Perjalanan ganda campuran Indonesia, Dejan Ferdinansyah dan Felisha Pasaribu, dalam turnamen French Open 2026 harus berakhir lebih cepat. Pasangan ini dipastikan tersingkir setelah menelan kekalahan dalam pertarungan tiga gim melawan wakil Thailand, Pakkapon Teeraratsakul dan Sapsiree Taerattanachai, pada Rabu (21/10).
Duel yang berlangsung sengit tersebut berakhir dengan skor 18-21, 21-16, 16-21. Kekalahan ini menjadi catatan evaluasi penting bagi Dejan dan Felisha dalam upaya mereka menembus persaingan elit dunia yang semakin ketat, terutama menghadapi pasangan ganda Thailand yang dikenal memiliki pola permainan taktis dan disiplin tinggi.
Pada gim pembuka, Dejan dan Felisha sebenarnya sempat memberikan perlawanan berarti. Mereka mampu memimpin hingga kedudukan 7-6 sebelum akhirnya momentum berpindah ke tangan lawan. Pakkapon dan Sapsiree menunjukkan kelasnya dengan merebut tiga poin beruntun yang membalikkan keadaan menjadi 9-7. Keunggulan tersebut terus dijaga oleh pasangan Thailand hingga menutup interval dengan skor 11-9.
Memasuki fase kritis setelah interval, tekanan dari Pakkapon dan Sapsiree semakin intensif. Mereka mencetak empat poin berturut-turut yang membuat jarak angka melebar menjadi 15-9. Meski Dejan dan Felisha berupaya keras memperkecil ketertinggalan, konsistensi lawan memaksa wakil Indonesia merelakan gim pertama dengan skor 18-21.
Namun, perlawanan gigih ditunjukkan Dejan dan Felisha saat memasuki gim kedua. Mereka tampil lebih tenang dan mampu mengendalikan permainan. Meskipun sempat tertinggal 7-11 pada interval, mereka melakukan perombakan strategi yang efektif. Hasilnya, tujuh poin beruntun berhasil mereka raih, membalikkan skor menjadi 14-11, dan terus melaju hingga memenangkan gim kedua dengan skor cukup meyakinkan 21-16.
Memasuki gim penentuan, tensi pertandingan kembali meninggi. Kedua pasangan saling kejar mengejar angka hingga pertengahan laga. Sayangnya, Pakkapon dan Sapsiree kembali menunjukkan dominasi taktis mereka dengan memimpin 11-9 saat interval. Selepas jeda, pasangan Thailand tersebut menekan pertahanan Dejan dan Felisha secara konsisten hingga selisih poin melebar menjadi 17-11.
Upaya heroik sempat dilakukan Dejan dan Felisha dengan merebut tiga poin beruntun untuk menipiskan jarak menjadi 14-17. Namun, Pakkapon dan Sapsiree segera merespons dengan aksi yang sama, mengunci match point di angka 20-14. Meski sempat menggagalkan dua kesempatan match point, Dejan dan Felisha akhirnya harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 16-21.
Kekalahan ini memberikan sinyal bahwa konsistensi menjadi tantangan utama bagi pasangan muda Indonesia. Dalam kancah bulu tangkis internasional, kemampuan untuk menjaga fokus setelah memenangkan gim kedua seringkali menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan. Dejan dan Felisha memiliki bakat besar, namun mereka memerlukan kematangan dalam menghadapi tekanan di poin-poin krusial.
Analisis teknis menunjukkan bahwa pasangan Thailand, terutama Sapsiree, memiliki pengalaman yang lebih kaya dalam mengatur tempo permainan. Bagi Indonesia, ini merupakan pengingat bahwa regenerasi di sektor ganda campuran memerlukan waktu dan jam terbang yang lebih banyak di turnamen-turnamen level tinggi seperti French Open.
Kegagalan ini tentu bukan akhir dari perjalanan mereka. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari pertemuan melawan pasangan Thailand tersebut. Ketahanan fisik dan mental dalam menghadapi lawan yang memiliki pertahanan rapat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi oleh tim pelatih.
Ke depannya, Dejan dan Felisha diharapkan mampu mengasah kemampuan transisi dari bertahan ke menyerang agar tidak mudah ditekan saat lawan mengubah ritme permainan. Konsistensi dalam menjaga angka setelah interval akan menjadi kunci bagi mereka untuk meraih hasil lebih baik di turnamen berikutnya.
Turnamen French Open 2026 menjadi ajang pembuktian bagi banyak pemain muda. Meskipun hasil kali ini belum memihak, partisipasi mereka di turnamen bergengsi ini sangat krusial untuk menambah poin peringkat dunia dan pengalaman bertanding melawan pemain-pemain kelas dunia.