Chelsea memetik kemenangan drama 3-2 atas Fulham di Craven Cottage, Selasa dini hari WIB. Meski mengumpulkan tiga poin, penampilan kiper Robert Sanchez kembali jadi sorotan tajam dari mantan pemain Liverpool Jamie Carragher. Komentar Carragher di BBC Sports menggelegar media Inggris: Chelsea tidak akan pernah menjuarai liga dengan Sanchez di bawah mistar gawang.
Laga di kandang Fulham memang menegangkan. Joao Pedro membuka keunggulan Chelsea sejak menit pertama, sebelum Josh King menyamakan kedudukan pada menit ke-23. Morgan Rogers dan Cole Palmer menembakkan gol ke-2 dan ke-3 untuk The Blues, namun Goncalo Garcia mengecilkan selisih pada menit ke-54. Selama 90 menit, Sanchez terlihat gugup di beberapa penyelamatan dan gagal mengamankan clean sheet.
Statistik musim lalu memperkuat argumen Carragher. Sanchez kebobolan 47 kali dalam 35 penampilan Premier League dan hanya mencatat sembilan clean sheet. Angka itu menempatkannya di bawah rata-rata kiper tim-tim puncak klasemen. Untuk konteks, Ederson Manchester City dan Alisson Liverpool secara konsisten mencatat clean sheet di atas 15 kali per musim saat tim mereka berkompetisi untuk gelar.
Carragher menarik paralelis historis yang keras. "Pep mendatangkan Ederson, Alisson masuk untuk Liverpool, dan Arsenal tidak akan menjuarai liga jika mereka memiliki Ramsdale di gawang dan bukan Raya," ujarnya. Tiga contoh itu menunjukkan pola: tim juara Premier League era modern selalu didukung kiper kelas dunia yang mampu mengubah hasil seri menjadi kemenangan, dan mencegah kekalahan tak perlu.
Kritik ini bukan pertama kali. Sejak musim 2023/2024, Sanchez sering jadi sasaran protes penggemar Chelsea karena kesalahan individual yang mengubah momentum pertandingan. Meskipun sempat ditantang kehadiran Djordje Petrovic, manajer Enzo Maresca tetap mempercayakan Sanchez sebagai pilihan utama. Keputusan itu kini diuji di awal musim baru.
Di sisi lain, Sanchez memiliki rekam jejak trofi yang tidak bisa diabaikan. Ia membawa Chelsea juara Piala Dunia Antarklub dua kali berturut-turut, musim 2024/2025 dan 2025. Prestasi itu membuktikan kemampuannya di panggung internasional, meski format turnamen pendek berbeda dengan tekanan marathon 38 pekan Premier League.
Perbandingan dengan David Raya di Arsenal relevan. Raya direkrut pinjaman lalu dibeli tetap setelah menunjukkan stabilitas dan distribusi bola yang mendukung sistem Mikel Arteta. Arsenal yang musim lalu dekat meraih gelar, kini punya fondasi gawang yang lebih solid. Chelsea sebaliknya tampak ragu-ragu menentukan arah jangka panjang di posisi kiper.
Dari perspektif taktis, sistem Maresca yang mengedepankan permainan dari belakang (build-up play) membutuhkan kiper nyaman bermain dengan kaki. Sanchez memiliki kemampuan distribusi baik, tapi keputusan di bawah tekanan sering memancing bahaya. Lawan sudah mulai mengeksploitasi kelemahan ini dengan pressing tinggi yang memaksa kesalahan.
Pasar transfer musim panas 2026 sebenarnya menawarkan opsi. Beberapa kiper profil tinggi seperti Giorgi Mamardashvili atau James Trafford tersedia, namun Chelsea memilih memperkuat lini lain. Keputusan ini kini menimbulkan pertanyaan: apakah manajemen percaya Sanchez bisa berkembang, atau mereka menunggu momen tepat untuk merekrut pengganti?
Carragher menegaskan: "Itu tidak akan terjadi." Frasa itu berbobot karena datang dari mantan pemain yang mengenal tekanan gelar juara. Liverpool era Jurgen Klopp hanya bertransformasi jadi kandidat juara konsisten setelah Alisson tiba. Chelsea era Maresca mungkin menghadapi dilema serupa.
Ke depan, jadwal Chelsea semakin menakutkan. Pertemuan dengan Manchester City, Arsenal, dan Liverpool dalam bulan depan akan jadi ujian nyata. Jika Sanchez gagal memberikan clean sheet di laga-laga besar, tekanan untuk merekrut kiper baru di window Januari akan tak terhindarkan. Sejarah Premier League mengajarkan: gelar juara dibangun dari fondasi gawang yang tak tergoyahkan.