Kebakaran hutan yang meluas di Spanyol dan Prancis memaksa ratusan ribu warga mengungsi, dan merusak sejumlah venue olahraga penting di Eropa. Suhu tinggi rata-rata mencapai 32,2 derajat Celsius pada bulan Juli, 7,3 derajat lebih panas dari normal pada periode 1961-1990, sehingga brigade pemadam kebakaran kewalahan. Angkatan bersenjata Prancis dikerahkan untuk membantu pemadaman, sementara tiga kebakaran di sekitar Madrid memicu keadaan darurat nasional pertama Spanyol terkait kebakaran hutan. Akibatnya, acara balap sepeda dan atletik yang dijadwalkan di wilayah tersebut ditunda untuk memastikan keselamatan peserta dan penonton.
Sementara itu, topan Noul menghantam pantai selatan China dengan kecepatan angin maksimum 162 kilometer per jam, menjadikan badai ini yang terkuat pada 2026. Lebih dari 340 ribu orang dievakuasi, dan sejumlah kompetisi olahraga seperti turnamen bola voli pantai dan regata layar terpaksa dibatalkan. Pusat topan mendarat sekitar 80 kilometer di timur laut Hong Kong, meninggalkan kerusakan pada infrastruktur pesisir yang juga mencakup fasilitas olahraga lokal.
Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan Rp672 triliun dalam upaya perang melawan Iran, menurut Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang legislatif pada 21 Juli. Meski Presiden Donald Trump melancarkan serangan selama sebelas hari berturut-turut dan mengancam serangan besar-besaran, Iran menyatakan telah memasuki fase baru perang dan akan mengubah strategi. Konflik berkepanjangan ini berdampak pada diplomasi olahraga, dengan beberapa negara menunda pertukaran atlet karena ketidakpastian keamanan regional.
Para ilmuwan menghubungkan kebakaran dan topan dengan perubahan iklim, yang meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Pola panas berkepanjangan ini tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat, tetapi juga ketahanan acara olahraga yang biasanya mengandalkan kondisi lingkungan stabil.
Teknologi kini memainkan peran penting dalam respons bencana. Drone pemadam kebakaran canggih dan sistem pemantauan cuaca berbasis AI membantu memetakan titik panas dan memprediksi jalur badai dengan lebih akurat. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, yang sering menghadapi kebakaran hutan musiman dan ancaman topan di wilayah timur.
Di Indonesia, dampak tidak langsung terasa di kalangan atlet yang berlatih di Eropa dan China. Rencana pemusatan latihan di luar negeri terpaksa ditinjau ulang, dan rantai pasok peralatan olahraga mengalami gangguan karena pelabuhan di wilayah terdampak ditutup sementara. Selain itu, acara olahraga berskala besar di dalam negeri mulai mempertimbangkan rencana kontingensi untuk menghadapi cuaca ekstrem yang mungkin muncul akibat perubahan iklim.
"Kami harus siap membatalkan atau memindahkan acara jika kualitas udara memburuk atau risiko keselamatan meningkat," kata kepala persatuan olahraga Indonesia terkait persiapan jelang SEA Games.
Kesiapan menghadapi cuaca ekstrem menjadi sorotan setelah kebakaran hutan Spanyol dan topan Noul di China. Federasi olahraga di Asia kini mengevaluasi ulang standar keselamatan venue, berinvestasi dalam sistem deteksi kebakaran, dan mengembangkan protokol evakuasi yang lebih ketat. Bagi penggemar di Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa olahraga, meskipun menjadi pelipur lara di tengah bencana, juga rentan terhadap krisis lingkungan yang lebih besar.
Ke depannya, frekuensi kebakaran hutan dan badai besar diperkirakan akan terus meningkat seiring pemanasan global. Penyelenggara acara harus mengintegrasikan pemodelan iklim terbaru ke dalam perencanaan logistik, sementara pemerintah perlu mengalokasikan anggaran lebih besar untuk infrastruktur tahan bencana. Teknologi akan terus menjadi lini depan pertahanan, namun kesiapsiagaan manusia dan kebijakan adaptif tetap menjadi kunci untuk melindungi olahraga dari ancaman iklim.