Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri kembali membuktikan konsistensi mereka di panggung internasional. Di hadapan penonton penuh di Olympic Sports Center Gymnasium, pasangan berekor dunia nomor dua ini mengakhiri perjalanan Takumi Nomura dan Yuichi Shimogami dengan skor 21-19, 21-11 dalam waktu 42 menit. Kemenangan ini mengantarkan mereka ke perempat final turnamen Super 1000 tersebut, di mana mereka akan menghadapi lawan yang akan keluar dari laga antara pasangan China atau Malaysia.
Gim pertama berlangsung ketat hingga menit-menit akhir. Fajar/Fikri sempat tertinggal 0-3 di awal, lalu 3-6, sebelum berhasil menyamakan dan memimpin tipis 11-10 saat interval. Ketegangan memuncak di skor 14-14, di mana setiap keunggulan Fajar/Fikri selalu dibalas lawan. Lonjakan empat poin beruntun membuat mereka memimpin 18-14, namun Nomura/Shimogami menolak menyerah dan mengejar hingga 18-17. Pada poin krusial 20-18, serangan beruntun Fajar/Fikri memaksa kesalahan netting dari Fikri yang justru mengakhiri gim pertama.
Berbeda dengan gim pembuka, gim kedua berjalan searah dengan skenario yang diinginkan pelatih Herry Iman Pierngadi. Fajar/Fikri langsung menekan tempo dengan memimpin 5-0 dan memperlebar ke 11-4 di jeda. Selepas interval, dominasi semakin nyata. Mereka tidak memberikan ruang bagi lawan untuk bernapas, melesat 13-7 lalu 17-8. Match point tercapai di 20-10, dan sebuah smash keras Fajar menutup pertemuan dengan 21-11.
Kinerja Fajar/Fikri di China Open kali ini menjadi pengukur kesiapan mereka menjelang fase kritis musim 2026. Setelah sempat tersandung di awal musim di All England dan Malaysia Open, pasangan ini mulai menemukan ritme di Indonesia Open dan Korea Open bulan lalu. Kemenangan atas Nomura/Shimogami — yang baru-baru ini mengejutkan pasangan China di ronde sebelumnya — menandakan mentalitas juara mereka semakin matang.
Di sisi lain, nasib Rehan Naufal Kusharjanto dan Gloria Emanuelle Widjaja berakhir di babak 16 besar. Pasangan ganda campuran nomor tiga Indonesia itu tumbang 8-21, 14-21 dari pasangan China yang didukung penonton rumah. Rehan/Gloria kesulitan menemukan ritme sejak awal, tertekan oleh permainan cepat dan variasi servis lawan. Kekalahan ini menjadi evaluasi penting bagi tim ganda campuran Indonesia yang sedang dalam fase regenerasi pasca-pensiun Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.
Ketua Umum PBSI, Bobby Chandra, menilai hasil campuran ini sebagai cerminan realita kompetisi ganda campuran dunia yang semakin ketat. "Kita punya kandidat-kandidat muda yang potensial, tapi butuh waktu turnamen untuk membangun kimia dan pengalaman menghadapi tekanan panggung besar," ujarnya usai rapat evaluasi tim manajemen di hotel tim, Rabu sore. Bobby menambahkan, program pemusatan latihan ganda campuran akan dievaluasi ulang, termasuk kemungkinan pergantian pasangan untuk memaksimalkan peluang di siklus Olimpiade 2028.
Bagi Fajar/Fikri, laga perempat final akan menjadi ujian karakter. Lawan potensial mereka — kemungkinan besar pasangan China Liang Weikeng/Wang Chang atau pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik — memiliki gaya bermain yang kontras. Liang/Wang mengandalkan kecepatan dan kekuatan, sedangkan Aaron/Soh terkenal dengan ketahanan mental dan pertahanan elastis. Herry Iman Pierngadi telah mempersiapkan skema taktis berbeda untuk masing-masing lawan, dengan fokus pada variasi servis dan kontrol tempo di net.
Secara statistik, Fajar/Fikri memiliki catatan head-to-head yang seimbang terhadap kedua pasangan tersebut. Terhadap Liang/Wang, mereka menang 3-2, sedangkan terhadap Aaron/Soh catatannya 4-3. Namun, faktor kelelahan dan tekanan bermain di China Open — turnamen yang dikenal padat jadwal dan atmosfer penonton yang intens — bisa menjadi penentu. Fajar mengakui manajemen fisik jadi kunci. "Kita harus bijak mengelola energi, apalagi jika laga berlanjut tiga gim," ucapnya saat wawancara singkat pasca-laga.
Prestasi Fajar/Fikri juga membawa dampak komersial signifikan. Sponsor utama tim, perusahaan peralatan olahraga global dan brand makanan ringan nasional, telah memanfaatkan momentum ini untuk kampanye digital. Data media sosial menunjukkan lonjakan engagement 40 persen pada akun resmi tim nasioal badminton usai kemenangan ini. Hal ini memperkuat daya tarik badminton sebagai properti olahraga paling bankable di Indonesia, di tengah persaingan dengan sepak bola dan e-sports.
Menengok ke depan, jadwal Fajar/Fikri semakin padat. Pasca-China Open, mereka dijadwalkan berlaga di Japan Open dan Denmark Open bulan depan, sebelum puncak musim di World Tour Finals Desember. PBSI telah menyusun program pemulihan khusus melibatkan tim fisioterapis dan nutrisi untuk memastikan kondisi puncak terjaga. Sementara untuk Rehan/Gloria, fokus bergeser ke turnamen Super 300 dan 500 untuk mengumpulkan poin ranking dan membangun kepercayaan diri.
Kemenangan Fajar/Fikri di Changzhou bukan sekadar lolos babak. Ia mengirim sinyal jelas: ganda putra Indonesia tetap jadi kekuatan utama di peta badminton dunia. Di era di mana dominasi China dan Korea semakin mengepal, konsistensi Fajar/Fikri menjadi aset strategis. Tugas selanjutnya adalah menterjemahkan momentum ini ke gelar bergengsi — dan perempat final China Open adalah langkah krusial menuju tujuan itu.