Ketika Justin Hubner melontarkan sindiran bahwa Piala AFF hanyalah turnamen kecil, saya langsung teringat pada sebuah adagium lama dalam sepak bola: gelar adalah gelar. Tidak ada trofi yang lahir dari kekalahan, dan tidak ada prestasi yang pantas diremehkan oleh mereka yang gagal meraihnya. Sindiran Hubner bukan sekadar cuitan atlet internasional, melainkan cermin mentalitas yang mengakar di sepak bola Indonesia: sebuah budaya yang lebih suka merendahkan piala orang lain daripada membangun kualitas diri sendiri.
Pelatih Vietnam, Kim Sang Sik, merespon dengan kepala dingin. Dia menegaskan bahwa semua turnamen penting. Ini bukan soal pembelaan diri, melainkan sebuah filosofi yang membedakan tim yang sedang membangun dan tim yang hanya pandai berkoar. Vietnam, yang telah memenangkan Piala AFF dan kini tengah bersiap menatap laga melawan Kamboja, tahu bahwa setiap turnamen adalah panggung untuk menegaskan identitas. Sementara Indonesia, yang tersudut ke peringkat ketiga Grup A dan wajib menang atas Singapura, justru sibuk membicarakan nilai sebuah trofi.
Kita perlu membongkar akar masalahnya. Meremehkan Piala AFF adalah bentuk pembelaan diri yang paling transparan. Ketika tim nasional gagal bersaing di level yang lebih tinggi, ada dua pilihan: mengakui kekurangan dan bekerja ekstra keras, atau menurunkan standar nilai turnamen yang diikuti. Indonesia tampaknya memilih jalan kedua. Ini bukan soal Hubner semata, ini soal ekosistem. Kekalahan dari Vietnam di Piala AFF 2026 telah memunculkan narasi yang membahayakan: bahwa turnamen ini tidak penting, sehingga kegagalan di dalamnya bukanlah kegagalan yang sebenarnya.
Padahal, sejarah membuktikan bahwa Piala AFF adalah panggung yang melahirkan banyak pemain-pemain besar. Thailand, Singapura, dan Vietnam membangun fondasi timnas mereka dari turnamen ini. Mereka membawa pulang trofi, membangun kepercayaan diri, dan kemudian berekspansi ke level Asia. Sementara itu, Indonesia justru sibuk mengkambinghitamkan jadwal, melahirkan alasan bahwa Piala Presiden 2027 harus berubah menjadi turnamen timnas karena padatnya kalender klub. PSSI, di bawah Erick Thohir, telah mengumumkan perubahan besar ini, mengikuti jejak King's Cup Thailand. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah ini solusi atau justru pelarian?
Piala Presiden yang semula merupakan panggung pramusim klub, semacam laboratorium taktik dan mesin pemanas bagi tim-tim Liga 1, kini akan menjadi turnamen timnas. Keputusan ini diambil setelah Piala Liga hadir dan jadwal klub menjadi tumpang tindih. Namun, sebagai pengamat, saya melihat ini adalah ironi yang nyata. Alih-alih memperkuat kompetisi domestik, PSSI justru mengorbankan salah satu ajang yang paling dinanti oleh penggemar klub. Piala Presiden telah membawa kebahagiaan tersendiri, seperti yang baru saja dirasakan Persebaya setelah puasa gelar 22 tahun. Drama adu penalti melawan Persib di Stadion Kapten I Wayan Dipta adalah bukti bahwa turnamen ini memiliki emosi dan nilai yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ketika PSSI mengubah format, mereka kehilangan kesempatan untuk memperkuat basis kompetisi dalam negeri. Klub-klub Indonesia butuh lebih banyak pertandingan resmi untuk mengasah mentalitas dan taktik. Liga 1, Piala Liga, dan Piala Presiden seharusnya menjadi tiga pilar yang saling menguatkan. Dengan menghilangkan satu, mereka justru mengurangi ruang bermain bagi pemain muda dan pelatih lokal. Keputusan ini juga berpotensi memperlemah kualitas liga, yang pada akhirnya berimbas pada performa timnas. Kita tidak bisa membangun timnas yang kuat tanpa fondasi klub yang kokoh.
Mari kita bandingkan dengan tren di luar negeri. Diego Forlan baru saja ditunjuk sebagai pelatih Timnas Uruguay, menggantikan Marcelo Bielsa. Uruguay, yang memiliki tradisi sepak bola yang sangat kuat, tidak pernah meremehkan turnamen regional seperti Copa America. Sebaliknya, mereka menjadikannya sebagai batu loncatan. Mohamed Salah, yang kini bergabung dengan Trabzonspor, menegaskan bahwa misinya adalah membawa trofi juara, bukan mencari tempat untuk pensiun. Mereka semua memiliki satu kesamaan: menghormati setiap kompetisi yang mereka ikuti.
Kita juga harus melihat ke dalam diri sendiri. Marcus Rashford kembali ke Manchester United dan menargetkan untuk menembus 10 besar top skor sepanjang masa. Dia tidak mengecilkan nilai gol-golnya di liga domestik atau piala. Setiap gol adalah catatan sejarah. Setiap trofi adalah tonggak perjalanan. Jika para pemain top dunia menghargai setiap pencapaian, mengapa kita justru merendahkan Piala AFF? Ini adalah sebuah mentalitas yang membutuhkan perbaikan segera.
Sekarang, Indonesia menghadapi Singapura dalam laga hidup-mati. Kemenangan 4-2 di Piala AFF 2020 menjadi bekal, tetapi itu adalah masa lalu. Singapura, yang hanya membutuhkan satu poin, akan bertahan dengan rapi dan berusaha mengeksploitasi ruang. Pelatih Gavin Lee sudah menyiapkan jebakan untuk Mitchell Baker, striker kita. Kita wajib menang, dan kita harus menang dengan kepala dingin, bukan dengan omongan besar. Jika Indonesia gagal, maka sindiran Hubner akan menjadi bumerang yang sangat pedas.
Mari kita jadikan laga di Stadion Jalan Besar ini sebagai titik balik. Bukan untuk membuktikan bahwa Piala AFF penting, tetapi untuk membuktikan bahwa kita adalah tim yang layak dihormati. Kemenangan atas Singapura akan mengantarkan kita ke semifinal, dan dari sana, semuanya mungkin. Namun, jika kita tersingkir, maka kita harus melakukan introspeksi besar-besaran. Merendahkan turnamen tidak akan pernah mengubah hasil. Hanya kerja keras, disiplin, dan pengakuan yang jujur terhadap kelemahan yang bisa membawa kita maju.
Sepak bola Indonesia telah terlalu lama hidup dalam fatamorgana. Kita berbicara tentang target besar, tetapi gagal di panggung yang lebih kecil. Kita mengejek piala orang lain, sementara kita sendiri tidak pernah memiliki piala yang cukup. Sudah waktunya untuk berhenti meremehkan dan mulai menghargai setiap langkah. Karena di akhir hari, yang terlihat bukanlah seberapa besar kita berbicara, melainkan seberapa banyak yang kita menangkan. Dan kemenangan, sekecil apa pun, adalah fondasi dari kejayaan yang sesungguhnya.