Jeremy Doku kini berada di persimpangan jalan krusial dalam karier internasionalnya. Setelah sempat absen karena urusan keluarga dan masalah kebugaran di awal turnamen, pemain berusia 24 tahun ini kini menatap laga perempat final melawan Spanyol sebagai momen pembuktian diri. Meski sempat menjadi tumpuan harapan Belgia, Doku justru lebih sering menghabiskan waktu di bangku cadangan dalam beberapa laga terakhir.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, memiliki tantangan besar saat harus menghadapi Spanyol yang dikenal sebagai juara Eropa dengan pertahanan yang sangat kokoh. Sejauh ini, lini belakang Spanyol belum sekalipun kebobolan di turnamen ini. Oleh karena itu, kehadiran pemain dengan karakteristik eksplosif seperti Doku menjadi opsi taktis yang sangat masuk akal untuk memecah kebuntuan dan mengacak-acak formasi lawan.
Dalam pertandingan sebelumnya melawan Amerika Serikat, Garcia memilih untuk menurunkan Dodi Lukebakio dan Leandro Trossard di sektor sayap. Strategi tersebut terbukti efektif dengan kemenangan telak 4-1. Namun, menghadapi Spanyol membutuhkan pendekatan yang berbeda. Kecepatan dan kemampuan dribel Doku adalah atribut langka yang bisa menjadi pembeda saat lawan menerapkan garis pertahanan tinggi atau penguasaan bola yang dominan.
Perjalanan Doku di turnamen ini memang tidak mulus. Ia sempat berjuang melawan penyakit di awal kompetisi dan harus terbang ke London untuk menyambut kelahiran buah hatinya, yang membuatnya melewatkan laga krusial kontra Iran. Ketidakhadiran dalam sesi latihan dan pertandingan kompetitif di awal membuat ritme permainannya terganggu, yang terlihat jelas saat ia ditarik keluar sebelum satu jam dalam laga melawan Selandia Baru.
Kritik sempat mengarah padanya setelah penampilan yang kurang maksimal di babak 32 besar. Namun, Doku tetap memegang ambisi besar. Ia secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menjadi pemain sayap terbaik di dunia. Untuk mencapai level tersebut, ia menyadari bahwa statistik gol harus ditingkatkan. "Saya merasa dalam hal assist saya sudah cukup baik, namun saya harus lebih sering berada di area kotak penalti untuk mencetak gol-gol mudah," ujarnya.
Secara statistik, Doku memang menunjukkan peningkatan performa di level klub bersama Manchester City menjelang turnamen, dengan catatan lima gol dalam dua bulan terakhir musim kompetisi. Sayangnya, performa tersebut belum menular ke tim nasional, di mana ia belum mencetak gol lagi sejak November lalu. Dinamika ini menimbulkan spekulasi mengenai apakah ia akan kembali menjadi starter atau hanya menjadi pemain pengganti 'super sub'.
Analisis dari mantan pemain internasional Belgia, Marc Degryse, memberikan secercah harapan bagi para penggemar. Degryse memprediksi bahwa Doku masih akan meledak di turnamen ini. Kemampuannya untuk melakukan akselerasi tiba-tiba dan melewati pemain bertahan lawan adalah 'X-factor' yang sangat dibutuhkan Belgia untuk mengejutkan tim sekelas Spanyol.
Pada akhirnya, laga perempat final ini bukan hanya tentang taktik, melainkan tentang psikologi pemain. Jika Garcia memutuskan untuk memberikan kepercayaan penuh kepada Doku, ini bisa menjadi momen pendewasaan bagi sang pemain. Apakah Doku mampu menjawab tantangan tersebut dan membawa Belgia melangkah lebih jauh? Semua mata akan tertuju pada pergerakannya di sisi sayap dalam duel hidup mati di Los Angeles nanti.