Erasmus University Rotterdam (EUR) di Belanda memberikan penghormatan abadi kepada Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, dengan memajang salinan ijazah serta mengabadikan namanya pada salah satu gedung kampus. Langkah ini menjadi simbol pengakuan internasional atas dedikasi serta perjuangan intelektual sang proklamator yang pernah menempuh pendidikan di institusi tersebut antara tahun 1921 hingga 1932.
Bangunan yang kini dikenal sebagai Hatta Building tersebut berfungsi sebagai asrama mahasiswa dengan kapasitas 372 kamar. Gedung ini tidak hanya menjadi fasilitas tempat tinggal bagi mahasiswa lokal maupun internasional, tetapi juga berfungsi sebagai monumen hidup yang mengenang rekam jejak Hatta selama masa studinya di Belanda. Salinan ijazah asli sang tokoh diletakkan di area aula utama gedung sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya bagi sejarah dunia.
Selama masa kolonial, Hatta bukan sekadar mahasiswa biasa. Ia merupakan penggerak utama Perhimpunan Indonesia, organisasi yang bertransformasi menjadi wadah perlawanan politik radikal di bawah kepemimpinannya pada 1926 hingga 1930. Ia secara tegas mengusung asas non-kooperasi sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, sebuah sikap yang membawanya ke dalam konflik langsung dengan otoritas pemerintah saat itu.
Pada 1927, Hatta ditangkap dan setahun kemudian diseret ke pengadilan Den Haag dengan tuduhan makar. Namun, ia justru membalikkan keadaan melalui nota pembelaan fenomenal berjudul "Indonesie Vrij" atau Indonesia Merdeka. Pembelaan tersebut tidak hanya menyelamatkan Hatta dari hukuman berat, tetapi juga membuka mata dunia internasional mengenai legitimasi perjuangan bangsa jajahan untuk merdeka dari belenggu kolonial.
Keputusan Erasmus University Rotterdam mengabadikan nama Hatta merupakan langkah strategis untuk merefleksikan sejarah kelam kolonialisme melalui perspektif yang lebih edukatif. Universitas tersebut menyadari bahwa sejarah pendidikan mereka tidak lepas dari kehadiran tokoh-tokoh besar yang menentang sistem penindasan dari dalam jantung kekuasaan penjajah itu sendiri.
Bagi masyarakat Indonesia, keberadaan Hatta Building di Belanda menjadi pengingat bahwa diplomasi intelektual memiliki dampak jangka panjang yang setara dengan perjuangan bersenjata. Meskipun sempat luput dari perhatian publik Indonesia dalam waktu yang lama, kehadiran gedung ini menunjukkan bahwa rekam jejak tokoh bangsa tetap terjaga dengan baik di luar negeri.
Informasi mengenai keberadaan gedung ini baru terungkap secara luas bagi keluarga besar Bung Hatta pada 2014, berkat penelusuran alumni EUR, Kwik Kian Gie. Hal ini menunjukkan pentingnya peran jaringan diaspora dan alumni dalam menjembatani narasi sejarah yang sempat terputus antara Indonesia dan institusi pendidikan di Eropa.
Secara sosiopolitik, pengakuan ini menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan Hatta telah melampaui batas geografis. Erasmus University Rotterdam tidak hanya menghormati Hatta sebagai alumnus, melainkan sebagai seorang pemikir yang memberikan sumbangsih besar bagi dialektika kebebasan dan kedaulatan sebuah bangsa di panggung global.
Ke depannya, Hatta Building diharapkan mampu menjadi pusat diskusi mengenai dekolonisasi dan hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda. Kampus ini kini tidak hanya sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan ruang interaksi budaya yang memperkuat pemahaman sejarah bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang negara.
Langkah yang dilakukan oleh pihak universitas ini patut diapresiasi sebagai upaya rekonsiliasi sejarah yang elegan. Dengan menjadikan ijazah dan nama Hatta sebagai bagian dari ekosistem kampus, generasi muda di Belanda dapat mempelajari sejarah melalui perspektif yang lebih objektif tentang tokoh yang pernah menentang kebijakan negaranya sendiri demi kemanusiaan.
Pengabdian Hatta di masa lalu kini menjadi warisan yang terus hidup, menghubungkan masa lalu yang penuh perjuangan dengan masa depan yang lebih kolaboratif. Keberadaan gedung ini diproyeksikan akan terus menjadi simbol persahabatan intelektual yang melampaui sekat-sekat masa lalu, sekaligus menginspirasi mahasiswa untuk terus berani menyuarakan keadilan.