Garuda Pertiwi resmi mengukir sejarah sebagai tim pertama yang mempertahankan gelar Piala AFF Wanita sejak turnamen ini digulirkan dua tahun lalu. Di laga puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tim asuhan Satoru Mochizuki menguasai pertandingan penuh dan meraih kemenangan meyakinkan atas tuan rumah Kamboja. Kemenangan ini tidak hanya menegaskan hegemonisme Indonesia di kancah Asia Tenggara, melainkan juga membuktikan evolusi signifikan dalam cara bermain skuad Merah Putih dibanding edisi perdana 2024.
Statistik menjadi bukti nyata peningkatan kualitas tim. Jika di 2024 Indonesia hanya mencetak tujuh gol dan kebobolan satu gol, kali ini Garuda Pertiwi memborong 10 gol dengan pertahanan yang sama-satunya tertembus oleh Kamboja. Efisiensi serangan terlihat sejak fase grup dengan tiga gol, dua gol ke gawang Timor Leste, dan satu gol melawan Kamboja. Di babak semifinal, Singapura ditumbangkan 2-0, sebelum final menjadi pesta gol dengan lima bola bersarang di gawang lawan. Angka-angka ini menempatkan Indonesia sebagai tim paling mencetak gol dan paling sulit ditembus di turnamen kali ini.
Performa gemilang ini tidak lepas dari strategi penguatan tim yang dilakukan manajemen PSSI dan staf pelatih Jepang. Satoru Mochizuki, yang sudah memimpin tim sejak edisi pertama, kini memiliki pemahaman jauh lebih dalam terhadap karakter pemain serta sistem bermain yang cocok untuk level regional. Ia berhasil memadukan pengalaman pemain senior dengan kecepatan dan kreativitas bintang-bintang muda yang direkrut melalui program naturalisasi. Hasilnya, tim tampil lebih kompak, transisi pertahanan ke serangan berjalan cepat, dan finishing di kotak penalti jauh lebih tajam.
Kontribusi gol yang tersebar ke delapan nama pemain berbeda menjadi indikator kekuatan kolektif yang mengesankan. Estella Loupatty dan Emily Nahon memimpin daftar pencetak gol dengan masing-masing dua gol, didukung oleh Felicia de Zeeuw, Isabelle Nottet, Sheva Imut, Sydney Hopper, Gea Yumanda, dan Remini Rumbewas. Faktanya, hanya Sydney Hopper yang tersisa dari daftar pencetak gol edisi 2024, menandakan regenerasi dan variasi serangan sudah berjalan efektif. Ketergantungan pada satu atau dua pemain utama — seperti Reva Octaviani atau Claudia Scheunemann di edisi lalu — sudah tidak terlihat lagi.
Di lini belakang, ketahanan tim juga patut diacungi jempol. Hanya Kamboja yang mampu menembus gawang Indonesia, persis seperti dua tahun lalu. Hal ini menunjukkan organisasi pertahanan yang disiplin, didukung performa kiper dan lini belakang yang jarang memberikan ruang bagi penyerang lawan. Kemampuan tim untuk menjaga clean sheet di empat dari lima laga, termasuk semifinal melawan Singapura, membuktikan bahwa filosofi bermain Mochizuki — yang mengutamakan kontrol bola dan pressing tinggi — berhasil mematikan ancaman lawan jauh sebelum mendekati area vital.
Kemenangan ini membawa dampak multidimensi bagi sepak bola putri nasional. Pertama, kepercayaan diri pemain melonjak drastis setelah membuktikan bisa menang sebagai juara bertahan di hadapan penonton lawan yang masif. Kedua, gelar ini mengunci tiket ke ASEAN Women's Championship 2027, ajang beregu tingkat tertinggi di kawasan yang melibatkan Vietnam, Thailand, dan Filipina — tiga kekuatan tradisional yang selama ini jauh di atas rata-rata. Kualifikasi ini adalah momentum emas untuk menguji kemampuan tim di level yang lebih brutal.
Namun, tantangan di ASEAN Women's Championship akan bersifat sangat berbeda. Jika di Piala AFF Wanita Indonesia berperan sebagai favorit dan pemburu, di kancah senior nanti Garuda Pertiwi akan berperan sebagai underdog. Vietnam dan Thailand memiliki kedalaman tim, fisik, dan pengalaman internasional yang jauh lebih mumpuni. PSSI dan staf pelatih tidak boleh puas dengan dominasi regional level kedua; persiapan fisik, mental, dan taktis harus ditingkatkan secara drastis mulai sekarang agar tidak hanya jadi peserta, tapi bisa bersaing dan menciutkan kesenjangan dengan tiga besar Asia Tenggara.
Program naturalisasi yang selama ini menuai pro dan kontra justru terbukti memberikan solusi instan bagi kualitas teknis dan taktis tim. Pemain seperti Loupatty, Nahon, De Zeeuw, dan Nottet membawa pengalaman bermain di liga Eropa yang menambah kecepatan pemikiran dan eksekusi di lapangan. Namun, ke depan, integrasi antara pemain naturalisasi dan pemain lokal (seperti Hopper, Imut, Yumanda, Rumbewas) harus terus dipacu agar menciptakan kimia tim yang abadi, tidak bergantung pada individu tertentu.
Dari sisi pengembangan jangka panjang, kejuaraan ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat liga domestik, Liga 1 Putri. Kualitas pemain timnas yang tumbuh harus didukung oleh kompetisi rutin bermutu tinggi di dalam negeri agar regenerasi berkelanjutan. Tanpa liga yang kompetitif, pasokan pemain berkualitas ke timnas akan tersendat, dan keunggulan yang dibangun Mochizuki bisa cepat pudar saat ia tidak lagi memimpin tim.
Secara keseluruhan, gelar juara bertahan Piala AFF Wanita 2026 adalah bukti nyata bahwa sepak bola putri Indonesia sedang naik daun dengan arah yang benar. Performa 10 gol dan pertahanan besi bukan angka semata, tapi cerminan sistem yang mulai matang. Tugas berat menunggu di 2027, tapi modal kepercayaan diri dan pengalaman juara ini, Garuda Pertiwi sudah siap menebar sayap lebih lebar di panggung ASEAN yang lebih bergengsi.