Zinedine Zidane akhirnya memberikan persetujuan tertulis untuk memimpin Timnas Prancis selama empat tahun ke depan. Keputusan itu menutup spekulasi berbulan-bulan soal siapa penerus Didier Deschamps yang kontraknya berakhir pasca Piala Dunia 2026. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) menargetkan pengumuman resmi pada 1 September mendatang, meski seluruh administrasi penunjukan mantan kapten Les Bleus ini sudah rampung.
Kontrak yang disepakati mencakup tiga turnamen besar berturut-turut: UEFA Nations League 2026/27, Piala Eropa 2028, dan puncaknya Piala Dunia 2030. Zidane akan debut kompetitif di fase grup Nations League di mana Prancis berada di Grup A bersama Turki, Italia, dan Belgia — gugusan yang menuntut kesiapan taktis sejak awal. Beban ini tidak ringan mengingat Prancis harus membuktikan kembali dominasi Eropa setelah kekecewaan di Euro 2024.
Penunjukan Zidane bukan keputusan mendadak. FFF sejak lama menganggap mantan pelatih Real Madrid itu sebagai calon alami Deschamps, mengingat status legendarisnya sebagai pemain dan keberhasilan tiga gelar Liga Champions beruntun di Madrid. Hubungan erat Zidane dengan Noel Le Graet, mantan ketua FFF yang mundur awal 2023, sempat memperlambat proses. Namun kepemimpinan baru di bawah Philippe Diallo justru mempercepat negosiasi lewat pendekatan langsung yang menghormati kebutuhan Zidane akan otonomi teknis.
Sisi menarik dari rekrutmen ini adalah susunan staf pendamping yang diinginkan Zidane. Ia meminta Fabian Barthez, kiper legendaris juara dunia 1998 dan Euro 2000, menjabat pelatih kiper. Barthez belum memiliki sertifikat CEGB (Certificat d'Entraîneur de Gardiens de But) yang wajib untuk pelatih profesional di Prancis, sehingga FFF harus mengurus dispensasi atau jalur cepat sertifikasi. Di sisi lain, Bernard Diomede — rekan setimnas Zidane di era emas — dipastikan jadi asisten pelatih setelah berpengalaman menguasai Timnas Prancis U-17 dan U-20.
Pemilihan staf ini mengisyaratkan Zidane ingin membangun lingkaran kepercayaan internal yang solid, mirip pendekatannya di Real Madrid di mana ia mengandalkan tokoh-tokoh yang memahami budaya klub. Diomede membawa pemahaman tentang sistem pembinaan muda Prancis, sementara Barthez menawarkan otoritas psikologis di posisi kiper — area yang jadi perhatian khusus sejak era Hugo Lloris berakhir. Kedua nama ini juga memperkuat narasi "keluarga 1998" yang FFF banggakan sebagai fondasi identitas timnas.
Bagi sepak bola Indonesia, kedatangan Zidane ke kancah internasional menambah referensi manajemen transisi generasi. Prancis melakukan regenerasi pelatih dengan merencanakan suksesi jauh-jauh hari, melibatkan mantar pemain yang memahami DNA timnas, dan menyiapkan staf pendukung dari lingkaran internal. Pola ini kontras dengan kebiasaan PSSI yang sering mencari pelatih asing saat darurat tanpa kerangka jangka panjang. Zidane punya empat tahun penuh untuk membangun warisan — luaksana yang tidak dimiliki pelatih timnas Indonesia yang rata-rata kontraknya hanya dua tahun.
Secara taktis, Zidane dihadapkan pada tantangan mengelola transisi generasi emas Prancis. Kylian Mbappé akan berusia 31 tahun di Piala Dunia 2030, sedangkan Antoine Griezmann sudah mundur dari timnas. Pemain muda seperti Warren Zaïre-Emery, Bradley Barcola, dan Michael Olise harus dibangun jadi tulang punggung baru. Zidane dikenal fleksibel secara sistem — pernah bermain 4-3-3, 4-4-2 berlian, hingga 3-5-2 di Madrid — keuntungan besar menghadapi kalender padat Nations League hingga kualifikasi Piala Dunia.
Masalah Barthez tanpa sertifikat CEGB bisa jadi uji pertama keanggungan FFF. Regulasi UEFA dan FFF ketat soal kualifikasi staf teknis, tapi preseden dispensasi untuk mantan pemain bergengsi pernah terjadi. Jika FFF berhasil mengurus izin khusus, ini menciptakan jalur bagi legenda lain transisi jadi pelatih tanpa hambatan birokrasi berlebihan. Sebaliknya, jika ditolak, Zidane harus mencari alternatif — kemungkinan besar dari jaringan mantan kiper Prancis seperti Steve Mandanda atau Alphonse Areola yang sudah memulai karir pelatih.
Kalender dekat menuntut keputusan cepat. Prancis lompat ke Nations League September 2026, baru delapan bulan setelah pengumuman resmi. Zidane punya waktu terbatas untuk menguasai pemain, menyematkan filosofi, dan menentukan hierarki kapten pasca-Griezmann. Mbappé tetap kandidat utama, tapi kepemimpinan di lapangan butuh validasi kolektif. Zidane sendiri pernah menolak jabatan pelatih timnas Brazil dan AS Roma beberapa tahun lalu — kali ini ia memilih pulang ke rumah yang paling kenal.
Proyeksi ke depan, keberhasilan Zidane diukur bukan hanya trofi tapi kemampuan mempertahankan Prancis di puncak hirarki sepak bola dunia. Era Deschamps meninggalkan warisan stabilitas: dua final Piala Dunia beruntun, satu gelar, dan ranking FIFA konstan di tiga besar. Zidane mewarisi tim dengan bakat melimpah tapi tekanan ekspektasi tak tertandingi. Jika gagal di Euro 2028 di depan penonton sendiri, kontrak empat tahun bisa dipangkas dini — realitas keras yang Zidane sadari lebih baik dari siapapun.
Di balik layar, penunjukan ini juga mengubah dinamika pasar pelatih Eropa. Beberapa klub besar yang sempat mengincar Zidane — termasuk Manchester United dan Bayern Munich — kini harus mencari alternatif. Sementara itu, pelatih muda Prancis seperti Thierry Henry (monaco) dan Patrick Vieira (Genova) tetap di jalur klub, menunggu giliran mereka di timnas. Zidane jadi penghalang sekaligus inspirasi: bukti bahwa jalan dari legenda pemain ke pelatih timnas membutuhkan pengalaman klub tingkat tinggi, bukan hanya nostalgia.
Sepak bola Prancis memasuki babak baru dengan tokoh yang paling memahami bobot baju nomor 10 dan captain band. Zidane tidak perlu memperkenalkan diri pada pemain — mereka sudah tumbuh menonton video gol volley-nya di final Liga Champions 2002 atau kepala ke Marco Materazzi 2006. Keuntungan psikologis itu tak ternilai harta, tapi sepak bola modern menuntuk lebih dari karisma. Empat tahun ke depan akan menjawab apakah Zidane mampu menerjemahkan kecerdasan bermain jadi kecerdasan mengelola dari bangku cadangan.