Pep Guardiola secara resmi menolak tawaran Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk mengisi posisi pelatih kepala Timnas Azzurri. Keputusan itu disampaikan setelah sang pelatih asal Spanyol bertemu dengan pejabat federasi di Roma beberapa hari lalu. Menurut laporan Gazzetta dello Sport, Guardiola mengucapkan terima kasih atas kepercayaan, namun menegaskan kondisi saat ini tidak memungkinkannya untuk bekerja sepenuh hati.
"Terima kasih, saya merasa terhormat, tetapi saat ini saya belum merasa siap," ujar Guardiola sebagaimana dikutip koran olahraga Italia tersebut. Ia menambahkan bahwa jika memutuskan menerima tugas, ia akan melakukannya dengan komitmen 100 persen — standar yang ia rasa belum bisa dipenuhi pada momen ini. Penolakan ini menutup spekulasi yang beredar seminggu terakhir soal kedatangan manajer paling berprestasi era modern ke bangku cadangan Gli Azzurri.
Latar belakang penawaran FIGC tak lepas dari krisis hasil yang dihadapi Italia. Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah di play-off, mengakhiri harapan bangkit dari kegagalan dua edisi berturut-turut (2018 dan 2022). Federasi lalu melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan merekrut Paolo Maldini sebagai Direktur Teknis dan Leonardo Araujo sebagai Penasihat Teknis. Keduanya ditugaskan menemukan sosok pelatih yang mampu membangun kembali identitas permainan Italia.
Nama Guardiola muncul sebagai target utama berkat jejak kemenangan di setiap klub yang ditangani. Dari Barcelona, Bayern Munich, hingga Manchester City, ia mengumpulkan 38 gelar besar — termasuk enam gelar Liga Champions dan 12 gelar liga domestik. Namun, melatih timnas merupakan babak baru yang belum pernah ia jamah. Pendekatan mikro yang membutuhkan waktu latihan intensif setiap hari dianggap tidak cocok dengan jadwal FIFA window yang terputus-putus.
Inggris juga sempat mendekati Guardiola sebelum akhirnya menunjuk Thomas Tuchel pada Oktober 2024. Keputusan The FA memilih Tuchel — yang memiliki pengalaman mengelola bintang-bintang di Chelsea, PSG, dan Bayern — menunjukkan preferensi federasi besar pada pelatih dengan profil fleksibel dan siap taruh segera. Guardiola, yang baru resmi meninggalkan City pada Juni 2025 usai sepuluh musim, memang tengah dalam masa transisi pribadi dan profesional.
Di sisi lain, Carlo Ancelotti pun pernah dikabarkan didekati FIGC. Pelatih Real Madrid itu menolak karena masih terikat kontrak dengan Timnas Brasil hingga 2030. Komitmen Ancelotti ke Selecao menguatkan narasi bahwa pelatih kelas dunia cenderung memilih proyek jangka panjang dengan kendali penuh, bukan misi penyelamatan jangka pendek di tengah keterbatasan waktu latihan timnas.
Bagi Italia, penolakan ganda ini memaksa Maldini dan Araujo memperluas jaringan pencarian. Nama-nama seperti Roberto De Zerbi, Stefano Pioli, hingga Maurizio Sarri mulai dibisikkan di media lokal. De Zerbi, yang kini melatih Olympique Marseille, dianggap paling dekat dengan filosofi berbasis posseksi yang diwariskan era Roberto Mancini dan Luciano Spalletti. Namun, status kontraknya di Prancis menjadi hambatan tersendiri.
Kendati demikian, situasi ini justru membuka peluang bagi generasi pelatih muda Italia. FIGC bisa memanfaatkan momen ini untuk mempromosikan mantan pemain berprestasi seperti Daniele De Rossi, Thiago Motta, atau Fabio Cannavaro — yang semua memiliki lisensi UEFA Pro dan memahami budaya sepak bola domestik. Pilihan internal justru bisa mempercepat regenerasi tanpa perlu beradaptasi dengan gaya manajemen asing.
Dari perspektif global, keputusan Guardiola menegaskan bahwa jeda karir (sabbatical) bukan sekadar istirahat fisik, melainkan ruang untuk merenungkan tantangan baru. Sejumlah pakar taktik memprediksi langkah selanjutnya sang pelahir "tiki-taka" akan menuju proyek klub dengan kendali penuh atas struktur sportif — mungkin di Liga Champions Asia, MLS, atau bahkan kembali ke La Liga. Kunci utamanya: otoritas total, hal yang sulit didapat di level timnas.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan akan pentingnya keselarasan visi antara pelatih dan manajemen. Di Liga 1, sering kali pelatih diganti tengah musim karena ketidakcocokan filosofi, bukan hasil. Pendekatan Italia yang melibatkan Maldini dan Araujo sebagai jembatan teknis layak ditiru: direktur teknis yang memahami sepak bola modern, bukan sekadar administratif, menjadi kunci keberhasilan rekrutmen jangka panjang.
Mengarah ke depan, FIGC diharapkan mengumumkan pelatih baru sebelum jendela internasional Maret 2026. Waktu tersisa semakin tipis untuk mempersiapkan kualifikasi Euro 2028. Apakah Italia akan memilih kontinuitas dengan pelatih domestik, atau berani taruh pada nama asing dengan gaya radikal? Jawabannya akan menentukan apakah Azzurri bisa kembali ke puncak Eropa, atau terjebak dalam siklus kegagalan yang lebih dalam.