Conor McGregor kembali menarik perhatian dunia MMA usai menggelar aksi kontroversial di konferensi pers UFC 329 di T-Mobile Arena, Las Vegas, Sabtu lalu. Sang 'Notorious' menyambut lawan lamanya, Max Holloway, dengan mencabut kacamata milik bekas juara bulu UFC itu lalu melemparkannya ke udara, memicu keramaian penonton yang memenuhi arena. Insiden itu terjadi saat face-off yang penuh tegangan, sebelum petugas keamanan memisahkan keduanya. McGregor, yang berusia 37 tahun, kemudian mengangkat dua sabuk kejuaraan UFC hiasan berwarna bendera Irlandia — simbol prestasinya sebagai petarung pertama dalam sejarah UFC yang meraih gelar dua kelas berat secara bersamaan pada 2015 (featherweight) dan 2016 (lightweight).
Kembalinya McGregor ke oktaagon menandai akhir vakum bertarung selama lebih dari tiga tahun sejak patah tulang kaki di laga trilogi melawan Dustin Poirier pada Juli 2021. Namun, jalan menuju UFC 329 jauh dari mulus. Nama McGregor tercoreng deretan kontroversi di luar kandang: gugatan perdata kekalahan atas tuduhan pelecekan seksual dari Nikita Hand di Dublin (diputuskan November 2024, banding ditolak Juli 2025), serta sanksi larangan 18 bulan dari USADA karena melanggar kebijakan anti-doping — ia gagal hadir pada tiga tes narkoba dalam 12 bulan hingga September 2024. Sanksi itu berakhir pada Maret 2025, membuka pintu comeback ini.
Meski begitu, daya tarik komersial McGregor tak tergoyahkan. Presiden UFC Dana White berani menilai laga ini akan mencatat "pintu masuk (gate) terbesar dalam sejarah UFC". Data internal menunjukkan penjualan tiket dan pay-per-view (PPV) pra-jual sudah melebihi rekor UFC 229 (McGregor vs Khabib), meski jumlah penonton Irlandia di konferensi pers tercatat lebih sedikit dan kurang vokal dibanding era puncak popularitasnya 2015-2018. Fenomena ini mencerminkan pergeseran naratif: McGregor kini dijual bukan lagi sebagai petarung tak terkalahkan, melainkan sebagai 'money fight' yang dijamin menggenjot pendapatan promotor, sponsor, dan mitra siaran global.
Sejarah laga pertama keduanya pada Agustus 2013 di UFC Fight Night 26 (Boston) menjadi latar naratif yang kaya. McGregor menang via keputusan wasit setelah mendominasi tiga ronde, meluncurkan nama ke panggung dunia. Kini, 12 tahun kemudian, Holloway (34 tahun) hadir sebagai mantan juara featherweight paling dihormati, dengan rekor pertahanan gelar terbanyak di divisi tersebut (4 kali) dan status 'BMF' (Baddest Motherfucker) unofficial usai menaklukkan Justin Gaethje. Holloway di konferensi pers terlihat tenang, sesekali tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar provokasi McGregor. "Dia punya dua sabuk, aku tak sabar mencabut keduanya dari tangannya," ujar Holloway santai, menambah api pertarungan psikologis.
Di sisi lain, Paddy Pimblett — bintang Inggris yang naik daun — tampil di co-main event melawan Benoit Saint-Denis. Pimblett, yang baru pulih dari kekalahan interim lightweight belt dari Justin Gaethje Januari lalu, diterima sorak penonton meski dia sendiri mengakui posisinya sebagai 'penyanyi pembuka' di belakang McGregor. "Kita semua bersenang-senang, penikmat olahraga menikmati ini," kata Pimblett, mencerminkan atmosfer pesta yang disengaja dibangun UFC untuk memaksimalkan engagement media sosial.
McGregor sendiri mengklaim kembali bukan demi uang — ia pernah jadi atlet tertinggi penghasil dunia 2021 dengan £128 juta setahun — melainkan "cinta pada olahraga ini". Ia bercerita hidup di gym selama kamp latihan, tanpa perjalanan jauh, dikelilingi petarung muda yang lapar posisi. Naratif 'redemption arc' ini sengaja dikemas untuk menarik simpati penonton netral dan melunakkan kritik soal masa lalu gelapnya. Namun, analis industri menilai UFC mengambil risiko reputasional besar: menempatkan pelaku kasus perdata kekerasan seksual dan pelanggar doping sebagai kepala acar acara terbesar tahunan.
Dampak ke Indonesia pun signifikan. Komunitas MMA lokal — yang tumbuh pesat usai sukses petarung seperti Jeka Saragih, Windy Niko, dan Themba Gorimbo di UFC — mengamati bagaimana UFC menyeimbangkan etika dan bisnis. Penayangan UFC 329 di platform streaming legal (seperti Disney+ Hotstar/Vidio) diprediksi pecah rekor penayangan di Asia Tenggara. Bagi sponsor lokal (perangkat keras, minuman energi, fashion), kemitraan dengan event McGregor menawarkan jangkauan masif, tapi juga risiko backlash jika kontroversi McGregor meledak kembali pasca-laga.
Kesimpulannya, UFC 329 bukan sekadar laga comeback; ini uji coba model bisnis UFC era baru: mengandalkan 'superstar kontroversial' untuk menutupi ketiadaan bintang baru setara Ronda Rousey atau Jon Jones di masa transisi. Jika McGregor menang meyakinkan, naratif 'kembali ke puncak' akan memanjatkan nilai PPV laga berikutnya (mungkin vs Ilia Topuria atau Islam Makhachev). Jika kalah, UFC tetap mengemas 'legend farewell tour' yang tetap menguntungkan. Bagi penggemar Indonesia, ini momen sejarah: menyaksikan apakah 'Notorious' masih punya sihir di tangan, atau hanya bayangan masa lalu yang dijual mahal.