Olahraga

Pukulan Telak Maroko: Ismael Saibari Dipastikan Absen di Perempat Final Piala Dunia Kontra Prancis

Pukulan Telak Maroko: Ismael Saibari Dipastikan Absen di Perempat Final Piala Dunia Kontra Prancis

Ringkasan

  • Ismael Saibari dipastikan absen dalam laga perempat final Piala Dunia antara Maroko dan Prancis akibat cedera hamstring, memberikan tantangan besar bagi Singa Atlas.

Kabar buruk menghampiri kubu tim nasional Maroko menjelang laga krusial perempat final Piala Dunia 2026 melawan Prancis di Boston. Bintang muda mereka, Ismael Saibari, dipastikan tidak dapat diturunkan setelah mengalami cedera hamstring yang cukup serius. Cedera tersebut didapatkan sang pemain saat membela Singa Atlas dalam pertandingan babak 16 besar melawan Kanada akhir pekan lalu.

Pelatih kepala Maroko, Mohamed Ouahbi, secara resmi mengonfirmasi absennya Saibari dalam sesi konferensi pers yang digelar pada Rabu waktu setempat. Menurut Ouahbi, meskipun seluruh pemain lainnya dalam kondisi bugar 100 persen, kondisi fisik Saibari belum memungkinkan untuk tampil di panggung sebesar perempat final. Sang pelatih berharap cedera ini tidak menjadi akhir perjalanan bagi Saibari di turnamen ini.

Kehilangan Saibari merupakan pukulan telak bagi skema taktis Maroko. Gelandang serang yang baru saja merampungkan kepindahannya ke raksasa Bundesliga, Bayern Munich, dengan nilai transfer fantastis 50 juta euro ini, merupakan motor serangan utama Maroko. Sepanjang turnamen, ia menjadi sosok sentral dengan catatan gol di setiap laga fase grup dan menjadi penentu kemenangan Maroko saat adu penalti melawan Belanda di babak 32 besar.

Dalam pertandingan melawan Kanada Sabtu lalu, Saibari terpaksa ditarik keluar lebih awal karena rasa nyeri yang hebat pada hamstringnya. Posisinya saat itu digantikan oleh Soufiane Rahimi, yang justru berhasil membuktikan kualitasnya dengan mencetak gol ketiga bagi Maroko. Meski kehadiran Rahimi memberikan dimensi baru di lini depan, kreativitas dan visi permainan Saibari tetap sulit untuk digantikan secara utuh.

Laga melawan Prancis ini memiliki nilai emosional yang tinggi bagi Maroko. Mereka mengusung misi balas dendam setelah kekalahan 0-2 di semifinal Piala Dunia 2022. Pada edisi sebelumnya, Maroko mencatatkan sejarah sebagai tim Afrika dan Arab pertama yang menembus empat besar. Kali ini, ambisi mereka adalah menyamai atau bahkan melampaui pencapaian tersebut di bawah arahan Ouahbi yang mengambil alih kursi kepelatihan sejak Maret.

Menanggapi pandangan publik yang menganggap keberhasilan mencapai perempat final sudah cukup, Ouahbi dengan tegas menolak narasi tersebut. Ia menegaskan bahwa timnya tidak datang ke Boston hanya untuk berpartisipasi, melainkan dengan target ambisius untuk memenangkan pertandingan dan melaju ke babak empat besar. Semangat juang ini juga diamini oleh bintang Real Madrid, Brahim Diaz.

Brahim Diaz, yang akan berhadapan dengan rekan setimnya di level klub, Kylian Mbappe, menyatakan keyakinan penuhnya terhadap kemampuan tim. Menurutnya, meskipun Prancis merupakan salah satu tim unggulan utama, Maroko telah membuktikan kapasitas mereka untuk bersaing di level tertinggi. Kepercayaan diri para pemain menjadi modal utama bagi Maroko untuk meredam dominasi Prancis di lapangan.

Situasi ini kini memaksa Ouahbi untuk meramu strategi baru yang lebih pragmatis tanpa kehadiran Saibari. Fokus utama tim kini beralih pada pemulihan mental dan taktik untuk memastikan bahwa ketiadaan sang bintang tidak menurunkan intensitas permainan. Jika Maroko berhasil melewati hadangan Prancis, terdapat secercah harapan bahwa Saibari bisa kembali merumput di babak semifinal nanti, tergantung pada progres pemulihan cederanya.

Mengapa Ini Penting

Cedera pemain bintang seperti Ismael Saibari di tengah turnamen besar menyoroti pentingnya kedalaman skuad dalam olahraga profesional. Bagi industri olahraga, ini menjadi studi kasus manajemen risiko pemain dan nilai ekonomi tinggi yang melekat pada performa atlet di ajang global. Selain itu, narasi kebangkitan tim Afrika di panggung dunia terus mendorong investasi dan minat pada pengembangan talenta sepak bola di kawasan tersebut.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
9 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →