Inggris bersiap menghadapi Norway dalam pertandingan perempat final Piala Dunia di Lusail, Qatar. Kemenangan atas tim Skandinavia akan membawa The Three Lions lebih dekat ke babak semifinal, sementara Norway bertujuan untuk terus menulis kisah mereka sebagai salah satu tim kejutan turnamen ini. Fokus utama Inggris adalah menghentikan Erling Haaland, yang telah mencetak tujuh gol di Piala Dunia ini, tetapi mereka juga harus mengatasi gaya bermain bola bawah tanah Norway yang unik.
Norway, di bawah asuhan Stefan Solbakken, menunjukkan gaya menyerang yang serbaguna. Mereka sering menguasai bola dengan formasi lima pemain di setengah lapangan, dengan penjaga gawang Orjan Nyland sebagai opsi distribusi keenam. Tendangan gawang Nyland biasanya berakhir dengan operan pendek di antara bek, sementara dua gelandang bertahan memberikan dukungan. Ketika ruang sempit, Alexander Sorloth, seorang targetman setinggi 195 cm, ditarik ke sayap kanan untuk menerima operan diagonal panjang. Pola ini memaksa bek sayap lawan, dalam hal ini bek kiri Inggris Nico O'Reilly, untuk terlibat dalam duel udara yang berat.
Thomas Tuchel memiliki beberapa pilihan taktis. Opsi paling langsung adalah menekan dengan intensitas tinggi di seluruh lapangan, memaksa Norway untuk melakukan operan panjang yang mungkin menguntungkan bek Inggris dalam duel udara. Namun, pendekatan ini dapat meninggalkan ruang di tengah untuk pergerakan Haaland, yang saat ini menjadi ancaman besar. Banyak pelatih lebih memilih untuk menempatkan bek tambahan untuk menjaga Haaland, tetapi ini berarti Inggris harus beroperasi dengan dua pemain lebih sedikit di area pressing, memungkinkan Norway menguasai bola dengan enam pemain di setengah lapangan lawan.
Alternatifnya adalah menekan dengan pemain lebih sedikit, seperti yang ditunjukkan Brasil. Dengan menarik pemain ke satu sisi lapangan dan menekan bek sayap Norway, Brasil memaksa Nyland untuk mengoper dengan kaki kiri yang lebih lemah. Inggris dapat meniru ini, memotong sudut umpan pendek Norway dan memaksa operan panjang yang dapat dikuasai oleh bek Inggris. Namun, strategi ini berisiko membuat ruang terbuka di sisi lain, yang dapat dieksploitasi oleh pemain sayap cepat Norway atau pergerakan Haaland di ruang kosong.
Martin Odegaard adalah kunci dalam mengatur tempo permainan Norway. Gelandang serang sering drop ke lini tengah, menerima operan dan memberikan opsi operan pendek yang menjaga bola di posisi tinggi dan membuat lawan kesulitan mendekat. Gaya manajemen permainan ini, meskipun terlihat pasif, adalah taktik cerdas untuk menghemat energi dan mengendalikan ritme. Inggris harus mencegah Odegaard menemukan ruang ini, mungkin dengan mengirim gelandang bertahan tambahan untuk menekan atau dengan menjaga garis pertahanan yang lebih tinggi untuk menutup jalur operan.
Dalam hal menghentikan Haaland, tim dapat memotong pasokan bola atau langsung menghadapi dia. Norway sering menggunakan operan dari Antonio Nusa dan Andreas Schjelderup di sayap kiri, yang melakukan underlapping run di belakang bek kiri David Moller Wolfe. Run ini membuka ruang untuk operan silang ke Haaland, yang sering berada di back post. Inggris perlu membatasi ruang ini, mungkin dengan bek sayap yang lebih proaktif atau dengan melibatkan bek tengah dalam tekanan untuk memaksa operan ke sayap yang lebih sempit.
Untuk maju, Inggris mungkin perlu mengubah formasi tak biasa, menempatkan gelandang bertahan seperti Declan Rice lebih tinggi untuk membantu menekan Nyland dan bek tengah. Ini menciptakan situasi yang kacau tetapi memberi Inggris kendali lebih besar atas ritme permainan. Keseimbangan antara menekan Norway secara agresif dan menjaga pertahanan yang kuat akan menentukan apakah Inggris dapat melaju ke semifinal.
Secara keseluruhan, pertandingan ini adalah ujian bagi kemampuan taktis Tuchel. Dia harus menemukan cara untuk membatasi gaya bermain bola bawah tanah Norway sambil memastikan Haaland tetap terkendali. Penggemar di seluruh dunia, terutama di Indonesia yang semakin menyukai sepak bola Eropa, akan memperhatikan bagaimana Inggris beradaptasi terhadap tantangan ini. Pertandingan ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang evolusi taktik di tingkat tertinggi permainan.