Undian fase liga Liga Champions 2026/27 yang digelar di Grimaldi Forum, Monako, Kamis (27/8/2026) malam WIB menyimpan narasi dramatis bagi AS Roma. Giallorossi yang berada di pot 2 dijodohkan dengan Real Madrid di Stadion Olimpico dan Paris Saint-Germain di Parc des Princes — dua laga yang secara instan mengubah perhatian dari sekadar pertarungan poin menjadi panggung reuni bagi sosok-sosok legendaris di bangku cadangan.
Jose Mourinho kini mengayomi Real Madrid setelah masa jabatan tiga musim di Roma (2021-2024) yang menghadirkan trofi Conference League 2021/22 dan final Liga Europa musim berikutnya. Di sisi lain, Luis Enrique yang pernah mengekang Roma di musim 2011/2012 kini membawa PSG meraih dua gelar Liga Champions berturut-turut. Kedua pelatih ini meninggalkan jejak yang kontras namun sama-sama dalam di memori pendukung Giallorossi.
Latar belakang undian ini tidak terlepas dari format baru Liga Champions yang mengadopsi sistem liga tunggal 36 tim. Setiap klub akan bermain delapan laga — empat di kandang dan empat di tandang — melawan lawan dari pot yang berbeda. Roma sebagai perwakilan Italia di pot 2 mendapatkan proporsi lawan yang cukup seimbang antara raksasa Eropa dan tim menengah, namun kehadiran Madrid dan PSG mencuri perhatian utama.
Kedatangan Mourinho ke Stadion Olimpico akan menjadi momen paling dinanti. Pelatih asal Portugal itu memiliki hubungan emosional yang kompleks dengan Roma. Ia dibawa pulang ke final Eropa dua kali berturut-turut, namun musim terakhirnya berakhir dengan pemecatan di tengah ketidakstabilan hasil. Beberapa pemain inti Roma seperti Paulo Dybala dan Lorenzo Pellegrini pernah bermain di bawah naungannya, menciptakan dinamika psikologis yang menarik saat bertemu kembali sebagai lawan.
Sementara laga di Paris menghadirkan konteks berbeda. Luis Enrique membangun dinasti baru di PSG dengan gaya permainan posisional yang mematikan. Kemenangan dua gelar Champions berturut-turut menempatkannya sebagai pelatih tersukses di sejarah klub Prancis. Bagi Roma, bertemu Enrique kembali di markas lawan menjadi ujian karakter: apakah Giallorossi mampu mengalahkan arsitek keberhasilan PSG saat ini?
Di luar dua reunion utama, undian Roma juga menyimpan sub-plot menarik. Fenerbahçe yang diperkuat Mateo Guendouzi — bekas pemain Lazio yang kerap bercekcok dengan Dybala di derby Roma — akan datang ke Olimpico. Rivalitas antar kota yang dibawa mantan pemain lawan menambah rasa panas pada laga tersebut. Sementara Lille yang mengandalkan Calvin Verdonk, salah satu penggawa timnas Indonesia, akan tandang ke Roma, memberikan nuansa khas bagi penggemar sepak bola tanah air.
Susunan lengkap lawan Roma: Real Madrid (kandang), Paris Saint-Germain (tandang), Sporting CP (kandang), Manchester United (tandang), Lille (kandang), Fenerbahçe (tandang), Slovan Bratislava (kandang), dan AEK Athens (tandang). Jadwal ini menuntut manajemen skuad yang cermat dari pelatih saat ini, Claudio Ranieri, mengingat kepadatan kalender antara liga domestik dan kompetisi Eropa.
Dampak bagi sepak bola Indonesia terasa nyata lewat kehadiran Verdonk. Bek kanan kelahiran Den Haag itu telah menjadi pilar Lille dan timnas Garuda. Laga di Olimpico akan menjadi panggung besar baginya untuk menunjukkan kualitas di tingkat elit Eropa. Bagi penggemar Indonesia, ini momen langka: pemain naturalisasi beraksi di Liga Champions melawan klub besar seperti Roma.
Secara historis, Roma belum pernah memenangi Liga Champions. Penampilan terbaik mereka adalah finalis 1984 dan semifinal 2018. Format baru ini teoretis membuka peluang lebih luas untuk lolos ke 16 besar, namun undian berat di awal musim berarti Roma harus mengumpulkan poin sejak matchday 1. Kegagalan di laga-laga kunci terhadap Madrid atau PSG bisa mematikan harapan sejak dini.
Mourinho sendiri sebelum undian sempat dikabarkan menolak komentar soal kemungkinan reuni. Namun laporan Sky Sport Italia menyebut sejumlah pemain Roma justru berharap bertemu "The Special One" lagi. Hal ini mencerminkan rasa hormat yang tetap ada di ruang ganti, meskipun pemisahan berlangsung tidak mulus. Ranieri yang dikenal tenang dan pragmatis akan menjadi penyeimbang emosi di bangku cadangan Roma.
Ke depan, fokus Roma akan beralih ke persiapan pra-musim dan jendela transfer musim panas. Kekuatan skuad saat ini — Dybala, Pellegrini, Bryan Cristante, dan Evan Ndicka — cukup solid untuk bersaing, namun kedalaman bangku cadangan menjadi pertanyaan. Apakah manajemen akan merekrut pemain baru khusus untuk rotasi Liga Champions? Jawabannya akan menentukan nasib Giallorossi di musim yang penuh narasi ini.