Legenda sepak bola Thailand Kiatisuk Senamuang meyakini Timnas Gajah Perang mampu mengalahkan Vietnam 3-0 di leg kedua final Piala AFF 2026 di Stadion My Dinh, Hanoi, Rabu (26/8). Kepercayaan itu muncul meski Thailand tertinggal agregat 0-2 setelah kalah di leg pertama di Bangkok.
Kiatisuk, yang tiga kali meraih gelar juara Piala AFF pada 1996, 2000, dan 2022, menyampaikan optimismenya melalui akun Instagram pribadinya. Ia menegaskan bahwa untuk menjadi juara, Thailand harus menang dengan selisih tiga gol di kandang lawan. "Tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin," tulis mantan pelatih Timnas Thailand itu.
Latar belakang keyakinan Kiatisuk didasarkan pada sejarah timnya yang pernah menghadapi tekanan serupa. Thailand dikenal memiliki mentalitas juara dan kemampuan bangkit di momen krusial. Di sisi lain, Vietnam di bawah asuhan Kim Sang Sik tampil dominan di leg pertama dengan disiplin taktis dan efisiensi di depan gawang, mencatatkan kemenangan 2-0 yang memberikan keuntungan besar sebelum laga kembali.
Formasi bertahan yang ketat menjadi senjata utama Vietnam. Kim Sang Sik diperkirakan akan kembali menerapkan sistem lima bek dengan kiper Le Giang Patrik yang berperan vital di leg pertama. Kiatisuk memprediksi barisan belakang Vietnam akan tetap diisi pemain-pemain yang sudah terbiasa bermain bersama, sehingga serangan Thailand memerlukan kreativitas ekstra untuk menembus benteng lawan.
Anthony Hudson, pelatih kepala Thailand, diharapkan menemukan solusi taktis untuk membobol pertahanan Vietnam. Kiatisuk percaya Hudson mampu menyiapkan strategi terbaik, termasuk memanfaatkan kecepatan sayap dan gerakan tanpa bola dari penyerang seperti Supachok Sarachat atau Teerasil Dangda. Kunci utama adalah mencetak gol dini untuk memaksa Vietnam keluar dari zona nyaman dan membuka ruang di lini belakang.
Dampak laga ini melampaui sekadar perebutan trofi. Rivalitas Thailand-Vietnam telah menjadi narasi terbesar sepak bola Asia Tenggara dalam dekade terakhir. Kemenangan Vietnam di leg pertama menegaskan dominasi tim Garuda di era Kim Sang Sik, namun kemenangan Thailand dengan selisih besar akan merekam comeback dramatis dalam sejarah Piala AFF. Bagi penggemar Indonesia, laga ini menjadi tolok ukur standar kompetisi regional yang semakin ketat.
Kedekatan geografis dan budaya membuat final ini mendapat perhatian penuh dari penonton Indonesia. Banyak yang membandingkan dengan perjuangan Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong, yang juga berusaha menembus dominasi dua negara tersebut. Ketahanan mental Thailand yang digambarkan Kiatisuk — "tidak perlu takut, kita tidak rugi apa pun" — menjadi pelajaran berharga untuk timnas merah putih dalam menghadapi tekanan pertandingan besar.
Secara historis, belum pernah ada tim finalis Piala AFF yang kalah 0-3 di kandang sendiri pada leg kedua. Vietnam memiliki catatan tak terkalahkan di My Dinh selama kualifikasi dan fase grup turnamen ini. Namun, sepak bola sering menyajikan skenario tak terduga. Kiatisuk mengingatkan bahwa Vietnam kemungkinan besar akan bermain terbuka karena didorong suporter, yang justru bisa dimanfaatkan Thailand untuk konter mematikan.
Perspektif lain datang dari komentar netizen dan analis sepak bola Vietnam yang memprediksi Kim Sang Sik akan memasang permainan kontrol tempo, memanfaatkan keunggulan agregat, dan mencari gol away melalui konter. Jika Vietnam mencetak satu gol, Thailand butuh empat gol — skenario yang hampir mustahil. Oleh karena itu, 15-20 menit pertama akan menentukan alur pertandingan.
Langkah selanjutnya bagi pemenang final ini adalah mempersiapkan diri untuk Piala Asia 2027 dan kualifikasi Piala Dunia 2026. Thailand dan Vietnam sama-sama telah memastikan tiket ke Piala Asia, namun momentum juara akan memberikan kepercayaan diri tambahan. Bagi Indonesia, final ini menjadi pengingat bahwa kesenjangan dengan dua rival tradisional masih ada, namun bisa ditutup dengan perencanaan jangka panjang dan pengembangan pemain muda yang sistematis.