Lionel Messi memilih kembali ke akar untuk memulihkan kekecewaan. Kapten Argentina yang gagal mempertahankan gelar juara dunia terlihat santai di tribun stadion kecil Gabriela Mistral, Rosario, menyaksikan Central Cordoba de Rosario mengalahkan Leones 2-0 di laga playoff promosi Liga Primera C. Penampilan pertamanya pasca final 20 Juli di New York itu tidak disertai rombongan besar — hanya teman-teman dekat dan jaket hitam biasa yang menutupi jersey Inter Miami di bawahnya.
Kamera televisi Argentina menangkap ekspresi Messi yang terlihat jauh lebih rileks dibandingkan saat mengakui medali perak di MetLife Stadium. Dia tersenyum, bertegur sapa dengan penonton di sampingnya, dan sekali-kali mengibaskan tangan menghadapi sorotan ponsel. Tidak ada atribut bintang global — tidak ada bodyguard mengepung, tidak ada kendaraan mewah di parkiran. Hanya seorang pria 37 tahun yang menonton klub tempatnya bermain bola pertama kali sebagai anak.
Kekalahan 1-2 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 meninggalkan luka dalam. Argentina unggul melalui penalti Messi pada menit ke-34, namun Spanyol membalikkan situasi lewat gol Rodri dan Lamine Yamal di babak kedua. Messi finis turnamen sebagai runner-up pencetak gol terbanyak (6 gol) dan pemberi assist terbanyak (4 assist), statistik yang justru menegaskan dominansinya meski tim gagal di langkah terakhir. Ia menolak wawancara pasca laga, memilih diam di zona mixed zone sambil menatap kosong — gambaran yang kontras tajam dengan sosok yang selalu berterima kasih pada penggemar.
Pilihan pulang ke Rosario bukan kebetulan. Kota kelahirannya itu menyimpan memori masa kecil di Newell's Old Boys sebelum pindah ke La Masia Barcelona berusia 13 tahun. Central Cordoba, klub di mana ayahnya Jorge pernah menjadi pengurus, mewakili sisi paling murni dari perjalanan sepakbola Messi. Liga Primera C sendiri adalah divisi keempat sistem liga Argentina — jauh di bawah kilauan Liga Champions atau MLS. Namun kehadiran Messi justru mengangkat profil klub kecil tersebut ke panggung global dalam sekejap.
"Ini pengingat bahwa dia tetap manusia," ucap Juan Carlos, penonton berusia 58 tahun yang menonton dari tribun kayu sejak pagi. "Kita lihat dia di TV menang Piala Dunia 2022, tapi di sini dia cuma kami yang nonton bola mingguan. Itu bikin bangga." Sentimen serupa beredar di media sosial Argentina: video Messi menepuk tangan saat gol kedua Central Cordoba ditembakkan Mateo, anak laki-laki klub, viral dengan jutaan tayangan dalam jam.
Di sisi lain, jadwal padat menunggu di Miami. Inter Miami harus menjalani empat laga dalam 12 hari mulai 2 Agustus hingga 13 Agustus — satu pertandingan MLS dan tiga laga Leagues Cup. Pelatih Javier Mascherano sebelumnya mengkonfirmasi Messi diberi izin libur diperpanjang hingga 1 Agustus, dengan harapan fisik dan mental pulih sepenuhnya. Klub saat ini menempati puncak Konferensi Timur MLS, namun kepergian Messi ke Copa America lalu kemudian Piala Dunia 2026 membuat jadwal musim jadi sangat terkompresi.
Kondisi fisik jadi pertanyaan besar. Messi hanya bermain 78 menit rata-rata per partita di Piala Dunia 2026 karena manajemen beban pelatih Lionel Scaloni. Cedera otot hamstring yang mengganggu musim 2023-2024 berulang di paruh kedua turnamen, memaksa dia duduk di bangku cadangan semifinal lawan Prancis. Kini, dengan jeda hanya seminggu sebelum debut Leagues Cup, tim medis Inter Miami harus memutuskan apakah Messi langsung starter atau dipakai bertahap.
Popularitas Messi di Indonesia tetap tak terkoyak. Data Google Trends menunjukkan volume pencarian "Messi" melonjak 320% pasca final Piala Dunia 2026, melebihi puncak saat Argentina juara 2022. Komunitas penggemar di Jakarta, Surabaya, dan Bandung menggelar nonton bareng Leagues Cup meski jam tayang tengah malam WIB. Sponsor utama Inter Miami, Royal Caribbean, melaporkan peningkatan booking kruiser dari Asia Tenggara 18% sejak Messi bergabung 2023 — bukti daya tarik komersialnya melampaui performa di lapangan.
Namun, ada tantangan struktural. Liga Primera C tempat Central Cordoba bermain tidak memiliki siaran resmi di Indonesia. Jaringan penggemar bergantung pada streaming tidak resmi atau rekaman pendek di media sosial. Hal ini mencerminkan kesenjangan akses sepakbola grassroots global bagi penonton Indonesia yang terbiasa dengan Premier League atau Liga Champions. Beberapa platform lokal mulai mengeksplorasi hak siaran liga bawah Argentina, mengingat minat naik setelah kasus serupa Julian Alvarez di River Plate tahun 2022.
Mengarah ke depan, narasi Messi bergeser dari "pengejar trofi" menjadi "pelestari warisan". Kontraknya dengan Inter Miami berakhir Desember 2025, dengan opsi perpanjangan satu tahun. Spekulasi pensiun semakin keras, tapi penampilan di Rosario menunjukkan dia masih menikmati sepakbola tanpa beban ekspektasi. Bagi jutaan penggemar Indonesia yang mengikuti perjalanannya sejak era Barcelona, gambar Messi menonton bola di tribun kayu sambil minum mate dari termos kayu mungkin jadi kenangan paling tulus — jauh lebih manusiawi dari trofi apa pun.