Gary Neville tidak memakai kiasan halus saat menilai penampilan Argentina di laga puncak Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (19/7) waktu setempat. Mantan bek kanan Manchester United itu menilai Albiceleste bermain "seperti sampah" meski berhasil melaju ke final berturut-turut.
Spanyol mengalahkan Argentina 0-1 lewat gol Ferran Torres di menit ke-107 babak perpanjangan waktu kedua. Sepanjang 120 menit, La Roja mendominasi posse dan menciptakan peluang beruntun, sementara Argentina tertekan dan mengandalkan penyelamatan ganda Emiliano Martinez yang mencatat 10 kali stop krusial.
Kritikan Neville muncul di podcast The Overlap usai pertandingan. Ia mengakui pernah mengagumi mentalitas Argentina, tapi menilai pendekatan defensif di final justru mengekspos keterbatasan taktis. "Jika mereka bermain defensif dan menang, saya hormati. Tapi kemarin mereka bermain buruk, tidak punya kontrol, dan hanya bertahan hidup," ucapnya.
Komentar tajam itu memicu perdebatan hangat di media Inggris dan Argentina. Beberapa pengamat menilai Neville terlalu keras mengingat Argentina baru saja juara dunia 2022 dan finalis 2026. Namun, data xG (expected goals) mendukung argumen Neville: Spanyol mencatat 2.3 xG berbanding 0.4 xG Argentina, selisih terbesar dalam sejarah final Piala Dunia sejak 1966.
Di balik angka-angka itu, sosok Lionel Messi tetap jadi penyeimbang. La Pulga mencetak delapan gol di turnamen ini, termasuk hat-trick di semifinal lawas Prancis. Neville sendiri mengakui: "Tanpa Messi, Argentina bahkan sulit lolos fase gugur. Dia satu-satunya alasan mereka di sini."
Ian Wright, legenda Arsenal, menawarkan perspektif lebih empati. Ia mengaku sedih melihat Messi menangis usai laga, tapi jujur menyukai kemenangan Spanyol. "Spanyol bermain sepak bola yang indah, mereka pantas jadi juara," tutur Wright di ITV Sport.
Kemenangan Spanyol menandai gelar dunia pertama bagi La Roja sejak 2010. Pelatih Luis de la Fuente membangun tim berbasis possession dengan generasi emas baru: Lamine Yamal (17 tahun), Pedri (23), dan Nico Williams (22). Tiga pemain itu dikembangkan dari akademi La Masia dan La Fábrica, membuktikan sistem pengembangan pemain Spanyol tetap unggul.
Bagi Argentina, kekalahan ini mempertanyakan keberlanjutan era Lionel Scaloni. Pelatih berusia 46 tahun itu mengandalkan blok pertahanan tua — Otamendi (36 th), Tagliafico (32 th), dan Martinez (31 th) — tanpa regenerasi jelas di lini belakang. Sementara di sayap, tidak ada pengganti alami untuk Di Maria yang pensiun pasca-2022.
Messi sendiri belum memutuskan masa depan internasionalnya. Usia 39 tahun saat Piala Dunia 2026 berlangsung, ia masih menunjukkan fisik prima dengan 1.150 menit bermain penuh tujuh laga. Namun, beban taktis yang dibebankan Scaloni kepadanya — playmaker, penyerang, hingga pengejar pertama — tidak berkelanjutan.
Di sisi Indonesia, final ini menarik perhatian jutaan penggemar meski Garuda tidak lolos kualifikasi. Tayangan streaming di platform lokal mencatat puncak 4,2 juta penonton simultan, melebihi final 2022. Komunitas sepak bola Indonesia ramai membandingkan gaya bermain Spanyol dengan filosofi "possession-based" yang digalakkan PSSI di era Shin Tae-yong.
Secara historis, final 2026 jadi pertama kali dua juara dunia sebelumnya (Argentina 2022, Spanyol 2010) bertemu di laga puncak. Kemenangan Spanyol juga memastikan Eropa kembali mendominasi Piala Dunia: empat dari lima edisi terakhir diraih tim UEFA (Jerman 2014, Prancis 2018, Argentina 2022 pengecualian, Spanyol 2026).
Ke depan, perhatian beralih ke kualifikasi Piala Dunia 2030 yang akan digelar di tiga benua: Spanyol, Portugal, Maroko, Argentina, Uruguay, dan Paraguay. Argentina otomatis lolos sebagai tuan rumah bersama lima negara lain. Pertanyaan besar: apakah Messi masih ada di skuad? Dan apakah Scaloni mampu membangun tim baru tanpa bergantung pada satu bintang?