Manajer Inggris Thomas Tuchel mengungkap fakta mengejutkan mengenai kondisi fisik Declan Rice sebelum laga perempat final Piala Dunia 2026 lawan Norwegia di Miami Stadium. Gelandang Arsenal ternyata menghabiskan hampir tiga hari penuh di tempat tidur akibat sakit, kondisi yang dipicu oleh gejala neural pada hamstring dan punggung bawah yang memburuk karena infeksi virus.
Meski kondisi fisik menurun drastis, Rice tetap dimasukkan ke susunan starter oleh Tuchel. Keputusan itu terlihat berisiko sejak menit-menit awal, di mana sang kapten Arsenal terlihat kesulitan bergerak lincah di bawah panas menyengat Miami. Norwegia justru memanfaatkan ketidakstabilan tengah pertahanan Inggris dengan gol pembuka Andreas Schjelderup, memaksa Tuchel melakukan evaluasi cepat saat jeda.
"Kami harus memutuskan apakah Elliot Anderson atau Declan Rice yang keluar," ujar Tuchel dalam konferensi pers pasca laga. "Mengetahui Declan menghabiskan tiga hari terakhir mayoritas di tempat tidur, saya yakin dia tidak akan bertahan 90 menit, apalagi ada kemungkinan perpanjangan waktu 120 menit. Saya tidak ingin membuang slot substitusi lain nanti."
Keputusan mengganti Rice dengan Eberechi Eze di awal babak kedua terbukti jitu. Inggris berubah lebih ofensif dan berhasil menyamakan kedudukan melalui Jude Bellingham menjelang istirahat. Sang bintang Real Madrid lalu mencetak gol kemenangan di menit ke-103, mengantarkan Three Lions ke semifinal menghadapi Argentina yang mengalahkan Swiss.
Kondisi Rice justru telah menjadi perhatian sejak fase grup. Pemain berusia 25 tahun itu absen di laga lawan Panama dan hanya memulai lima dari enam pertandingan Inggris di turnamen ini. Masalah neural pada hamstring dan punggung bawah telah mengganggu konsistensinya sejak musim Premier League 2024-25, di mana ia membantu Arsenal meraih gelar juara.
Ezri Konsa pun mengalami gejala serupa, menderita kram dan ketegangan hamstring akibat panas ekstrem. Tuchel mengakui manajemen fisik pemain menjadi tantangan terbesar di turnamen ini, mengingat jadwal padat dan kondisi iklim Miami yang tidak mengenal ampun bagi pemain Eropa.
Dari perspektif taktis, substitusi Rice pada menit ke-45 bukan sekadar ganti pemain, melainkan pergeseran struktur tim. Eze membawa dinamika kreatif di zona tengah, memungkinkan Bellingham bergerak lebih bebas ke area penalti. Fleksibilitas ini menjadi kunci Inggris membalikkan kedudukan dari tertinggal 0-1 menjadi menang 2-1.
Semifinal lawan Argentina pada Rabu, 15 Juli pukul 20:00 WIB akan menjadi ujian keras bagi kedalaman skuad Inggris. Ketersediaan Rice tetap diragukan, memaksa Tuchel mempertimbangkan variasi susunan tengah lapangan. Apakah Kobbie Mainoo, Adam Wharton, atau bahkan penempatan ulang Bellingham ke posisi lebih dalam menjadi solusi? Jawabannya akan menentukan nasib Three Lions di babak empat besar.