Dua raksasa Liga 1, Persib Bandung dan Arema FC, telah menyelesaikan urusan kuota pemain asing jauh sebelum peluit pembuka Super League 2026/2027 berbunyi. Per 22 Juli 2026, keduanya menjadi satu-satunya tim yang sudah memasang 11 nama asing di daftar skuad, menandakan kesiapan matang untuk berburu gelar.
Maung Bandung mempertahankan tulang punggung musim lalu dengan Mariano Peralta, Patricio Matricardi, dan Luciano Guaycochea yang tetap menjadi landasan tim. Luka Menalo, Berguinho, Julio Cesar, Ramon Tanque, Uiliam Barros, Gabriel Mutombo, Gakuto Notsuda, dan Balsa Sekulic melengkapi deretan bintang yang membuat Persib jadi favorit utama. Tak hanya itu, kehadiran Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen — dua naturalisasi Timnas Indonesia — menambah kedalaman skuad secara signifikan.
Di sisi lain, Arema FC membangun tim dengan nuansa Brasil yang kental. Betinho, Careca, Diego Landis, Gabriel Silva, Gustavo Franca, Gustavo Henrique, Joel Vinicius, Matheus Blade, Marcos Vinicius, dan Walisson Maia membentuk blok selatan yang solid, diperkuat Julian Guevara dari Argentina. Strategi rekrutmen yang homogen ini diyakini memudahkan adaptasi taktis di lapangan.
Kedua klub ini memanfaatka regulasi baru Liga 1 yang mengizinkan maksimal 11 pemain asing terdaftar, dengan ketentuan 7 orang boleh main bersamaan. Keputusan untuk mengisi kuota penuh sejak dini menunjukkan ambisi serius, sekaligus menghindari kerumitan administrasi di tengah musim.
Sementara itu, tiga klub lain mendekati kelengkapan. Bali United telah mengumpulkan 10 pemain asing, sedangkan Madura United dan Persebaya Surabaya masing-masing memiliki 9 nama. Bajul Ijo yang akan merayakan ulang tahun ke-100 pada 2027 tampil serius di bawah pelatih Bernardo Tavares, menargetkan dua slot tersisa untuk posisi strategis.
Kondisi kontras terlihat pada dua tim promosi, Garudayaksa dan Adhyaksa FC. Kedua klub baru tersebut hingga kini hanya mengumumkan satu pemain asing masing-masing. Keterbatasan jaringan scouting dan daya tarik finansial jadi hambatan utama bagi mereka yang harus berburu pemain di pasar sisa.
Yang paling menarik perhatian adalah gerakan Persija Jakarta. Klub kelahiran 1928 itu mendatangkan sejumlah pemain dengan rekam jejak gemilang di era Shin Tae Yong, baik di level klub maupun timnas. Meskipun jumlah kuota asing belum penuh, kualitas rekrutmen membuat Persija langsung diprediksi jadi pesaing paling berbahaya bagi Persib.
Shin Tae Yong dikenal memiliki mata tajam dalam menilai karakter dan kemampuan teknis pemain asing. Pengalaman ia melatih Timnas Indonesia dan U-23 memberikan wawasan mendalam tentang gaya main Liga 1. Pemain-pemain barunya dipastikan sudah difilter ketat agar cocok dengan sistem bermain yang ia idamkan.
Dampak ketidakseimbangan kuota ini akan terasa di awal musim. Klub yang sudah komplet bisa fokus pada latihan taktis dan pembentukan kimia tim, sementara yang belum harus membagi perhatian antara scouting, negosiasi, dan administrasi. Kesenjangan kesiapan ini sering jadi penentu posisi klasemen di babak pertama.
Secara historis, Persib dan Arema selalu jadi kandidat kuat gelar. Persib juara Liga 1 2023/2024, sedangkan Arema pernah mengangkat trofi 2022/2023. Kedua tim memiliki basis suporter masif yang menciptakan tekanan ekstra — sekaligus motivasi — bagi pemain asing untuk performa maksimal.
Musim depan juga menandai era baru dengan penerapan Video Assistant Referee (VAR) penuh di semua laga. Pemain asing dengan pengalaman bermain di liga Eropa atau Asia yang sudah menerapkan teknologi ini akan punya keunggulan adaptasi. Persib dan Arema justru kaya akan profil pemain dengan background tersebut.
Proyeksi ke depan, persaingan akan memanas di paruh kedua musim saat jendela transfer januari dibuka. Klub-klub yang kehabisan kuota tapi tidak puas dengan performa pemain tertentu akan melakukan mutasi. Sementara Garudayaksa dan Adhyaksa FC harus berburu pemain berkualitas di pasar bebas atau pinjaman untuk memperkuat tim menghindari degradasi.