Sepak Bola

Pelatih Mesir Tuduh Piala Dunia 2026 Direkayasa untuk Kemenangan Argentina

Pelatih Mesir Tuduh Piala Dunia 2026 Direkayasa untuk Kemenangan Argentina

Ringkasan

  • Pelatih Mesir Hossam Hassan menuding Piala Dunia 2026 telah diatur untuk memenangkan Argentina setelah timnya kalah secara kontroversial di babak 16 besar.

Pelatih tim nasional Mesir, Hossam Hassan, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Mesir melawan Argentina. Dalam pertandingan yang berlangsung sengit di Stadion Atlanta, Amerika Serikat, pada Rabu (8/7) dini hari WIB tersebut, Hassan secara terbuka menuduh bahwa turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia ini telah dirancang untuk memuluskan langkah Argentina meraih gelar juara.

Mesir sejatinya sempat tampil impresif dengan mendominasi jalannya pertandingan. Tim berjuluk The Pharaohs tersebut berhasil unggul dua gol lebih dulu melalui kontribusi Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan Mostafa Ziko pada menit ke-67. Keunggulan ini sempat membuat Argentina tertekan, namun situasi berubah drastis di sepuluh menit terakhir waktu normal.

Argentina mampu membalikkan keadaan dengan mencetak tiga gol hanya dalam kurun waktu 13 menit. Rentetan gol tersebut dicetak oleh Cristian Romero pada menit ke-79, disusul oleh sang kapten Lionel Messi pada menit ke-83, dan gol penentu kemenangan oleh Enzo Fernandez di masa injury time. Kebangkitan dramatis Argentina ini memicu kemarahan kubu Mesir yang merasa adanya ketidakadilan dalam keputusan wasit.

Hassan mengungkapkan kekecewaannya secara mendalam atas kepemimpinan wasit yang menurutnya merugikan perjuangan satu bangsa. Ia menyoroti beberapa insiden krusial, termasuk keputusan wasit untuk tidak meninjau VAR saat pemain Mesir diduga dilanggar oleh Alexis Mac Allister, serta pembatalan gol kedua Mesir yang ia anggap kontroversial. Baginya, keputusan-keputusan tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk keberpihakan sistemik.

Akibat protes kerasnya di pinggir lapangan, pelatih berusia 59 tahun tersebut sempat diganjar kartu kuning oleh ofisial pertandingan setelah melakukan gestur menyilangkan tangan yang dianggap provokatif. Namun, Hassan menegaskan bahwa ia tidak peduli dengan peringatan tersebut dan tetap teguh pada pendiriannya bahwa integritas pertandingan telah tercoreng oleh keputusan yang berat sebelah.

Kekalahan pahit ini membuat langkah Mesir di Piala Dunia 2026 terhenti secara prematur, sementara Argentina melaju ke babak perempat final untuk menghadapi Swiss. Pernyataan kontroversial dari Hossam Hassan ini kini menjadi sorotan dunia, memicu perdebatan luas mengenai penggunaan teknologi VAR dan kredibilitas kepemimpinan wasit dalam turnamen internasional skala besar seperti Piala Dunia.

Mengapa Ini Penting

Tudingan ini menyoroti kerentanan kepercayaan publik terhadap netralitas teknologi VAR dalam sepak bola modern. Bagi penggemar di Indonesia, isu ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana manajemen emosi pelatih dan transparansi keputusan ofisial dapat memengaruhi citra turnamen internasional di mata dunia.

Sumber Asli
Cnnindonesia
Tanggal
8 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit