Sepakbola

John Herdman Sebut Ada Enam Pemimpin di Timnas Indonesia

Ringkasan

  • John Herdman mengungkapkan ada enam pemimpin di Timnas Indonesia saat membantai Kamboja 3-0 di Piala AFF 2026.
  • Pelatih asal Inggris itu memilih menonton dari tribun untuk memberikan kebebasan kepada para pemain.

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengungkapkan bahwa timnya tidak bergantung sepenuhnya padanya saat menghadapi Kamboja pada laga perdana Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari, Bogor. Ia justru memilih duduk di tribun penonton untuk mengamati pertandingan dari sudut pandang taktis yang lebih luas.

Keputusan itu diambil Herdman setelah merasa bahwa timnya sudah memiliki cukup banyak pemimpin di lapangan. Ia menyebut ada enam sosok yang mampu mengambil alih kendali tim tanpa harus menunggu instruksi dari pinggir lapangan. Hasilnya, Indonesia menang telak 3-0 tanpa kehadiran pelatih di sisi lapangan.

"Menurut saya, kami memiliki para pemimpin yang luar biasa dalam tim ini. Ada enam orang yang memimpin tim. Dan mereka tidak harus selalu didampingi pelatih," ujar Herdman dalam konferensi pers usai pertandingan. Ia tersenyum ketika menambahkan bahwa tiga gol tercipta tanpa dirinya berdiri di technical area.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan pendekatan kepelatihan yang berbeda dari rata-rata pelatih timnas Indonesia sebelumnya. Herdman yang merupakan mantan pelatih Timnas Kanada ini lebih memilih memberdayakan pemain untuk mengambil keputusan sendiri di lapangan.

Lantas, siapa saja enam pemimpin yang dimaksud? Herdman tidak menyebutkan nama secara spesifik. Namun dari komposisi skuad yang diturunkan melawan Kamboja, beberapa pemain senior seperti kapten Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Thom Haye menjadi kandidat kuat. Nadeo Argawinata, Sandy Walsh, serta Shayne Pattynama juga masuk dalam jajaran pemain yang punya pengalaman panjang bersama timnas.

Rizky Ridho yang dipercaya sebagai kapten tim menjadi figur sentral di lini belakang. Meski usianya masih muda, ia menunjukkan kedewasaan dalam memimpin rekan-rekannya. Di sisi lain, Jordi Amat yang telah malang melintang di Liga Malaysia dan Eropa memberikan ketenangan di lini pertahanan.

Keberadaan enam pemimpin ini tidak lepas dari strategi Herdman yang sengaja membangun budaya kepemimpinan distributif. Sejak mengambil alih tim pada awal tahun, ia kerap memberikan tanggung jawab lebih kepada pemain senior untuk menjadi jembatan antara pelatih dan skuad.

Dampak dari pendekatan ini mulai terlihat. Dalam laga melawan Kamboja, pemain Indonesia tampil percaya diri, mampu membaca situasi, dan tidak panik ketika tekanan datang. Ini berbeda dengan penampilan timnas di turnamen sebelumnya yang kerap terlihat bingung ketika pelatih tidak memberikan instruksi langsung.

Media Vietnam, yang dikenal kritis terhadap perkembangan sepak bola Indonesia, memberikan reaksi mengejutkan. Mereka menilai gaya kepelatihan Herdman membuat pelatih Vietnam, Kim Sang Sik, harus berpikir keras untuk menghadapi Indonesia di babak selanjutnya. Kemenangan telak ini sekaligus mengirim sinyal bahwa Timnas Indonesia tidak lagi bergantung pada satu figur.

Meski demikian, Herdman mengakui bahwa tidak selamanya tim bisa berjalan tanpa pelatih di pinggir lapangan. "Ada kalanya mereka membutuhkan pelatih, namun malam ini bukan salah satunya," katanya. Ia menekankan bahwa keputusannya naik ke tribun adalah bagian dari evaluasi taktis jangka panjang.

Ke depan, model kepemimpinan seperti ini diharapkan bisa terus diterapkan, terutama saat menghadapi lawan-lawan berat seperti Thailand atau Vietnam. Jika pemain mampu mengambil inisiatif dan saling memimpin, peluang Indonesia untuk lolos ke final AFF 2026 semakin terbuka lebar.

Bagi sepak bola Indonesia, pengakuan Herdman ini menjadi angin segar. Ia membuktikan bahwa timnas tidak hanya bergantung pada pelatih asing semata, tetapi juga pada kematangan mental dan kepemimpinan pemain lokal. Ini bisa menjadi preseden bagi klub-klub Liga 1 untuk mulai menanamkan budaya kepemimpinan sejak usia dini.

Mengapa Ini Penting

Pendekatan John Herdman yang mendistribusikan kepemimpinan kepada pemain menandai perubahan budaya dalam timnas Indonesia. Ini tak hanya meningkatkan kemandirian pemain di lapangan, tetapi juga menjadi model pembinaan yang bisa ditiru klub-klub Liga 1. Jika berhasil, Indonesia tidak lagi bergantung pada satu figur pelatih dan mampu bersaing secara konsisten di level ASEAN dan Asia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
28 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit