Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini berada di bawah tekanan besar setelah sebuah kelompok hak asasi manusia, FairSquare, mengumumkan rencana untuk mengajukan pengaduan resmi kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC). Langkah ini diambil sebagai respons atas dugaan pelanggaran aturan netralitas politik yang dilakukan oleh Infantino, terutama terkait dukungannya secara terbuka terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Sebagai anggota IOC sejak tahun 2020, Infantino terikat pada standar etika dan kenetralan yang ketat. FairSquare menuduh bahwa tindakan Infantino selama ini bukan sekadar dukungan pribadi, melainkan bentuk penyalahgunaan posisi yang mencederai integritas organisasi olahraga dunia. Ketegangan ini memuncak setelah pemberian 'FIFA Peace Prize' kepada Donald Trump pada acara undian Piala Dunia 2026 di Washington, DC, yang dianggap banyak pihak sebagai langkah politis yang tidak pantas.
Sebelum melangkah ke IOC, FairSquare telah lebih dulu mengajukan pengaduan ke Komite Etik FIFA pada Desember 2025. Dalam dokumen pengaduan tersebut, mereka secara spesifik mempertanyakan proses pengambilan keputusan di balik penciptaan FIFA Peace Prize. Mereka mendesak adanya investigasi mendalam mengenai apakah penghargaan tersebut merupakan keputusan kolektif Dewan FIFA atau tindakan unilateral Infantino yang melampaui wewenangnya.
Menurut Pasal 15 Kode Etik FIFA, setiap individu yang terikat dalam organisasi wajib menjaga netralitas politik dalam urusan resmi. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat berkonsekuensi berat, mulai dari denda minimal 10.000 franc Swiss hingga larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama dua tahun. FairSquare menegaskan bahwa jika Infantino bertindak tanpa otoritas statuta yang jelas, maka hal tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang sangat serius.
Presiden IOC, Kirsty Coventry, memberikan tanggapan bahwa meskipun belum ada pengaduan resmi yang masuk ke komisi etik mereka, pihak IOC siap untuk meninjau masalah ini jika diperlukan. Di sisi lain, FIFA hingga saat ini belum memberikan indikasi bahwa investigasi internal telah dimulai, meskipun sekretariat investigasi mereka telah mengakui penerimaan laporan tersebut pada akhir tahun lalu.
Situasi ini semakin pelik dengan adanya intervensi politik dalam pertandingan Piala Dunia. Kasus suspensi kartu merah striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, yang dibatalkan setelah adanya dorongan langsung dari Trump kepada Infantino, telah memicu kemarahan publik. Meskipun Infantino membantah terlibat dalam keputusan teknis tersebut, kredibilitas FIFA sebagai badan yang independen kini dipertanyakan oleh berbagai federasi sepak bola dunia.
Dukungan terhadap langkah FairSquare terus mengalir. Sebanyak 50 anggota Parlemen Eropa telah mengirimkan surat kepada Komite Etik FIFA untuk menyatakan dukungan mereka terhadap pengaduan tersebut. Federasi Sepak Bola Norwegia juga secara resmi mendukung langkah hukum ini, menuntut transparansi penuh terkait bagaimana Infantino mengelola hubungan FIFA dengan tokoh politik global.
Krisis ini menandai babak baru dalam upaya reformasi FIFA melalui kampanye bertajuk 'Reboot'. Dengan melibatkan pengawasan eksternal dari organisasi seperti IOC, masa depan kepemimpinan Infantino kini berada di titik nadir. Publik sepak bola dunia kini menunggu apakah institusi olahraga internasional mampu menegakkan aturan mereka sendiri di hadapan pengaruh politik yang semakin kuat.