Ada ironi yang menganga di wajah olahraga Indonesia pekan ini. Di satu sisi, kita merayakan kembalinya Nova Widianto sebagai nahkoda ganda campuran Pelatnas Cipayung, sebuah langkah yang diharapkan membangkitkan kejayaan sektor yang pernah melahirkan begitu banyak juara dunia. Di sisi lain, kita menyaksikan FIFA yang ingkar janji membayar dana warisan 1 juta dolar AS kepada 11 kota tuan rumah Piala Dunia 2026, dan pelatih Persib yang harus berteriak tentang risiko serangan jantung akibat jadwal padat Piala Presiden. Dari tiga peristiwa yang tampak berbeda ini, ada satu benang merah yang tak bisa kita elak: olahraga kita—dan dunia—sedang sakit karena tata kelola yang menomorsatukan kepentingan di atas kesejahteraan atlet dan akal sehat.
Kita mulai dari yang paling dekat. Penunjukan Nova Widianto adalah kabar baik, tetapi juga sebuah pengakuan telanjang bahwa pembinaan kita selama ini gagal. Jika kita harus memanggil kembali legenda untuk memperbaiki sektor yang pernah jaya, artinya ada yang salah dengan regenerasi. Ini bukan soal kapasitas Nova—ia jelas mumpuni, dengan pengalaman juara dunia dan jam terbang melatih di Malaysia. Tetapi, mengapa kita selalu berlari mundur ke masa lalu ketika masa depan tidak kunjung datang? Ini adalah pola pikir yang sama yang membuat kita terus menelan pil pahit di sepak bola, di mana kita lebih sering berharap pada keajaiban daripada membangun sistem.
Fenomena ini bukan monopoli Indonesia. FIFA, induk sepak bola dunia, baru saja memperlihatkan wajah aslinya. Janji lisan 1 juta dolar AS per kota untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat—yang konon untuk membangun warisan—menguap begitu saja. Ini bukan sekadar soal uang. Ini adalah bukti bahwa institusi olahraga terbesar di dunia pun tidak luput dari penyakit yang sama: menggunakan mimpi sebagai alat transaksi, lalu mengkhianatinya ketika sorot kamera sudah berpindah. Kota-kota tuan rumah itu telah menggelontorkan miliaran dolar untuk infrastruktur, dan balasannya hanyalah janji yang tak ditepati.
Sementara itu, di level domestik, Piala Presiden 2026 menyajikan drama yang lebih absurd. Persib dan Persebaya akan bertarung di final, dua tim yang tampil sempurna sepanjang turnamen. Namun, alih-alih merayakan puncak kompetisi, kita justru disuguhi keluhan pelatih Persib, Igor Tolic, yang menyebut jadwal hanya memberi dua hari istirahat bagi finalis. Ia bahkan berbicara tentang risiko serangan jantung. Ini bukan keluhan basa-basi. Ini adalah alarm bahwa kita masih memperlakukan atlet sebagai mesin pencetak gol, bukan manusia yang butuh pemulihan. Standar FIFA tentang minimal 72 jam istirahat antarpertandingan seakan hanya ada di atas kertas.
Kita bisa membandingkan dengan apa yang terjadi di Inggris. Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, dengan tegas mengatakan bahwa Liverpool belum layak juara karena skuadnya masih bolong. Kritik semacam ini adalah bagian dari ekosistem olahraga yang sehat. Di sana, analisis tajam dan tekanan publik dianggap sebagai bahan bakar untuk perbaikan. Di Indonesia, kritik sering kali dianggap sebagai pengganggu. Kita terlalu sibuk merayakan euforia kemenangan di Piala Presiden atau harapan lolos di Piala AFF, tanpa berani bertanya: apakah kita sedang membangun sesuatu yang berkelanjutan, atau hanya mengejar sensasi sesaat?
