Piala Dunia 2026 mungkin tidak melahirkan wakil Afrika di babak semifinal, namun kontribusi benua hitam dalam turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini patut diacungi jempol. Dari sepuluh tim Afrika yang lolos ke putaran final, sembilan di antaranya berhasil melangkah melewati fase grup – sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Maroko, yang pada edisi 2022 menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal, kembali menunjukkan kualitas dengan melaju hingga perempat final. Namun, langkah mereka lagi-lagi dihentikan oleh Prancis. Meski begitu, Maroko sempat merepotkan Brasil di laga pembuka grup dan menyingkirkan Belanda di babak 32 besar, membuktikan status mereka sebagai kandidat kuat.
Mesir mencatat sejarah dengan meraih kemenangan pertama mereka di Piala Dunia dan lolos ke babak 16 besar. Sayangnya, mimpi mereka hancur setelah unggul 2-0 atas Argentina hingga 11 menit sebelum akhir pertandingan. Kekalahan 2-3 yang dibalut kontroversi VAR menjadi luka mendalam, terutama karena beberapa keputusan wasit dinilai merugikan.
Kehilangan keunggulan di menit-menit akhir juga dialami Republik Demokratik Kongo, Pantai Gading, dan Senegal. Senegal, yang digadang-gadang sebagai andalan Afrika dengan skuad bertabur bintang, justru membuat kesalahan fatal di dua laga awal melawan Prancis dan Norwegia. Kiper Edouard Mendy menyebut kegagalan itu sebagai hasil dari kelemahan internal yang perlu diintrospeksi secara jujur dan menyeluruh.
Di tengah kekecewaan, hadir kisah heroik dari Tanjung Verde. Tim kecil yang tidak diunggulkan ini berhasil menahan imbang Spanyol dan Uruguay di fase grup, lalu memaksa juara bertahan Argentina bermain hingga perpanjangan waktu di Miami. Meski akhirnya kalah 2-3, perjuangan mereka mengundang decak kagum dunia.
Kepulangan skuad Tanjung Verde disambut ribuan penggemar di jalan-jalan ibu kota. Penyerang Sidny Lopes Cabral, yang mencetak salah satu gol terindah turnamen, mengatakan bahwa rakyat menganggap pencapaian mereka sebagai kemenangan sejati. Hal ini membuktikan bahwa sepak bola tidak hanya soal hasil akhir, namun juga semangat dan kebanggaan.
Tim Afrika lainnya seperti Aljazair, Ghana, dan Afrika Selatan juga sukses menembus fase gugur. Hanya Tunisia yang gagal total setelah kehilangan pelatih dan hanya meraih satu angka. Pelatih anyar Herve Renard tak mampu membalikkan keadaan.
Pertandingan-pertandingan ini juga mewarnai perjalanan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu turnamen paling menarik. Format 48 tim telah memberi lebih banyak ruang bagi negara-negara seperti Tanjung Verde untuk bersinar. Di sisi lain, kontroversi VAR masih menjadi perdebatan, terutama bagi tim Afrika yang merasa dirugikan.
Kegagalan lolos ke semifinal bukanlah kemunduran bagi Afrika. Sebaliknya, banyak pengamat meyakini bahwa peningkatan jumlah tim dan kualitas kompetisi akan semakin mematangkan sepak bola Afrika ke depannya. Catatan sembilan tim lolos dari fase grup adalah modal berharga.
Ke depan, Afrika akan fokus pada Piala Afrika 2027 yang digelar di Kenya, Tanzania, dan Uganda, serta edisi 2028. Piala Dunia 2030 juga akan melibatkan Maroko sebagai tuan rumah bersama Portugal dan Spanyol. Kepercayaan diri yang terbangun dari performa 2026 diharapkan menjadi batu loncatan untuk prestasi yang lebih besar.