Piala Dunia mendatang yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada memperkenalkan perubahan aturan yang signifikan, yakni penerapan 'hydration breaks' atau jeda hidrasi selama tiga menit. Jeda ini dijadwalkan berlangsung pada menit ke-22 dan ke-67 dalam setiap pertandingan. Meskipun FIFA secara resmi membingkai kebijakan ini sebagai langkah untuk menjaga kesejahteraan pemain di tengah suhu ekstrem, penerapan aturan ini tetap dilakukan terlepas dari kondisi cuaca di lapangan, bahkan pada hari dengan suhu yang relatif sejuk.
Kebijakan ini memicu gelombang kritik dari para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Banyak pihak berargumen bahwa jeda tiga menit tersebut sebenarnya hanyalah kedok untuk menciptakan slot iklan tambahan bagi penyiar. Dalam dunia sepak bola yang identik dengan durasi permainan yang mengalir tanpa henti selama 90 menit, interupsi terencana ini dianggap mengganggu ritme dan esensi dari olahraga itu sendiri.
Sejarawan sepak bola terkemuka, David Goldblatt, mempertanyakan durasi tiga menit yang diberikan. Menurutnya, kebutuhan untuk minum air tidak memerlukan waktu selama itu. Spekulasi pun berkembang bahwa kebijakan ini memberikan keuntungan finansial besar bagi pemegang hak siar, seperti Fox di Amerika Serikat, yang diperkirakan mampu meraup pendapatan iklan hingga ratusan juta dolar dari jeda tersebut.
Secara ekonomi, Piala Dunia 2026 diproyeksikan menjadi mesin pencetak uang bagi FIFA. Dengan pendapatan dari hak siar yang diperkirakan mencapai 3,9 miliar dolar AS dan tambahan 1,8 miliar dolar AS dari sponsor, turnamen ini menjadi panggung komersial raksasa. Analisis dari WARC Media memprediksi bahwa ajang ini akan menyuntikkan sekitar 10,5 miliar dolar AS ke dalam pasar iklan global.
Para ahli olahraga menilai fenomena ini sebagai bentuk 'Amerikanisasi' dalam sepak bola. Mark Dyreson, seorang profesor sejarah olahraga di Penn State, menyebut bahwa pergeseran ini adalah langkah bisnis yang dianggap normal oleh FIFA, meskipun sering kali memicu kekecewaan bagi para purist atau penggemar sepak bola tradisional yang telah terbiasa dengan format klasik selama lebih dari 150 tahun.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai jeda hidrasi ini mencerminkan tarik-ulur yang lebih besar mengenai masa depan sepak bola sebagai produk komersial. Transformasi yang terjadi pada Piala Dunia 2026 bukan sekadar perubahan teknis di lapangan, melainkan indikasi kuat bahwa sepak bola global sedang bergerak menuju model hiburan yang lebih berorientasi pada profit di bawah pengaruh ekosistem media dan pemasaran modern.