Media Vietnam Soha menempatkan Timnas Indonesia sebagai ancaman paling serius di Piala AFF 2026 yang akan digulirkan akhir tahun ini. Penilaian itu didasarkan pada performa tim Garuda di kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Indonesia menewaskan Vietnam 3-0 di kandang sendiri, Stadion My Dinh, Hanoi. Kemenangan telak itu meninggalkan kesan mendalam bagi timnas Vietnam dan pelatih Kim Sang-sik.
Dalam analisisnya, Soha menegaskan bahwa kehadiran sejumlah pemain naturalisasi berkualitas di skuad Indonesia mengubah lanskap sepak bola Asia Tenggara. "Jelas untuk mengatakan bahwa Indonesia yang punya skuad pemain naturalisasi akan jadi tantangan besar bagi pelatih Kim Sang Sik di Piala AFF," tulis portal berita Vietnam itu. Penilaian ini muncul meskipun Indonesia belum tentu bisa menurunkan 100 persen kekuatan terbaik.
Konteks sejarah menambah ketegangan rivalitas ini. Kim Sang-sik pernah menghadapi Indonesia di Piala AFF 2024, namun saat itu Timnas tidak menurunkan pemain-pemain andalan. Kini, dengan naturalisasi yang lebih matang dan beberapa bintang Eropa yang sudah beradaptasi di liga domestik, Indonesia dianggap memiliki kedalaman skuad yang jauh lebih mengancam. Soha khusus menyebut nama Thom Haye dan Ragnar Oratmangoen sebagai sosok yang masih terbayang bagi pemain Vietnam.
Kedua tim dijebak di Grup A yang sama, memastikan pertemuan langsung di babak gugur. Laga Indonesia versus Vietnam dijadwalkan digelar di Stadion Pakansari, Bogor — markas yang telah menjadi benteng Timnas dalam beberapa laga kualifikasi terakhir. Keuntungan kandang bagi Indonesia bisa menjadi faktor penentu, mengingat atmosfer suporter yang memihak dan kenangan kemenangan 3-0 di Hanoi masih segar.
Kendati demikian, Timnas Indonesia tetap menghadapi kendala klasik: ketersediaan pemain berbasis Eropa. Kalender FIFA yang tidak selaras dengan jadwal Piala AFF membuat klub-klub di Eropa enggan melepaskan pemain untuk turnamen regional. Namun, bedanya kali ini, sejumlah pemain naturalisasi seperti Rafael Struick, Thom Haye, hingga Ragnar Oratmangoen kini berkiprah di Liga 1. Kehadiran mereka di kompetisi domestik memastikan kebugaran dan kimia tim lebih terjaga dibanding musim lalu.
Dari sisi Vietnam, tekanan semakin besar. Kim Sang-sik harus membangun tim baru setelah era Park Hang-seo dan Philippe Troussier. Kemenangan 3-0 Indonesia di My Dinh bukan sekadar hasil buruk — itu membuka mata bahwa Vietnam tidak lagi dominan tanpa tawar. Beberapa pemain senior Vietnam telah pensiun atau melemah, sedangkan regenerasi masih dalam tahap transisi. Soha mengakui banyak pemain Vietnam yang "masih ingat" betapa dahsyatnya serangan Indonesia saat itu.
Analisis taktis menunjukkan Indonesia kini memiliki variasi serangan yang sulit diprediksi. Naturalisasi tidak hanya menambah kualitas individual, tapi juga menciptakan opsi taktis bagi pelatih Patrick Kluivert. Struick bisa bermain sebagai penyerang sayap atau false nine, Haye mengatur tempo di tengah, sementara Oratmangoen memberikan kecepatan di sisi kanan. Vietnam yang dulu andal bermain pressing tinggi kini harus hati-hati menghadapi tim yang nyaman memainkan bola.
Sejarah pertemuan terakhir di Piala AFF 2024 menunjukkan Indonesia kalah di final ganda lawan Vietnam. Namun, konteks saat itu berbeda: Indonesia bermain tanpa banyak naturalisasi dan masih dalam tahap adaptasi sistem Kluivert. Sekarang, setelah satu setengah tahun berbaring di bawah panduan pelatih asal Belanda, identitas bermain Timnas sudah lebih jelas: kontrol bola, tekanan tinggi, dan efisiensi di kotak penalti.
Bagi sepak bola Indonesia, Piala AFF 2026 bukan hanya soal trofi. Ini adalah ujian kematangan proyek naturalisasi yang sudah berjalan beberapa tahun. Jika Indonesia berhasil mengalahkan Vietnam di kandang sendiri, itu akan mengonfirmasi pergeseran kekuasaan di Asia Tenggara. Vietnam sudah lama jadi raja region, tapi Indonesia kini punya senjata untuk menantang takhta itu.
Pertemuan di Pakansari nanti akan jadi barometer nyata. Bukan hanya tiga poin, tapi juga psikologi. Vietnam yang pernah takluk 0-3 di kandang sendiri pasti masuk dengan mental balas dendam. Indonesia harus siap menghadapi tekanan ganda: ekspektasi suporter dan motivasi lawan. Kluivert harus pintar mengelola rotasi skuad, mengingak jadwal padat dan kebutuhan menjaga kebugaran pemain kunci.
Jangka panjang, rivalitas ini justru menguntungkan sepak bola Asia Tenggara. Persaingan ketat memaksa kedua federasi terus memperbaiki sistem: pengembangan muda, infrastruktur, hingga kualitas liga. Indonesia dengan Liga 1 yang semakin kompetitif dan Vietnam dengan V-League yang stabil menciptakan ekosistem yang saling mendorong. Piala AFF 2026 bisa jadi momen di mana dua raksasa region ini menunjukkan bahwa sepak bola Asia Tenggara sudah naik level.