pemain lokal. Dengan menghadirkan standar International Padel Federation (FIP), baik melalui kategori FIP Bronze untuk senior maupun FIP Promises untuk junior, para atlet Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan poin peringkat dunia tanpa harus selalu bertanding ke luar negeri.
Analisis industri menunjukkan bahwa sport tourism memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal di Indonesia. Turnamen rutin seperti ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menjadi laboratorium bagi penyelenggara untuk menguji kesiapan infrastruktur olahraga nasional.
Erick Thohir secara terbuka mengapresiasi upaya ini dan mengakui bahwa mendapatkan rekor MURI bukanlah hal yang ringan. Ia berharap inisiatif serupa dapat direplikasi oleh berbagai pihak lain untuk memperkaya ekosistem olahraga nasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Andre Rosiade menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI). Baginya, target utama bukanlah sekadar rekor, melainkan lahirnya atlet-atlet berprestasi yang mampu membawa harum nama Merah Putih di kancah internasional melalui kompetisi yang berkesinambungan.
Ke depan, peta persaingan padel di Indonesia diprediksi akan semakin ketat dengan semakin banyaknya turnamen berstandar tinggi. Dukungan dari sektor swasta dan tokoh masyarakat menjadi katalisator bagi federasi untuk terus mempercepat pembinaan atlet.
Transformasi padel dari olahraga hobi menjadi cabang olahraga kompetitif di Indonesia kini berada di jalur yang tepat. Dengan dukungan regulasi dan turnamen yang rutin, masa depan padel nasional memiliki prospek cerah untuk sejajar dengan negara-negara yang lebih dulu mempopulerkan cabang olahraga ini.
Sebagai penutup, keberhasilan Rosiade Padel Tournament membuktikan bahwa sinergi antara semangat komunitas, keterlibatan tokoh publik, dan standar penyelenggaraan yang profesional mampu membawa perubahan nyata dalam peta olahraga nasional.