Islam Makhachev menambah sejarah karirnya dengan menjadi petarung kelima dalam sejarah UFC yang berhasil mempertahankan gelar di dua kelas bobot berbeda. Prestasi itu tercapai setelah ia mengalahkan Ian Machado Garry lewat keputusan hakim seragam pada laga utama UFC 315 di Montreal, Kanada, awal Agustus 2026. Kemenangan itu menutup rangkaian dua laga pertamanya di kelas welterweight dengan rekor sempurna dua menang nol kalah.
Meski rekornya bersih, ada satu statistik yang menarik perhatian: dari 27 kemenangan karir, 13 dicapai lewat submission. Namun di kelas welterweight, angka itu masih nol. Kedua lawan barunya, Jack Della Maddalena dan Ian Machado Garry, berhasil bertahan hingga gong terakhir dan memaksa Makhachev puas dengan poin hakim.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun di kelas ringan, Makhachev dikenal sebagai master grappling yang menakutkan. Ia mengoleksi empat kemenangan submission dari tujuh laga terakhir di divisi 70 kg, termasuk finish teknis atas Alexander Volkanovski dan Dustin Poirier. Ukuran tubuh lawan yang relatif setara memungkinkannya menguasai posisi tanah dan memaksakan will submissionnya.
Naik ke welterweight berarti menghadapi lawan yang secara fisik lebih besar, lebih kuat, dan lebih sulit dikendalikan di tanah. Della Maddalena dan Garry keduanya memiliki keunggulan jangka jangkau dan kekuatan fisik yang signifikan. Garry khususnya menunjukkan pertahanan takedown yang disiplin dan kemampuan bangkit cepat saat tergeletak, membatasi ruang gerak Makhachev untuk mencari submission.
"Mereka lebih bertenaga, laga jadi lebih sulit," ujar Makhachev usai laga lawan Garry. Pengakuan jujur itu langka dari petarung yang biasa mendominasi narasi pra-pertandingan. Ia juga menyebut Garry sebagai "petarung luar biasa" yang menghadirkan pertarungan tersulit baginya sejak lama.
Ketidakmampuan menyelesaikan lawan via submission tidak berarti performa Makhachev menurun. Sebaliknya, kemampuannya memenangkan ronde demi ronde dengan kontrol octagon, striking yang tajam, dan wrestling defensif yang solid justru menunjukkan adaptasi cerdas. Ia tidak memaksakan grappling berisiko tinggi, melainkan bermain aman dan efisien — ciri khas juara yang sadar batas fisik lawan.
Bagi lanskap MMA global, dominasi Makhachev di dua divisi meneguhkan posisinya sebagai pound-for-pound terbaik saat ini. Hanya BJ Penn, Randy Couture, Conor McGregor, Georges St-Pierre, dan Amanda Nunes yang pernah mencapai feat serupa. Fakta bahwa ia melakukannya dengan gaya yang berbeda — lebih striker di welterweight — menambah nilai sejarah pencapaian itu.
Di Indonesia, popularitas UFC terus meningkat seiring tayangan streaming dan komunitas fans yang aktif di media sosial. Pencapaian Makhachev menjadi bahan diskusi hangat di grup-grup pecinta MMA lokal, yang banyak membandingkan gaya adaptasinya dengan petarung Indonesia yang naik kelas bobot. Beberapa pelatih di Jakarta dan Bali pun mulai merujuk strategi Makhachev sebagai studi kasus bagi atlet nasional yang berencana naik divisi.
Tantangan berikutnya menunggu di horizon. Michael Morales, medali #3 ranking welterweight, dan Carlos Prates, pemegang ranking #1, disebut-sebut sebagai lawan potensial. Morales dikenal agresif dengan kekuatan KO mematikan, sedangkan Prates membawa striking teknis dan ketahanan mental yang diuji di laga-laga keras. Keduanya menawarkan ancaman fisik yang bahkan mungkin melebihi Della Maddalena dan Garry.
Tim Makhachev di American Kickboxing Academy pasti akan menyiapkan gameplan khusus. Kunci akan ada pada kemampuan menutup jarak tanpa terserang counter, serta variasi takedown yang tidak terduga. Jika submission tetap sulit dicapai, kemenangan lewat keputusan hakim atau ground-and-pound finish menjadi opsi realistis.
Satu hal pasti: era Makhachev di welterweight baru dimulai. Rekor 100 persen kemenangan adalah fondasi kuat, tapi ujian sesungguhnya akan datang saat ia menghadapi striker bergengsi seperti Morales atau Prates. Apakah dia bisa menambah kolom submission di kelas baru? Atau justru evolusi jadi striker-wrestler serbaguna yang justru lebih menakutkan? Jawabannya akan menentukan warisan akhir sang juara Dagestan.