Jalan Masjid Al-Mustaqim di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, selama lebih dari sebulan bertransformasi menjadi arena sepak bola mini yang memeriahkan sore-sore warga. Turnamen Liga Sore Al-Mustaqim yang digelar 19 Juli hingga 23 Agustus 2026 melibatkan enam tim yang mewakili RW 07 dan RW 02, seluruhnya mengusung nama negara peserta Piala Dunia 2026.
Pertandingan final mempertemukan RD Kongo dan Uzbekistan di hadapan puluhan penonton warga yang duduk di tepi jalan. RD Kongo menunjukkan dominasi penuh sejak menit awal, mencetak sepuluh gol dibalas empat oleh lawan. Kemenangan telak itu mengantarkan mereka ke puncak klasemen serta menghadirkan gelar juara pertama dalam sejarah turnamen ini.
Di balik kesederhanaan lapangan yang hanyalah jalan aspal di depan masjid, tersimpan semangat komunitas yang luar biasa. Panitia turnamen, yang dibentuk oleh pengurus takmir masjid dan tokoh RW, sengaja mengadakan kompetisi ini untuk mengisi waktu luang anak-anak saat libur sekolah serta menjauhkan mereka dari pengaruh negatif lingkungan. Biaya operasional dikumpulkan secara gotong royong dari iuran warga dan sponsor lokal berupa toko kelontong hingga bengkel motor.
Pemilihan nama tim berdasarkan negara peserta Piala Dunia 2026 bukan tanpa alasan. "Kami ingin anak-anak merasakan nuansa pesta dunia, meski hanya bermain di jalan kampung," ujar salah satu panitia, Bapak Haji Rohman, saat ditemui di lokasi. Setiap tim juga dibekali seragam lengkap berwarna bendera negara yang diwakili, lengkap dengan nomor punggung yang dicetak secara mandiri.
Format turnamen dirancang sederhana namun kompetitif. Enam tim berlaga sistem putaran satu babak, dua besar lolos ke semifinal, lalu final. Pertandingan dimulai pukul 15.30 WIB setelah sholat Ashar, memanfaatkan cahaya matahari yang mulai redup serta lampu jalan yang diperkuat proyektor pinjam warga. Durasi pertandingan 2 kali 20 menit dengan aturan futsal dimodifikasi: tim masing-masing lima orang, tanpa offside, dan ganti pemain bebas.
Kejayaan RD Kongo tidak terlepas dari performa gemilang Fariz, penyerang sayap kanan berusia 13 tahun yang mencetak 17 gol sepanjang turnamen. Ia juga dicatat memberikan lima assist, menjadikannya playmaker sekaligus penyerang utama. Fariz, yang sekolah di SMP negeri terdekat, mengakui latihan rutin di lapangan tanah dekat rumah serta menonton video teknik Lionel Messi di YouTube menjadi bekal utamanya.
Fenomena Liga Sore Al-Mustaqim mencerminkan realita sepak bola grassroots di Indonesia: minim fasilitas, tapi kaya semangat. Data Kemenpora menunjukkan hanya 12 persen desa di DKI Jakarta memiliki lapangan standar FIFA. Sisanya bergantung pada ruang terbuka hijau sempit, halaman sekolah, hingga jalan raya seperti kasus ini. Turnamen sejenis justru menjadi inkubator alami bakat tanpa biaya mahal akademi swasta.
Sejumlah pelatih muda dari klub Liga 1 seperti Persija dan Persitara hadir mengamati final, mencari bibit potensial untuk tim U-14 hingga U-16. Kehadiran mereka menandakan pengakuan industri terhadap ekosistem sepak bola jalanan. "Kita tidak bisa hanya andal scouting di turnamen resmi. Banyak permata tersembunyi di liga RT/RW," tutur seorang scout Persija yang menolak disebut nama.
Dampak sosial turnamen ini terasa nyata bagi warga. Keamanan lingkungan meningkat karena anak-anak sibuk berlatih sore hari. Ibu-ibu RT memanfaatkan momen jualan kue dan minuman di pinggir lapangan, menambah pundi-pundi kas RT. Anak-anak yang tadang main gadget kini berlomba meminjam bola untuk latihan mandiri di halaman rumah.
Panitia sudah merencanakan edisi kedua tahun depan dengan ekspansi ke RW tetangga serta penambahan kategori usia U-10 dan U-16. Usulan pengajuan dana ke Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Jakarta Selatan sedang disiapkan untuk pembangunan lapangan mini permanen di lahan wakaf masjid seluas 400 meter persegi. Targetnya, Liga Sore bisa jadi model turnamen kelurahan yang direplikasi se-Jabodetabek.
Kisah Liga Sore Al-Mustaqim mengingatkan bahwa fondasi sepak bola Indonesia tidak dibangun di stadion megah, melainkan di jalanan berlumpur, di antara motor parkir dan warung kopi. Di sinilah mimpi jadi pemain profesional mulai ditanam, satu tendangan bola karet pada satu waktu.