Jerman saat ini tampak sedang menghadapi krisis identitas yang mendalam, bukan sekadar kehilangan rupa, melainkan kehilangan keberanian untuk menentukan jati diri yang ingin mereka tampilkan ke dunia. Fenomena ini menarik untuk dibedah melalui kacamata filsafat bahasa, khususnya teori 'picture theory' dari Ludwig Wittgenstein dalam bukunya Tractatus Logico-Philosophicus. Wittgenstein berpendapat bahwa bahasa adalah simbol yang harus memiliki keterikatan logis dengan fakta di dunia nyata, layaknya sebuah peta yang menggambarkan realitas.
Dalam dunia sepak bola, setiap negara memiliki julukan yang berakar pada budaya, warna, atau sejarah yang konkret. Brasil dikenal sebagai tim Samba karena identitas tariannya, Belanda dijuluki De Oranje karena warna kebesaran mereka, dan Inggris disebut The Three Lions merujuk pada lambang asosiasi sepak bola mereka. Julukan-julukan ini menjadi representasi logis yang membedakan satu tim dengan tim lainnya di mata dunia.
Sebaliknya, tim nasional Jerman kini terjebak dalam pencarian jati diri yang membingungkan. Penggunaan istilah 'Die Mannschaft' yang sempat populer justru dianggap gagal merepresentasikan identitas yang unik. Dalam kerangka berpikir Wittgenstein, istilah tersebut tidak memiliki keterikatan langsung dengan fakta sejarah atau budaya yang membedakan Jerman dari negara-negara lain, sehingga ia kehilangan kekuatan simbolisnya.
Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) akhirnya memutuskan untuk menghapus istilah 'Die Mannschaft' secara resmi pada Juli 2022. Keputusan ini diambil setelah istilah tersebut menuai kritik karena dianggap terlalu korporat, terkesan arogan, dan kurang mendapat tempat di hati para penggemar lokal maupun pemangku kepentingan sepak bola di Jerman.
Penghapusan istilah yang telah digunakan sejak tahun 2015, tepat setelah Jerman menjuarai Piala Dunia 2014, menjadi cerminan dari kondisi pelik yang dialami sepak bola Jerman saat ini. Mereka sedang mencoba melepaskan diri dari citra yang dipaksakan dan mencari kembali akar tradisi yang lebih autentik untuk menggambarkan karakter tim di lapangan hijau.
Pada akhirnya, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan sebuah bahasa universal yang membawa nilai-nilai identitas sebuah bangsa. Bagi Jerman, tantangan ke depan adalah merumuskan kembali simbol yang tidak hanya estetis secara pemasaran, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan keterikatan emosional yang kuat dengan sejarah panjang bangsa tersebut.