Bagi sebagian besar penggemar sepak bola Mesir, keberhasilan Mohamed Salah membawa tim nasional lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2026 tidak lantas menghapus rasa kecewa atas kegagalan 'generasi emas' Mesir menembus ajang serupa pada edisi 2006, 2010, atau 2014. Perdebatan mengenai perbandingan kualitas antar generasi terus bergulir di kalangan pengamat dan suporter.
Ahmed Elshiekh, mantan pemain tim nasional yang kini menjadi analis sepak bola, menegaskan bahwa tidak adil membandingkan kedua era tersebut. Menurutnya, generasi emas yang dipimpin Mohamed Aboutrika memiliki kualitas luar biasa, bahkan sempat menaklukkan Italia, namun mereka kurang beruntung dalam babak kualifikasi yang begitu ketat dan kejam.
Mohamed Salah, sebagai kapten dan ikon sepak bola Mesir modern, memikul ekspektasi yang sangat besar. Kesuksesan gemilangnya bersama Liverpool di Liga Premier Inggris sering kali menjadi tolok ukur yang tidak realistis bagi publik Mesir saat ia berseragam tim nasional. Kegagalan demi kegagalan di Piala Afrika (AFCON) membuat beban di pundak Salah semakin berat.
Kekecewaan publik mencapai puncaknya setelah Mesir gagal di berbagai babak adu penalti krusial, terutama melawan Senegal. Insiden di mana Salah melewatkan kesempatan menendang penalti pada 2022 menjadi sorotan tajam yang memicu kritik keras dari para pendukung yang masih merindukan kejayaan masa lalu di bawah asuhan legenda seperti Aboutrika.
Situasi semakin memanas ketika Salah memutuskan untuk kembali ke Liverpool demi pemulihan cedera selama Piala Afrika 2023. Keputusan ini memicu kemarahan publik, termasuk dari Hossam Hassan, yang saat itu menjadi pengamat TV. Menariknya, tak lama setelah kritik tajam tersebut, Hassan justru ditunjuk menjadi manajer tim nasional Mesir untuk menggantikan Rui Vitoria.
Kini, di bawah kepemimpinan Hossam Hassan, tantangan besar menanti Salah. Ia harus membuktikan bahwa kepemimpinannya mampu menyatukan semangat tim nasional dan memberikan prestasi nyata, sekaligus berusaha keluar dari bayang-bayang nostalgia generasi emas yang terus menghantui eksistensi sepak bola Mesir di panggung dunia.