Sepakbola

Ronaldo Target 1.000 Gol Sebelum Gantung Sepatu, Messi Masih Ragu Usai Ayah Meninggal

Ringkasan

  • Cristiano Ronaldo menargetkan musim 2026/27 sebagai terakhirnya sambil mengejar rekor 1.000 gol, sedangkan Lionel Messi belum memutuskan masa depannya usai kehilangan ayahnya.

Dua legenda sepak bola yang mendominasi dua dekade terakhir kini berhadapan pada babak penutup karier mereka masing-masing. Cristiano Ronaldo berusia 41 tahun dan Lionel Messi 39 tahun, keduanya sudah melampaui usia produktif pesepakbola profesional umum. Namun, jalur pensiun yang mereka tempuh tampak berlawanan arah.

Ronaldo yang kini berbaju Al Nassr telah menegaskan bahwa musim 2026/2027 kemungkinan besar menjadi musim terakhirnya. Kontraknya dengan klub Arab Saudi berakhir musim panas 2027, tepat saat ia berusia 42 tahun. Target pribadi yang ia tetapkan jelas: menyentuh angka 1.000 gol resmi. Saat ini ia masih butuh 23 gol lagi untuk mencapai milestone yang belum pernah diraih pemain manapun dalam sejarah sepak bola modern.

"Ini mungkin jadi musim terakhir saya sebagai pesepakbola, dan saya ingin meninggalkan sesuatu yang luar biasa," ujar Ronaldo dalam wawancara dengan majalah Vogue beberapa waktu lalu. Ia juga mengakui pengorbanan besar selama 25 tahun merumput di level tertinggi. Sikap tegas ini menunjukkan Ronaldo telah merencanakan exit strategy dengan matang, mengikat legacy-nya pada angka bulat yang ikonik.

Di sisi lain, situasi Messi lebih fluida dan emosional. Kontraknya dengan Inter Miami masih berjalan hingga musim panas 2028, namun keputusannya untuk melanjutkan Karriere tergantung pada kondisi mental pasca kehilangan ayahnya, Jorge Messi, yang meninggal dunia pada 7 Agustus 2024. Sang ayah bukan hanya orang tua, tapi juga agen dan pendamping seumur hidup yang selalu ada di sisinya sejak masa muda di Newell's Old Boys.

"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu, bagaimana aku akan melanjutkannya. Aku selalu cuma bermain sepakbola dan sekarang aku punya begitu banyak keraguan soal apa yang akan terus aku lakukan," tulis Messi di akun Instagram pribadinya. Ia bahuj mengajak ayahnya untuk "menunggu sebentar lagi" agar bisa mengakhiri perjalanan bersama-sama. Ungkapan itu mengungkap betapa dalamnya keterikatan emosional yang mengikat Messi pada sepak bola.

Rivalitas mereka yang memuncak di era Real Madrid versus Barcelona (2009-2018) telah membentuk narasi sepak bola global selama lebih dari satu dekade. Keduanya berbagi 13 Ballon d'Or dan mengumpulkan trofi hampir di setiap kompetisi yang diikuti. Di level timnas, Messi melengkapi koleksi dengan Piala Dunia 2022, Copa America, dan Finalissima. Ronaldo menjawab dengan Piala Eropa 2016 dan UEFA Nations League 2019.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini menandai akhir era "GOAT debate" yang mewarnai percakapan di warung kopi, media sosial, hingga kantor selama puluhan tahun. Generasi milenial dan Gen Z Indonesia tumbuh dewasa saksi bisu dominasi ganda ini — mereka tidak pernah mengenal dunia sepak bola tanpa Ronaldo dan Messi di puncak. Pensiun keduanya akan menciptakan kekosongan naratif yang sulit diisi oleh bintang baru seperti Kylian Mbappé, Erling Haaland, atau Jude Bellingham.

Dampaknya juga terasa di industri broadcasting dan sponsor lokal. Saluran TV dan platform streaming Indonesia yang selama ini mengandalkan daya tarik Liga Champions, La Liga, maupun liga Arab Saudi untuk menarik iklan, harus mulai mempersiapkan konten pasca-kedua legenda ini. Minat menonton liga Arab Saudi di Indonesia melonjak signifikan sejak Ronaldo bergabung, namun retensi penonton tanpa Ronaldo masih menjadi pertanda tanya.

Secara historis, langkah Ronaldo ke Arab Saudi pada Januari 2023 membuka gerbang eksodus bintang senior ke Timur Tengah. Neymar, Karim Benzema, N'Golo Kanté, dan Sadio Mané mengikuti jejaknya. Jika Ronaldo benar-benar pensiun 2027, proyek "Saudi Vision 2030" yang bertujuan menarik Piala Dunia 2034 kehilangan ikon utamanya. Messi di MLS memberikan dampak serupa — kehadiaannya menaikkan penjualan tiket, jersey, dan langganan Apple TV MLS Season Pass secara drastis.

Kedua klub mereka saat ini, Al Nassr dan Inter Miami, telah membangun ekosistem komersial di sekitar nama besar ini. Pensiun salah satu pihak akan memaksa klub untuk memivot strategi pemasaran. Al Nassr misalnya, sudah mulai membangun tim sekitar bintang muda seperti Aymeric Laporte dan Sadio Mané, tapi daya tarik global Ronaldo tidak tergantikan. Inter Miami pun telah merekrut Luis Suárez, Sergio Busquets, dan Jordi Alba untuk mendampingi Messi, menciptakan "reunion Barcelona" yang menarik nostalgia.

Proyeksi paling realistis menunjukkan Ronaldo akan pensiun duluan pada musim panas 2027, tepat setelah musim 2026/27 berakhir dan target 1.000 gol tercapai atau tidak. Messi kemungkinan besar akan mengevaluasi keputusannya di akhir musim MLS 2024 (Oktober 2024) atau musim 2025. Faktor kunci adalah apakah ia masih menemukan kegembiraan bermain tanpa figur ayahnya di tribun. Beberapa observator memprediksi Messi mungkin pensiun bareng Ronaldo sebagai simbolik penutup era, namun keputusan itu sepenuhnya ada di tangan pria yang pernah 8 kali meraih Ballon d'Or.

Apa pun jalannya, dunia sepak bola Indonesia dan global harus siap menghadapi era pasca-Ronaldo-Messi. Bukan hanya soal siapa pengganti di lapangan, tapi bagaimana industri sepak bola beradaptasi tanpa dua magnet perhatian global yang telah mendanai ekosistem seluruhnya selama dua dekade. Era baru akan dimulai, tapi jejak keduanya akan tetap menjadi tolok ukur kebesaran untuk generasi yang akan datang.

Mengapa Ini Penting

Berita ini bukan sekadar spekulasi pensiun dua bintang, tapi menandai pergantian era ekonomi sepak bola global. Indonesia sebagai pasar media olahraga terbesar di Asia Tenggara akan merasakan dampak langsung pada nilai hak siar, sponsor, dan minat menonton. Kehilangan dua 'magnet rating' sekaligus memaksa liga-liga lokal dan platform streaming untuk menciptakan naratif baru — tantangan yang lebih berat dari sekadar mencari pemain pengganti di lapangan.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
6 menit