Federasi Sepakbola Prancis (FFF) pada Jumat (14/8/2026) mempublikasikan susunan lengkap staf teknis yang akan mendampingi Zinedine Zidane di kancah tim nasional. Penunjukan mantan kiper legendaris Les Bleus, Fabien Barthez, menjadi sorotan utama pengumuman tersebut. Sang juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 itu kembali ke lingkaran tim senior setelah sepuluh tahun vakum sejak era Laurent Blanc.
Barthez tidak asing dengan peran pelatih kiper. Ia pernah menjabat posisi serupa pada periode 2010-2012 di bawah kepemimpinan Blanc. Kini, usia 55 tahun, ia mendapat kepercayaan penuh dari Zidane — rekan sepermainan yang pernah bersamai meraih gelar dunia dan Eropa dua puluh delapan tahun silam. Reuni ini menandai kembali kerjasama duo yang pernah membentuk tulang punggung kejuaraan Prancis di akhir milenium lalu.
Di sisi lain, David Bettoni kembali dipercaya sebagai asisten utama. Nama ini sudah lama menjadi bayangan Zidane sejak masa keemasan Real Madrid pada 2016-2018, ketika Los Blancos meraih tiga gelar Liga Champions beruntun. Bettoni dikenal sebagai sosok yang memahami metodologi kerja dan filosofi permainan sang mantap playmaker. Kehadirannya memberikan kontinuitas pada sistem yang sudah terbukti sukses di tingkat klub.
Susunan staf teknis tidak hanya berdua. FFF melengkapi tim dengan lima nama tambahan yang masing-masing memiliki spesialisasi jelas. Hamidou Msaidie duduk sebagai asisten pelatih, sementara Grégory Dupont mengisi posisi penasihat strategis dan kinerja — peran yang semakin krusial di era sepak bola modern yang mengandalkan data fisik dan taktis. Stéphane Plancque bertugas sebagai observer, dan duo analis video Farid Tabet serta Clément Ybert melengkapi lini belakang persiapan pertandingan.
Pembentukan staf ini tidak terjadi dalam kekosongan. Zidane dikontrak hingga 2030, menggantikan Didier Deschamps yang mundur setelah 14 tahun menjabat — masa jabatan terpanjang dalam sejarah Les Bleus. Deschamps meninggalkan warisan dua gelar Piala Dunia (2018) dan satu Piala Eropa (2021), standar yang menempatkan beban ekspektasi sangat tinggi di bahu sang penerus. FFF jelas menginginkan transisi yang mulus, bukan revolusi total.
Pemilihan mantan pemain juara 1998 sebagai tulang punggung staf teknis mengisyaratkan arah kebijakan FFF: membangun otoritas internal berbasis pengalaman juara. Barthez dan Bettoni bukan sekadar nama besar; mereka mewakili kultur kemenangan yang ingin ditanamkan kembali ke generasi pemain baru seperti Kylian Mbappé, Warren Zaïre-Emery, atau Bradley Barcola. Kehadiran figur yang pernah berdiri di puncak dunia memberikan bobot moral yang tak tergantikan di ruang ganti.
Dari sudut pandang taktis, peran Dupont sebagai penasihat kinerja menarik perhatian. Sepak bola Prancis saat ini kaya akan bakat individu, namun tantangannya mengubah kumpulan bintang menjadi unit yang koheren secara fisik dan mental. Dupont membawa pengalaman dari lingkungan klub elit, di mana manajemen beban latihan dan pemulihan menjadi pembeda antara juara dan runner-up. Zidane butuh orang yang bisa menerjemahkan data GPS dan monitoring jantung ke dalam keputusan lapangan.
Kontrak hingga 2030 berarti Zidane memiliki dua siklus turnamen besar: Piala Eropa 2028 di Inggris dan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara — meski yang terakhir sudah dekat. Waktu dua tahun hingga Euro 2028 menjadi masa uji nyata apakah susunan staf ini mampu menggelar tim yang seimbang antara pengalaman dan regenerasi. Kegagalan di kualifikasi atau fase grup akan memicu tekanan masif dari media dan publik Prancis yang notoriously demanding.
Barthez sendiri mengakui tantangan berbeda kali ini. "Dulu saya bekerja dengan generasi 2010 yang masih dalam transisi. Sekarang saya hadapi generasi emas baru dengan tekanan komersial dan media yang jauh lebih besar," ujarnya dalam wawancara L'Equipe pekan lalu. Ia menegaskan fokus utamanya adalah membangun kepercayaan diri kiper muda seperti Mike Maignan atau Lucas Chevalier, bukan hanya aspek teknis murni.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya struktur staf yang koheren. PSSI dalam era Erick Thohir juga telah mulai memperhatikan komposisi staf pendamping — dari pelatih kiper hingga analis video — namun konsistensi dan jangka panjang kontrak masih menjadi catatan. Model Prancis menunjukkan bahwa investasi pada staf spesialis berkelas dunia, dibayar mahal tapi dikontrak panjang, bisa menjadi fondasi keberlanjutan prestasi.
Langkah selanjutnya Zidane akan terlihat di jendela FIFA September mendatang, saat Les Bleus memulai kualifikasi Piala Dunia 2026. Susunan pemain pertama, sistem permainan, dan bahasa tubuh di garis pinggir akan menjadi indikator awal apakah "Proyek 2030" ini berjalan sesuai skenario FFF. Satu hal pasti: dengan Barthez di bangku cadangan dan Bettoni di sampingnya, Zidane tidak sendirian menghadapi beban sejarah.