Luis Figo tidak ragu menempatkan Kylian Mbappe di puncak daftar prediksinya. Kapten Prancis itu baru saja mengantar Les Bleus menjuarai Piala Dunia 2026 sekaligus meraih Sepatu Emas dengan catatan 10 gol — angka yang sulit ditandingi. Figo menilai performa Mbappe di pesta bola terbesar itu sudah cukup untuk mengunci posisi terdepan dalam perebutan bola emas.
Di sisi lain, keberhasilan Paris Saint-Germain di tingkat klub menjadi pertimbangan krusial. Les Parisiens menyapu bersih Liga Champions dan Ligue 1 dalam musim yang sama, membuktikan dominasi mereka di benua Eropa. Figo menyoroti dua nama dari tim itu: Vitinha dan Desire Doue. Keduanya dinilai menjalani musim luar biasa meski nasib Portugal di Piala Dunia tidak mulus.
Ketidakhadiran Lionel Messi dari daftar Figo menarik perhatian. Sang kapten Argentina gagal membela gelar juara dunia usai dikalahkan Spanyol 0-1 di final Piala Dunia 2026. Messi juga tidak meraih pencetak gol terbanyak, posisi yang disabet Mbappe. Faktanya, performa klub Messi dengan Inter Miami tidak seberat PSG di Eropa, sehingga argumen "performa sepanjang tahun" yang Figo pegang justru memihak lawan-lawannya.
Figo menekankan bahwa logika pemilihan Ballon d'Or tidak boleh hanya mengandalkan satu turnamen. "Secara logis, Piala Dunia memang bisa menjadi penentu kemenangan, tetapi gelar domestik dan Liga Champions juga sangat penting," ujar mantan pemain Barcelona dan Real Madrid itu. Pendekatan holistik ini sejalan dengan tren voting terbaru yang semakin menghargai konsistensi musiman dibanding momen tunggal.
Vitinha muncul sebagai nama yang mengejutkan bagi sebagian pengamat. Gelandang tengah Portugal itu memang menjadi mesin pengatur tempo PSG di musim kemenangan ganda. Kemampuannya mengontrol ritme pertandingan, mendistribusikan bola, dan muncul di zona berbahaya membuatnya tidak tergantikan di skema Luis Enrique. Doue, bek sayap muda yang baru bergabung, juga memberikan dampak instan dengan kecepatan dan kreativitas di lini depan.
Dari perspektif Indonesia, narasi ini relevan mengingat semakin banyak penggemar sepak bola tanah air yang mengikuti kompetisi Eropa ketat. Debat Ballon d'Or tahunan selalu jadi topik hangat di komunitas lokal, dari media sosial hingga warung kopi. Keputusan Figo yang mengesampingkan Messi — idola banyak penggemar Indonesia — pasti memicu diskusi panas soal kriteria keadilan penghargaan individu.
Lebih jauh, pemilihan Figo mencerminkan pergeseran paradigma dalam penilaian pemain modern. Era di mana satu turnamen besar (seperti Piala Dunia 2022 untuk Messi) bisa menutupi performa klub yang biasa saja tampak berakhir. Saat ini, voter cenderung melihat "body of work" utuh: liga, Liga Champions, hingga turnamen internasional. Ini bagus bagi liga Indonesia jika nanti ada pemain lokal yang konsisten berprestasi di level Asia dan Eropa.
Kutipan Figo soal Vitinha dan Doue juga mengirim sinyal ke klub-klub Indonesia: pengembangan pemain muda dengan profil teknis tinggi (seperti Doue) dan pemikiran taktis matang (seperti Vitinha) jadi investasi jangka panjang. Liga 1 seharusnya mulai meniru model akademi PSG yang memproduksi pemain siap pakai untuk level tertinggi, bukan hanya mengandalkan rekrutan asing.
Proyeksi ke depan, perebutan Ballon d'Or 2026 ini bakal jadi salah satu paling terbuka dalam dekade terakhir. Tanpa Messi dan Cristiano Ronaldo yang sudah mundur dari panggung internasional, narasi "warisan baru" benar-benar terbuka. Mbappe punya momentum sejarah, tapi Vitinha dan Doue mewakili generasi pemain lengkap yang dibangun melalui sistem klub modern. Siapa pun pemenangnya, tahun ini menandai pergantian era yang sebenarnya.