Veda Ega Pratama menorehkan prestasi gemilang bagi motorsport Indonesia setelah menduduki posisi teratas sesi practice Moto3 Gran Prix Jerman 2026 di Sirkuit Sachsenring, Jumat (10/7) malam waktu Indonesia. Pembalap Tim Asia Talent Team itu mencatatkan waktu terbaik 1 menit 25,848 detik, berhasil menggeser Joel Esteban yang sempat memimpin sesi dalam menit-menit terakhir dengan margin tipis 0,008 detik saja.
Perjalanan Veda menuju puncak klasemen tidaklah mulus. Di awal sesi, ia sempat berada di posisi keempat di bawah Brian Uriarte, Matteo Bertelle, dan Hakim Danish. Namun, seiring berjalannya waktu, catatan waktunya di kisaran 1 menit 27 detik membuatnya tergelincir hingga posisi ke-19. Situasi semakin menantang ketika Veda masuk ke pit pada menit ke-16 dan posisi turun lagi ke urutan ke-21, sementara pemimpin klasemen dunia Maximo Quiles dan Guido Pini mengalami kecelakaan yang mewarnai seperempat jam sesi latihan bebas ini.
Kembalinya para pembalap ke lintasan delapan menit sebelum sesi berakhir menjadi momen krusial. Jesus Rios pertama kali memecahkan rekor sesi dengan 1 menit 25,904 detik, menggeser Uriarte dari puncak. Tidak lama berselang, Veda menunjukkan mental baja dan kecepatan murni dengan mencatat 1 menit 25,848 detik, sebuah peningkatan signifikan hampir satu detik penuh dibandingkan lap-lap awalnya. Lompatan 20 posisi dalam waktu singkat ini menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa pada karakteristik teknis Sachsenring yang dikenal sulit dengan 13 tikungan kiri dan hanya 4 tikungan kanan.
Posisi kedua diraih Joel Esteban dari tim CFMoto Aspar dengan ketinggalan 0,008 detik, diikuti Eddie O'Shea (GRYD - Mlav Racing) di urutan ketiga dengan selisih 0,035 detik. Jesus Rios dan Alvaro Carpe melengkapi lima besar, masing-masing tertinggal 0,056 dan 0,119 detik dari puncak. Ketatnya persaingan terlihat dari sepuluh pembalap teratas yang terpisah kurang dari 0,2 detik, menjanjikan sesi kualifikasi yang sangat kompetitif besok.
Prestasi ini menambah rangkaian hasil positif Veda di musim 2026. Sebelumnya, pembalap berusia 19 tahun ini telah meraih podium pertamanya di Moto3 pada putaran Catalunya dan konsisten finis di zona poin. Di klasemen dunia, ia saat ini menempati posisi enam besar, menjadikannya pembalap Asia terbaik di kategori entrance-class Grand Prix. Konsistensi performa di sirkuit-sirkuit berkarakter berbeda — dari Barcelona yang membutuhkan kecepatan kurva tinggi hingga Sachsenring yang menuntut presisi rem dan kelancaran alur — membuktikan kematangan racing craft-nya.
Dari sisi teknis, Sachsenring menuntut setup motor yang unik. Sirkuit pendek 3,671 km ini memiliki straight terpendek di kalender MotoGP (700 meter), membuat kecepatan puncak kurang krusial dibandingkan kemampuan percepatan keluar tikungan dan stabilitas rem. Honda NSF250RW yang dikendarai Veda dikenal memiliki keunggulan di area chassis dan handling, aset vital di trek yang 90% tikungannya berputar ke kiri. Kemampuan tim Asia Talent Team dalam menyetel geometri suspensi dan distribusi beban untuk mengoptimalkan wear ban kiri menjadi faktor penentu performa hari ini.
Kecelakaan yang menimpa Maximo Quiles, pemimpin klasemen dunia, menambah narasi menarik untuk weekend ini. Meskipun pembalap Spanyol itu keluar tanpa cedera serius, kerusakan motor memaksa tim CFMoto Aspar untuk mempersiapkan chassis cadangan untuk kualifikasi. Hal ini membuka peluang bagi Veda dan pesaing lain untuk memotong jarak di klasemen jika Quiles kesulitan menemukan feeling optimal besok. Namun, pengalaman Quiles di Sachsenring — di mana ia finish podium tahun lalu — tidak boleh diremehkan.
Bagi motorsport Indonesia, performa Veda hari ini merupakan lanjutan dari warisan pembalap-pembalap senior seperti Doni Tata Pradita, Dimas Ekky Pratama, dan Mario Aji. Berbeda dengan era sebelumnya di mana pembalap Indonesia sering berperan sebagai wildcard atau rider pengisi grid, Veda kini berkompetisi penuh sebagai rider pabrik didukung program pengembangan jangka panjang. Keberhasilannya di level dunia ini memberikan inspirasi bagi generasi muda di program pengembangan bakat seperti Idemitsu Asia Talent Cup dan Yamaha R3 bLU cRU Cup, menunjukkan bahwa jalur ke Grand Prix tidak lagi mustahil.
Fokus kini beralih ke sesi kualifikasi Sabtu (11/7) yang akan menentukan grid start balapan utama Minggu. Format kualifikasi Moto3 dengan dua sesi (Q1 dan Q2) menuntut konsistensi dan manajemen ban yang cermat. Veda, yang sudah terbukti cepat dalam kondisi single-lap attack, harus menghindari traffic di sektor tengah Sachsenring yang sempit. Jika ia mampu mengonversi kecepatan practice ini ke posisi grid depan — idealnya baris depan — peluang podium atau bahkan kemenangan pertamanya di Moto3 menjadi sangat realistis, mengingat karakter balapan Moto3 yang sering diputuskan oleh slipstream dan manuver di lap terakhir.