Lihat pula bagaimana kita memperlakukan para pembalap muda seperti Veda Ega Pratama. Ia menempati posisi keenam klasemen Moto3 dengan 90 poin—sebuah pencapaian yang luar biasa untuk pembalap Asia. Namun, di mana sorotan media dan dukungan sponsor? Kita lebih sibuk memberitakan duel tim sekelas Persib dan Persebaya yang notabene hanya turnamen pramusim, daripada mengangkat perjuangan atlet yang sedang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Ini cermin dari prioritas yang kacau: kita mengejar gemerlap, tetapi lupa pada substansi.
Persoalan tata kelola ini juga terlihat dalam cara kita menangani tim nasional. Laga penentu melawan Singapura di Piala AFF 2026 membawa kita pada nostalgia 2007 dan 2016—dua momen dengan hasil yang bertolak belakang. Kita suka meromantisasi masa lalu, tetapi gagal belajar darinya. Pada 2007, kita menang dan lolos; pada 2016, kita kalah dan tersingkir. Apa yang berbeda? Bukan hanya soal kualitas pemain, tetapi juga persiapan, manajemen, dan mentalitas. Jika kita terus mengulang pola yang sama—memanggil pelatih baru setiap dua tahun, mengandalkan naturalisasi, dan mengabaikan pembinaan usia dini—maka kita hanya akan menjadi penonton sejarah yang berulang.
Ada pelajaran penting yang bisa kita petik dari Xabi Alonso di Chelsea. Ia harus mengelola 46 pemain senior, sebuah skuad yang bengkak dan tidak efisien. Ini adalah gambaran dari apa yang terjadi ketika klub atau federasi tidak punya visi jangka panjang. Mereka menimbun pemain karena takut kehilangan, bukan karena membutuhkan. Hasilnya, ruang ganti penuh sesak, ego berbenturan, dan performa tim menurun. Di Indonesia, kita tidak jauh berbeda. Kita menimbun pelatih, menimbun pemain naturalisasi, dan menimbun turnamen, tanpa pernah berpikir untuk merampingkan dan fokus pada kualitas.
Maka, ketika Jorge Martin memimpin klasemen MotoGP dan bertekad mempertahankan takhta di Silverstone, atau ketika Carlos Alcaraz mundur dari Cincinnati Open karena cedera, kita harus bertanya: apakah kita sudah memberikan ruang yang cukup bagi atlet untuk pulih dan berkembang? Alcaraz, yang masih muda, sudah absen di tiga turnamen besar karena cedera. Ini bukan kegagalan fisik, melainkan kegagalan manajemen beban. Jika atlet sekelas Alcaraz bisa tumbang, apa yang akan terjadi pada atlet-atlet kita yang fasilitas pemulihannya jauh lebih minim?
Sudah saatnya kita berhenti menjual mimpi dan mulai membangun sistem. Federasi, klub, dan penyelenggara harus berani berkata jujur: bahwa kejayaan tidak datang dari nostalgia, melainkan dari perencanaan yang matang. Nova Widianto mungkin bisa membangkitkan ganda campuran, tetapi tanpa dukungan kurikulum pembinaan yang jelas, itu hanya akan menjadi proyek jangka pendek. FIFA mungkin ingkar janji, tetapi kita tidak bisa terus menyalahkan mereka; kita harus belajar untuk tidak bergantung pada janji asing. Dan untuk Piala Presiden, penyelenggara harus berani menempatkan kesehatan atlet di atas keuntungan komersial.
Proyeksi ke depan, jika tren ini terus berlanjut, kita akan melihat lebih banyak atlet yang cedera di usia muda, lebih banyak turnamen yang kehilangan kredibilitas, dan lebih banyak penggemar yang kecewa. Namun, ada secercah harapan. Kritik dari pelatih seperti Igor Tolic, atau analisis tajam dari Carragher, menunjukkan bahwa kesadaran mulai tumbuh. Publik mulai menuntut akuntabilitas. Jika tekanan ini terus dipelihara, mungkin suatu hari nanti kita akan melihat federasi yang benar-benar mendengarkan, bukan hanya berbicara. Sampai saat itu tiba, kita harus terus mengingatkan: bahwa di balik setiap trofi, ada manusia yang berkeringat dan berdarah. Menghormati mereka adalah langkah pertama menuju kejayaan yang sesungguhnya.