Jelang laga perempat final Piala Dunia yang krusial di Foxborough, bintang Norwegia Erling Haaland melontarkan pernyataan bernada psywar kepada media. Striker Manchester City tersebut secara terbuka meminta para awak media untuk memberikan tekanan sebesar-besarnya kepada tim nasional Inggris. Bagi Haaland, Inggris bukan sekadar lawan, melainkan salah satu favorit utama juara yang memikul beban ekspektasi publik yang sangat tinggi.
Bagi Norwegia, mencapai babak delapan besar adalah sebuah anomali sejarah. Negara Skandinavia ini terakhir kali tampil di Piala Dunia pada tahun 1998, dan kini mereka berhasil melaju jauh setelah menyingkirkan raksasa seperti Brasil dan Pantai Gading. Perjalanan ini menjadi sangat emosional bagi Haaland, mengingat ia lahir di Leeds, Inggris, saat ayahnya, Alf-Inge Haaland, masih berkarier di Liga Inggris. Pertemuan Sabtu nanti menjadi laga yang sarat akan nostalgia sekaligus ambisi profesional.
Haaland sendiri sedang dalam performa yang sangat impresif. Ia telah mencetak gol dalam 14 pertandingan kompetitif berturut-turut untuk tim nasionalnya. Catatan tujuh gol dalam empat penampilan di turnamen ini, termasuk dwigol krusial saat menyingkirkan Brasil, telah membuktikan bahwa Haaland adalah ujung tombak yang mampu membawa Norwegia melampaui ekspektasi. Padahal, setahun lalu, ia sempat menyebut peluang Norwegia menjuarai turnamen ini hanya sebesar 0,5 persen.
"Sejujurnya, berada di perempat final Piala Dunia bersama Norwegia adalah sesuatu yang mengejutkan bagi saya pribadi," ujar Haaland dalam sesi wawancara. Ia menambahkan bahwa atmosfer euforia yang terjadi di Norwegia saat ini bukanlah hal yang lazim, mengingat sejarah sepak bola mereka yang tidak sedominan negara-negara Eropa lainnya. Keberhasilan ini dianggap sebagai momen istimewa bagi seluruh rakyat Norwegia.
Di luar lapangan, popularitas Haaland di Amerika Serikat sebagai tuan rumah terus meroket. Kepribadiannya yang unik, termasuk aksi belanja topi koboi di Dallas yang viral di YouTube, membuatnya menjadi ikon pop baru di AS. Haaland mengaku menikmati keramahan warga Amerika dan mengapresiasi kualitas fasilitas serta stadion yang disediakan selama turnamen berlangsung.
Namun, di balik keceriaan tersebut, fokus utama Haaland tetap pada pertandingan hari Sabtu. Ia memahami betul mentalitas pemain Inggris yang selalu berada di bawah bayang-bayang kegagalan sejak terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 1966. Dengan meminta media menekan skuad asuhan Gareth Southgate, Haaland mencoba memanfaatkan celah psikologis yang sering kali menghantui 'The Three Lions' dalam turnamen besar.
Inggris memang memiliki rekam jejak konsisten mencapai fase gugur dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir, namun mereka sering kesulitan saat menghadapi tekanan di babak krusial. Haaland, yang mengenal budaya sepak bola Inggris dari dalam, tahu bahwa ekspektasi media seringkali menjadi pedang bermata dua bagi pemain Inggris.
Laga di Foxborough nanti tidak hanya akan menjadi pembuktian bagi Norwegia sebagai kekuatan baru di sepak bola Eropa, tetapi juga ujian bagi dominasi Inggris. Apakah taktik psikologis Haaland akan berhasil? Atau justru Inggris akan menjawab tantangan tersebut dengan performa terbaik mereka? Dunia akan menyaksikan bagaimana mesin gol Manchester City ini berhadapan dengan rekan-rekan klubnya di panggung megah Piala Dunia.