Atlet para angkat besi kebanggaan Indonesia, Ni Nengah Widiasih, berhasil menyumbangkan medali pertama bagi kontingen Merah Putih di ajang Asian Para Games 2026. Berlaga di Nagoya City Trade and Industry Center, Jepang, pada Senin (19/10), Widi sukses mengamankan medali perunggu di kelas 41 kg putri dengan catatan angkatan terbaik seberat 97 kg.
Persaingan di kelas 41 kg putri kali ini terbilang sangat berat. Widi harus mengakui keunggulan atlet China, Cui Zhe, yang mencatatkan angkatan 120 kg, serta wakil Kazakhstan, Tursynay Kabyl, yang mengunci posisi kedua dengan angkatan 104 kg. Meski harus turun dari posisi perak yang biasa ia raih ke perunggu, pencapaian ini tetap menjadi torehan krusial bagi tim Indonesia di hari pertama kompetisi.
Bagi Widi, perunggu ini memiliki makna mendalam. Ia telah mempertahankan tradisi menyumbang medali di setiap edisi Asian Para Games sejak 2014. Namun, tantangan yang dihadapi atlet berusia 33 tahun ini di Jepang jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Faktor regenerasi atlet di kelas 41 kg kini mulai terasa dengan munculnya banyak talenta muda berbakat dari berbagai negara.
Strategi lawan pun menambah kesulitan di lapangan. Kehadiran Cui Zhe yang turun kelas dari 45 kg ke 41 kg memberikan tekanan ekstra bagi Widi. Sebagai peraih emas Asian Para Games 2022 di kelas 45 kg, Cui Zhe membawa standar kompetisi yang jauh lebih tinggi. Sementara itu, Tursynay Kabyl juga tampil konsisten setelah sebelumnya meraih perak pada edisi yang sama.
Kondisi fisik menjadi kendala utama yang menghambat performa maksimal Widi. Ia mengaku masih berjuang memulihkan cedera robek otot bahu yang dideritanya saat berkompetisi di Mesir akhir tahun lalu. Cedera tersebut membuat persiapan latihannya tidak berjalan 100 persen, sehingga ia harus menyesuaikan target angkatan demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Terlepas dari keterbatasan fisik, motivasi Widi tetap tinggi. Ia menargetkan perolehan poin maksimal di setiap sesi angkatan guna mendongkrak peringkat dunia. Hal ini krusial agar ia bisa mengamankan tiket menuju Paralimpiade Los Angeles 2028, yang ia proyeksikan sebagai panggung terakhir dalam karier profesionalnya.
Keberhasilan Widi meraih medali di tengah badai cedera membuktikan mentalitas juara yang ia miliki. Baginya, menjaga eksistensi di level elit dunia bukanlah perkara mudah, terutama saat harus berhadapan dengan atlet yang lebih muda dan bugar. Ia kini merasa perannya sudah bergeser layaknya seorang legenda yang menjadi acuan bagi para pendatang baru di cabang olahraga para angkat besi.
Dampak dari prestasi ini sangat signifikan bagi peta kekuatan olahraga disabilitas Indonesia. Konsistensi Widi selama lebih dari satu dekade memberikan inspirasi bagi atlet-atlet muda Indonesia untuk terus berjuang di panggung internasional. Selain itu, raihan medali di hari pertama ini diprediksi akan melecut semangat rekan setimnya di cabang lain untuk turut menyumbangkan medali bagi Merah Putih.
Saat ini, Widi telah mengalihkan fokusnya pada proses pemulihan intensif. Ia didampingi oleh tim medis dan fisioterapis profesional di Solo untuk memastikan bahunya kembali prima. Fokus utama adalah menjaga kondisi agar tetap kompetitif dalam kalender kualifikasi Paralimpiade yang semakin padat.
Proyeksi karier ke depan sudah mulai dipikirkan dengan matang oleh atlet asal Bali ini. Jika proses kualifikasi berjalan lancar, Paralimpiade LA 2028 akan menjadi penampilan kelima sekaligus penutup perjalanan kariernya di ajang olahraga tertinggi dunia. Widi berharap bisa mengakhiri pengabdiannya dengan catatan prestasi yang manis bagi Indonesia.
Keberhasilan menjaga tradisi medali ini menjadi bukti bahwa sistem pembinaan atlet para angkat besi Indonesia masih mampu bersaing di level Asia. Meskipun regenerasi menjadi tantangan nyata, pengalaman dan ketenangan Widi di bawah tekanan terbukti menjadi senjata ampuh untuk tetap berada di jajaran elit dunia.
Di masa depan, tantangan bagi Indonesia bukan hanya soal meraih medali, melainkan juga bagaimana menyiapkan suksesor yang mampu menggantikan peran Widi di masa mendatang. Pengalaman berharga yang dibagikan Widi kepada juniornya di pusat pelatihan nasional diharapkan mampu mempercepat proses transisi tersebut demi menjaga supremasi Indonesia di kancah para olahraga internasional.