Ribuan insan PNM dari Sabang hingga Merauke berkumpul di BRILiaN Stadium, Jakarta, Sabtu (22/8/2026) untuk menyaksikan Grand Final Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) PNM 2026. Ajang bertajuk "Sinergi dalam Prestasi, Membangun Bersama PNM" itu menghadirkan 277 atlet dan ofisial terbaik yang telah lolos seleksi ketat dari 58 cabang, kantor pusat, dan perusahaan anak.
Perhelatan ini bukan sekadar turnamen internal. Selama berminggu-minggu, karyawan yang sehari-hari mendampingi nasabah UMKM dan menggerakkan ekonomi kerakyatan bertransformasi menjadi pejuang di lapangan hijau, gelanggang bulu tangkis, meja tenis, hingga panggung seni dan arena digital. Direksi PNM sengat menempatkan PORSENI sebagai ritus penguatan budaya organisasi, bukan sekadar rekreasi tahunan.
Jalur menuju puncak ini dimulai pada 11 Juli 2026. Enam kota — Medan, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar — serentak jadi tuan rumah babak kualifikasi cabang olahraga fisik: Mini Soccer Putra, Bulu Tangkis, Tenis Meja, dan Padel. Sepekan kemudian, pertarungan bergeser ke ranah digital. Mulai 14 hingga 18 Juli, seluruh cabang tersambung lewat satu layar untuk E-sports Mobile Legends, Dance Competition, PNM Idol, Band Competition, dan Standup Comedy. Format hibrid ini memastikan tidak ada cabang yang terpinggirkan oleh jarak geografis.
Dari ribuan peserta yang mencurahkan keringat di babak awal, hanya 277 nama yang mengantongi "golden ticket" ke Grand Final. Angka itu mewakili rasio seleksi yang ketat, membuktikan bahwa setiap finalis telah melewati perebutan sengit di tingkat regional. Mereka tidak hanya mewakili cabang, tapi membawa harapan ratusan rekan kerja yang menonton dari kejauhan.
Membuka pesta puncak, Direktur Utama PNM Kindaris menegaskan bahwa hari itu bukan soal siapa pulang dengan trofi. "Hari ini adalah tentang merayakan perjalanan panjang yang telah mempertemukan insan PNM dari berbagai daerah, cabang, talenta, dan cerita dalam satu semangat kebersamaan," ujarnya di hadapan ribuan hadirin. Pesan itu menggeser paradigma kompetisi: menang itu indah, tapi proses menyatukan puluhan ribu karyawan di seluruh nusantara jauh lebih bernilai.
Kindaris menambahkan, benang merah PORSENI tahun ini adalah semangat "One PNM". Ada yang mengejar kemenangan, ada yang mengekspresikan kreativitas lewat seni, ada yang menang, ada yang kalah — tapi semua telah memberikan yang terbaik. "Di PNM, kita tidak hanya bekerja bersama. Kita tumbuh bersama, berjuang bersama, dan merayakan keberhasilan bersama," tegasnya. Frasa itu lalu jadi mantra yang diulang-ulang finalis saat berfoto di podium maupun saat berpelukan setelah laga.
Di tengah euforia, Kindaris menyisipkan pesan karakter yang keras: "Bertandinglah dengan hati. Junjung tinggi sportivitas. Menanglah dengan rendah hati dan terimalah kekalahan dengan lapang hati. Hasil pertandingan menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi sikap kita menentukan karakter kita." Kalimat itu terdengar seperti pengingat etos kerja yang juga berlaku di lapangan bisnis: integritas di atas segalanya.
Penyelenggaraan skala nasional ini mencerminkan komitmen PNM pada pengembangan sumber daya manusia holistik. Sebagai lembaga keuangan yang berfokus pada pemberdayaan UMKM, PNM memahami bahwa karyawan sehat, kompeten, dan solid adalah prasyarat layanan prima ke nasabah. PORSENI jadi investasi jangka panjang, bukan biaya operasional semata. Data partisipasi 58 unit kerja dan ribuan karyawan jadi bukti nyata budaya korporat yang hidup.
Format hibrid — fisik di enam kota lalu digital secara nasional — juga jadi studi kasus menarik bagi perusahaan besar lain di Indonesia. Banyak korporasi kesulitan menyatukan karyawan tersebar di ribuan pulau. PNM membuktikan teknologi bisa jadi jembatan, bukan penghalang, asalkan didesain dengan empati dan keadilan akses. Pilihan cabang olahraga populer (padel, mobile legends) serta seni kontemporer (standup comedy) menunjukkan pemahaman terhadap selera generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi tenaga kerja.
Sisi lain yang patut dicatat: PORSENI jadi platform penemuan bakat tersembunyi. Karyawan cabang terpencil yang tak pernah naik panggung besar kini punya ruang ekspresi. Band Competition dan PNM Idol, misalnya, mengeluarkan sisi artistik yang tak terlihat di laporan kinerja bulanan. Hal ini memperkaya profil karyawan: mereka bukan cek dan balik angka, tapi manusia utuh dengan passion di luar jam kerja.
Ke depan, tantangan PNM adalah mempertahankan momentum pasca-PORSENI. Semangat "One PNM" tak boleh mati saat lampu panggung padam. Integrasi nilai-nilai sportivitas, kolaborasi lintas cabang, dan apresiasi keberagaman harus diterjemahkan ke KPI operasional dan program engagement rutin. Jika berhasil, PORSENI 2026 tak hanya jadi kenangan manis, tapi titik balik budaya organisasi yang berkelanjutan.
Sejarah mencatat ini edisi kedua PORSENI skala nasional PNM. Catatan keringat, determinasi, dan kebanggaan kolektif 2026 ini akan jadi benchmark untuk edisi berikutnya. Bagi ribuan insan PNM yang hadir — baik di tribun maupun lewat layar — Sabtu (22/8) bukan akhir, tapi awal babak baru: bekerja sambil berolahraga, berkompetisi sambil bersinergi, membangun UMKM Indonesia sambil membangun diri sendiri.