KANSAS CITY, Missouri — Tantangan paling berat menanti Timnas Inggris di perempat final Piala Dunia: Erling Haaland, penyerang andalan Norwegia yang telah menakut-nakuti pertahanan Premier League selama empat tahun terakhir. Kehadiran striker berusia 25 tahun itu di lini depan Skandinavia menjadi ujian keras bagi skuad Thomas Tuchel, meski ada sisi positif tersendiri. Sebagian besar pemain Inggris sudah akrab dengan gaya main Haaland lewat pertemuan rutin di liga Inggris, di mana ia mencetak gol dengan tingkat konversi menakjubkan bagi Manchester City.
Kombinasi kekuatan fisik, kecepatan, dan kemampuan finishing Haaland menciptakan ancaman multidimensi yang sulit dinetralisasi. Dengan tujuh gol sudah terkumpul di turnamen ini, memberinya sehelai ruang di Miami pada hari Sabtu bisa berakibat fatal. Ketika ditanya soal cara mengandung Haaland, gelandang Inggris Morgan Rogers menjawab dengan tawa. "Pernahkah ada yang menghentikan Erling Haaland? Kurang yakin ada, tapi kita akan mencoba," ujar Rogers kepada wartawan pada Rabu lalu.
Analisis Rogers mengarah pada pendekatan sistemik, bukan individu. "Dia pemain luar biasa, angka-angkanya menakjubkan. Kita harus mencoba menghentikan cara bola masuk ke kaki dia dan bagaimana dia mendapat peluang, karena dia sangat mematikan di depan gawang," tambahnya. Strategi memotong jalur pasokan (cut supply lines) ini mengacu pada kebutuhan untuk menutupi kreator Norwegia seperti Martin Ødegaard, kapten Arsenal yang juga berbasis di Premier League, serta memaksa Norwegia bermain ke sayap di mana bisa lebih mudah dikendalikan.
Pengalaman Rogers bersama Aston Villa memberikan referensi praktis. The Villans berhasil mengunci Haaland tanpa gol dalam empat kunjungan City ke Villa Park terakhir, meski Rogers sendiri mengaku faktor keberuntungan turut berperan. "Kita berhasil melakukannya, tapi butuh performa sempurna dari seluruh tim, bukan hanya bek sentral," imbuhnya. Fakta bahwa Ødegaard dan beberapa pemain Norwegia lain juga bermain di liga Inggris menambah kompleksitas tugas pertahanan Inggris, karena mereka saling memahami kecenderungan taktis satu sama lain.
Moral tim Inggris saat ini tinggi usai kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar — pertandingan yang dinilai sebagai salah satu performa paling berkesan Timnas Inggris di panggung dunia belakangan ini. Inggris bermain dengan 10 orang sejak menit ke-60 usai kartu merah, namun menunjukkan karakter mental luar biasa dengan mencetak gol kemenangan di menit tambahan. Kemenangan itu datang dengan harga mahal: kelelahan fisik yang signifikan.
Skuad baru kembali ke basis Kansas City pada dini hari Senin. Rogers mengungkapkan sesi latihan pertama pasca-Meksiko difokuskan pada pemulihan dan peningkatan kualitas. "Pesan hari ini: kita gas lagi, kita ambil lebih banyak, dan kita masih bisa berkembang. Bagi banyak pemain, ini pertandingan terbesar yang pernah kita ikuti di Piala Dunia," kata Rogers. Tekanan psikologis dan fisik ini menjadi variabel tersendiri yang harus dikelola Tuchel dalam empat hari persiapan.
Kabar baik datang dari kembalinya Jordan Henderson ke kemah tim setelah operasi lengan akibat cedera saat merayakan kemenangan di Meksiko City. Kehadiran kapten Liverpool sebelumnya itu memberikan injeksi emosional. "Itu menunjukkan betapa dia sebagai orang. Melihatnya pagi ini tersenyum, tetap bahagia meski 48 jam lalu baru operasi, sangat berarti bagi kami. Dia jantung tim ini," ujar Rogers penuh hormat. Kepemimpinan Henderson di luar lapangan dipercaya bisa menstabilkan ruang ganti di momen krusial.
Di luar garis putih, tradisi baru mewarnai dukungan penggemar Inggris: menyanyikan "Wonderwall" karya Oasis bersama pemain usai pertandingan. Rogers menanggapi dengan santai saat ditanya apakah menghafal liriknya. "Kira-kira kamu tidak Inggris kalau tidak hafal liriknya. Lagu itu begitu dikenal, semua wajib hafal. Kalau tidak, segera pelajari," ucapnya sambil tertawa. Fenomena ini mencerminkan ikatan emosional antara tim dan pendukung yang bisa menjadi faktor X di tribune.
Secara taktis, pertandingan ini akan menjadi catur strategi antara kepercayaan diri Norwegia pada individualitas Haaland dan disiplin kolektif Inggris. Tuchel kemungkinan akan menerapkan sistem pertahanan zona dengan penandaan ketat pada Haaland, didukung pressing tinggi untuk memutus koneksi Ødegaard-Haaland. Sisi lain, Norwegia diharapkan akan memanfaatkan kelelahan Inggris dengan transisi cepat. Kemenangan akan menentukan apakah generasi emas Inggris berpotensi mengakhiri keringan gelar dunia yang berlangsung sejak 1966.