Olahraga

Kegagalan Celtic di Liga Champions: Kapten McGregor Sebut Rekan 'Takut' Usai Kehancuran 4-0

Ringkasan

  • Celtic gagal melaju ke babak playoff Liga Champions usai dikalahkan LASK 5-1 di Linz, mengubah keunggulan 4-0 dari leg pertama menjadi kekalahan 6-5 agregat.

Kapten Celtic Callum McGregor tidak memakai bahasa diplomatik usai timnya mengalami kejatuhan memalukan di tangan LASK pada Rabu dini hari. Pemain berusia 31 tahun itu menuding rekan satu timnya sebagai "pasif" dan "takut" saat keunggulan empat gol hilang dalam waktu singkat. Komentar tajam itu keluar dari mulut pemain yang telah menelan pil pahit Eropa selama hampir satu dekade, dari kekalahan 7-1 lawan Borussia Dortmund hingga eliminasi play-off berulang lawan Midtjylland, Ferencvaros, AEK Athens, dan Cluj.

Pertandingan di Raiffeisen Arena berlangsung sebaliknya dari skenario yang dibayangkan kebanyakan orang. Celtic membuka keunggulan 4-0 agregat lewat gol McGregor sendiri pada menit ke-23, namun gol Benjamin Nygren yang melahirkan kemenangan LASK 1-0 pada menit ke-32 memulai gelombang keruntuhan. Tiga menit setelah istirahat, Auston Trusty kehilangan bola di area berbahaya dan LASK mencetak gol kedua. Pada menit ke-65, gol ketiga tuan rumah membuat tim Scotland itu lumpuh total.

Data statistik memperparah gambaran kekacauan: LASK mencatat 40 tembakan ke gawang Celtic sepanjang dua leg, 33 di antaranya terjadi di leg kedua. Celtic tidak mencatat satu pun tembakan ke gawang di babak kedua hinggaakhir babak tambahan. Pelatih Brendan Rodgers mengeluarkan lima pengganti dalam rentang 12 menit — langkah panik yang tak memberdayakan. Cameron Carter-Vickers dan Kasper Hogh bermain dengan cedera, sementara lini belakang tersisa Anthony Ralston, Dane Murray, Trusty, dan Liam Scales tergerus gelombang serangan.

Kegagalan ini bukan kejadian isolasi. Sejak musim 2015-16, Celtic telah gagal lolos ke fase grup Liga Champions sebanyak tujuh kali dalam delapan percobaan. Hanya pada 2016-17 dan 2022-23 mereka berhasil menembus fase grup, dan keduanya berakhir di pangkat bawah grup tanpa kemenangan. Pola yang konsisten: tim dominan di liga domestik Scotland, namun rapuh saat menghadapi intensitas fisik dan taktik tim-tim tengah Eropa.

Masalah fundamental terletak pada komposisi skuad. Kieran Tierney, bek kiri andalan, tidak punya cadangan berkualitas. Di lini tengah, tidak ada pemain dengan profil fisik dan mentalitas "penghancur" yang mampu menahan tekanan lawan saat momentum berbalik. Rodgers telah menuntut penguatan di posisi tersebut sejak musim panas, namun manajemen klub belum mengabulkan. Kekosongan itu terekspos sepenuhnya di Linz.

Perspektif Indonesia: kegagulan Celtic mengingatkan pada nasib klub-k Klub Indonesia di kompetisi AFC. Persib Bandung, Bali United, dan PSM Makassar pernah mengalami pola serupa — dominan di Liga 1, namun kesulitan menyesuaikan diri dengan intensitas fisik dan kecepatan transisi tim-tim Thailand, Vietnam, atau Timur Tengah di Piala AFC. Pelajaran utamanya: kekuatan domestik tidak otomatis terjemahkan ke keberhasilan regional tanpa investasi pada pemain profil fisik tertentu dan kedalaman skuad.

McGregor, yang telah mencatat 400 lebih penampilan untuk Celtic, mengakui malam ini sebagai salah satu terburuk dalam kariernya. "Sekarang kita akan melihat siapa yang punya karakter," ujarnya. Pernyataan itu bukan sekadar amarah sesaat, melainkan tantangan bagi manajemen untuk membuktikan apakah mereka serius membangun tim yang bisa bersaing di panggung Eropa — atau puas menjadi raja di Scotland saja.

Langkah selanjutnya Celtic adalah memainkan kualifikasi Liga Europa, di mana mereka akan menghadapi tim-tim level menengah Eropa. Jika pola kemalasan mental dan kekurangan fisik tidak diperbaiki, sejarah berulang. Rodgers memiliki waktu hingga penutupan jendela transfer untuk memperbaiki celah di bek kiri dan gelandang pertahanan. Kegagalan itu berarti musim Eropa lain yang berakhir sebelum Natal — skenario yang sudah terlalu familiar bagi The Hoops.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan Celtic mengulang pola kegagalan klub Asia Tenggara di panggung kontinen: dominasi domestik tak diimbangi kedalaman skuad dan profil fisik untuk kompetisi level lebih tinggi. Bagi penggemar Indonesia, ini studi kasus nyata mengapa klub-kita butuh investasi jangka panjang pada tipe pemain spesifik — bukan sekadar bintang liga — agar tidak terjebak siklus 'raja di rumah, hamba di luar'.

Sumber Asli
BBC Sport
Tanggal
26 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit