Sepakbola

Fortuna Sittard Tolak Lepas Justin Hubner untuk Piala AFF 2026

Ringkasan

  • Bek Timnas Indonesia Justin Hubner dikabarkan tidak mendapat izin klub barunya Fortuna Sittard untuk memperkuat Garuda di Piala AFF 2026 karena turnamen berada di luar kalender FIFA.

Nasib Justin Hubner di Piala AFF 2026 tiba-tiba menggelora setelah klub barunya, Fortuna Sittard, menegaskan tidak akan melepaskan bek berusia 22 tahun tersebut. Keputusan itu diumumkan melalui juru bicara klub kepada media Belanda, Limburger, pada hari yang sama PSSI mengumumkan daftar 26 pemain untuk turnamen bergengsi ASEAN itu.

Hubner baru saja bergabung dengan Fortuna Sittard musim ini setelah menghabiskan masa peminjaman di NEC Nijmegen. Pemanggilannya ke Timnas Indonesia sempat menimbulkan harapan segar bagi skuat Patrick Kluivert, mengingat bek kelahiran Utrecht itu telah menjadi tulang punggung lini belakang Garuda sejak debutnya di kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, jadwal Piala AFF yang berlangsung 24 Juli hingga 26 Agustus 2026 bertabrakan dengan awal musim Eredivisie 2026/2027.

Ini bukan pertama kalinya klub Eropa menahan pemain naturalisasi Indonesia. Tahun lalu, Eliano Reijnders dan Dean James juga mengalami nasib serupa saat Piala Asia 2023. Perbedaan mendasar kali ini: Hubner sudah resmi terdaftar dalam daftar 26 pemain PSSI, menandakan federasi yakin klub akan memberikan izin. Realita di lapangan justru berlawanan.

Status Piala AFF yang tidak masuk kalender internasional FIFA menjadi akar masalah. Berbeda dengan Piala Asia atau kualifikasi Piala Dunia, FIFA tidak mewajibkan klub melepas pemain untuk turnamen regional semacam AFF. Keputusan sepenuhnya ada di tangan klub, dan Fortuna Sittard memilih memprioritaskan persiapan musim baru Eredivisie.

Menurut juru bicara Fortuna, klub sudah memberitahukan keputusan ini beberapa minggu lalu kepada PSSI. "Dia hanya sedang dalam perjalanan ke Prancis untuk mengikuti agenda pramusim bersama tim," ujar juru bicara itu, merujuk pada laga uji coba melawan FC Metz yang dijadwalkan pekan ini. Artinya, Hubner bahkan tidak oncekali tiba di pemusatan latihan Timnas di Jakarta.

Kehilangan Hubner adalah pukulan berat bagi sistem pertahanan Kluivert. Bek berpostur 188 cm itu menawarkan kombinasi jarang dimiliki bek lokal: ketinggian untuk duel udara, kecepatan untuk menutup ruang, dan ketenangan bermain di bawah tekanan liga Eropa. Di kualifikasi Piala Dunia 2026, Hubner rerata memainkan 90 menit per pertandingan dan menjadi penyeimbang di samping Jay Idzes atau Mees Hilgers.

Tanpa Hubner, pilihan Kluivert di posisi bek tengah tersisa Jay Idzes (Venezia), Mees Hilgers (FC Twente), serta bek lokal seperti Rizky Ridho dan Bagas Kaffa. Idzes dan Hilgers sendiri status kehadirannya belum pasti mengingat keduanya juga bermain di liga Eropa yang musim barunya dimulai akhir Juli. Jika ketiganya tidak dilepas, Garuda harus mengandalkan pasangan bek sepenuhnya dari Liga 1.

Sisi positif, krisis ini memaksa PSSI dan tim pelatih mengevaluasi kedalaman skuad. Pemanggilan pemain Liga 1 seperti Kakang Rudianto (Persib) atau Alfeandra Dewangga (PSM) bisa menjadi uji coba nyata bagi regenerasi bek Timnas. Namun, risiko kekurangan pengalaman internasional di panggung AFF tetap mengancam.

Hingga artikel ini ditulis, PSSI belum mengeluarkan pernyataan resmi soal ganti pemain. Menurut regulasi AFF, penggantian pemain masih diperbolehkan hingga 24 jam sebelum laga pertama, asalkan alasan medis atau alasan lain yang disetujui komite. Jika Fortuna tetap keras, PSSI harus segera mengaktifkan cadangan.

Kasus Hubner mengingatkan kembali kerapuhan ketergantungan Timnas pada pemain naturalisasi berbasis Eropa. Tanpa komitmen klub yang tertulis, setiap pemanggilan untuk turnamen non-FIFA akan selalu berujung pada negosiasi di menit-menit terakhir. PSSI perlu membangun skema kerjasama jangka panjang dengan klub-klub Eropa, bukan hanya mengandalkan kebaikan hati saat turnamen tiba.

Untuk Hubner pribadi, situasi ini adalah ujian karir. Menolak panggilan Timnas demi memperjuangkan posisi di Fortuna Sittard adalah keputusan profesional yang wajar, namun citra di mata publik Indonesia — yang menantikan penampilan pertamanya di Piala AFF — akan terpengaruh. Bagaimana ia menanggapi tekanan ini akan menentukan narasi karier internasionalnya ke depan.

Mengapa Ini Penting

Kasus Hubner mengekspos kelemahan struktural ketergantungan Timnas pada pemain naturalisasi tanpa jaminan tertulis dari klub Eropa. Ini memaksa PSSI merumuskan protokol kerjasama klub yang bindng, bukan sekadar harapan. Jangka panjang, ini mempercepat urgensi pengembangan bek lokal berkualitas Liga 1 agar tidak kerepotan saat pemain Eropa tidak dilepas. Bagi penggemar, ini realita check: Piala AFF bukan prioritas klub Eropa, dan Timnas harus siap berperang dengan sumber daya domestik.

Sumber Asli
CNN Indonesia Sepak Bola
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit