Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pemuda Jakarta (KMSPJ) secara resmi menyerahkan penghargaan Jakarta Youth Award (JYA) 2026 kepada atlet catur berbakat, Laysa Latifah. Seremoni penyerahan piala ini menjadi bentuk apresiasi nyata bagi mahasiswi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut atas dedikasi dan prestasinya di kancah catur nasional maupun internasional.
Penghargaan ini diberikan sebagai bagian dari rangkaian perayaan Sumpah Pemuda, yang bertujuan memantik semangat kompetitif generasi muda Indonesia. Kelik Widjonarko, selaku Ketua Panitia Pelaksana JYA 2026, menekankan bahwa keberhasilan Laysa diharapkan menjadi mercusuar inspirasi bagi mahasiswa lain agar berani mengejar prestasi di berbagai bidang.
Bagi ekosistem olahraga nasional, pengakuan terhadap atlet catur seperti Laysa memiliki urgensi tersendiri. Catur sering kali berada di bawah bayang-bayang olahraga populer lain, padahal intelektualitas dan ketahanan mental yang ditunjukkan atlet catur merupakan aset penting bagi pembangunan karakter bangsa.
Dukungan dari institusi pendidikan, dalam hal ini UNJ, menjadi kunci keberlanjutan karier atlet di masa depan. Wakil Rektor I UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, menyatakan komitmen penuh universitas untuk memfasilitasi pengembangan potensi mahasiswa, termasuk melalui kolaborasi strategis dengan penyelenggara JYA.
Salah satu wujud nyata dukungan tersebut adalah rencana penyelenggaraan lomba ekshibisi catur yang akan diintegrasikan dalam rangkaian Dies Natalis UNJ. Gagasan ini bertujuan menciptakan panggung bagi talenta muda untuk mengasah kemampuan langsung di bawah bimbingan atlet bergelar Woman Grandmaster (WGM) seperti Laysa.
Kolaborasi antara kampus dan organisasi masyarakat sipil ini menjadi model menarik dalam pengembangan bakat olahraga prestasi. Dengan mempertemukan komunitas, institusi pendidikan, dan praktisi, tercipta ekosistem yang lebih sehat bagi para atlet untuk terus berkembang tanpa harus mengorbankan pendidikan akademis mereka.
Laysa Latifah sendiri mengaku terkejut sekaligus terharu atas penghargaan yang diterimanya. Ia memandang JYA bukan sekadar simbol pencapaian pribadi, melainkan dorongan moral untuk terus mengharumkan nama Indonesia di arena catur dunia yang semakin kompetitif.
Secara makro, pemberian penghargaan ini merefleksikan pergeseran apresiasi terhadap pemuda yang berkontribusi di luar jalur politik atau birokrasi konvensional. Kehadiran tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus Karang Taruna hingga praktisi olahraga, menunjukkan bahwa Jakarta Youth Award berupaya memotret keberagaman bakat generasi muda saat ini.
Ke depannya, integrasi antara prestasi olahraga dan aktivitas kemahasiswaan harus terus diperkuat. Tantangan terbesar bagi atlet muda di Indonesia adalah menyeimbangkan tuntutan latihan intensif dengan kewajiban akademis, dan UNJ tampak mengambil langkah progresif dalam memecahkan dikotomi tersebut.
Proyeksi ke depan, keberhasilan inisiatif ini akan bergantung pada konsistensi pihak penyelenggara dalam menjaga relevansi penghargaan. Jika mampu dikelola dengan baik, JYA berpotensi menjadi ajang bergengsi yang memacu lahirnya talenta-talenta baru di berbagai sektor, tidak terbatas pada olahraga saja.
Sinergi yang dibangun antara UNJ dan KMSPJ ini diharapkan dapat direplikasi oleh universitas lain di seluruh Indonesia. Dengan memberikan ruang bagi atlet untuk unjuk gigi di lingkungan kampus, kita tidak hanya melahirkan juara di papan catur, tetapi juga pemimpin masa depan yang memiliki ketajaman berpikir dan kedisiplinan tinggi.
Pada akhirnya, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa prestasi adalah hasil dari kolaborasi panjang antara kerja keras atlet, dukungan institusi, dan apresiasi masyarakat. Laysa Latifah kini berdiri sebagai wajah baru kebangkitan pecatur putri Indonesia yang siap menantang panggung global dengan dukungan penuh dari tanah air.