Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) pada 28 Juli 2026 mengkonfirmasi Zinedine Zidane sebagai pelatih kepala timnas senior Les Bleus. Kontrak Zidane beserta staf pendampingnya akan efektif mulai 1 September 2026, menutup era Didier Deschamps yang memimpin Ayam Jantan selama 14 tahun sejak 2012. Keputusan ini sebenarnya sudah dinanti-nanti mengingat Zidane sebelumnya menolak sejumlah tawaran klub besar di Eropa demi menunggu kesempatan memimpin timnas negaranya sendiri.
Namun, apa yang seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi sepak bola Prancis justru diwarnai kontroversi tak terduga. Sejumlah pihak — yang diduga berekor pada aliran Islamophobia — mempertanyakan kesesuaian Zidane menduduki posisi strategis lantaran latar belakang agamanya sebagai Muslim. Pertanyaan soal keyakinan pribadi sang legenda dunia 1998 itu muncul di media sosial dan sejumlah forum publik, menciptakan nuansa yang mengejutkan bagi negara yang mengaku menganut prinsip laisisme ketat.
Anggota Majelis Nasional Prancis dari partai La France Insoumise, Abdelkader Lahmar, dengan tegas menentang narasi diskriminatif tersebut. Melalui akun X-nya @AK_Lahmar, politikus berketurunan Aljazair ini menegaskan bahwa pertanyaan soal agama tidak pernah dilemparkan ke pelatih-pelatih sebelumnya seperti Laurent Blanc, Raymond Domenech, Jacques Santini, Roger Lemerre, maupun Aime Jacquet. "Lalu mengapa pertanyaan ini diajukan kepada Zidane?" tulisnya, menyoroti standar ganda yang terlihat jelas di balik kritik tersebut.
Latar belakang pelantikan Zidane sendiri bermula dari keputusan Deschamps yang pada tahun lalu mengumumkan niatnya mundur pasca Piala Dunia 2026. Zidane, yang pernah membawa Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut (2016-2018), memang sudah lama dikabarkan menjadi kandidat nomor satu. Sang maestro bahkan sengaja mengosongkan diri dari manajemen klub selama dua tahun demi mempersiapkan diri — baik mental maupun taktis — untuk tugas berat ini.
Di sisi teknis, tantangan Zidane tidak ringan. Debut kompetitifnya akan berlangsung pada jeda internasional September-Oktober 2026 di fase grup UEFA Nations League. Prancis terjebak dalam grup yang dinilai 'grup kematian' bersama Italia, Belgia, dan Turki. Tiga lawan tersebut masing-masing memiliki gaya bermain khas dan bintang-bintang kelas dunia, memaksa Zidane untuk segera menemukan formulasi tim optimal dalam waktu singkat.
Kontroversi agama ini sebenarnya membuka tabir ketegangan sosial yang lebih dalam di Prancis. Negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa Barat ini sering kali menghadapi friksi antara identitas nasional sekuler dan ekspresi keagamaan di ruang publik. Kasus Zidane mengingatkan pada polemik serupa yang pernah melanda Karim Benzema atau Samir Nasri di masa lalu, di mana performa di lapangan sering dikaitkan dengan isu identitas non-sepakbola.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menawarkan pelajaran penting. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dunia justru memiliki pengalaman berbeda: pelatih beragama Islam seperti Indra Sjafri, Shin Tae-yong (Katolik), atau Luis Milla (Kristen) dinilai berdasarkan kompetensi, bukan keyakinan. Namun, fenomena intoleransi di media sosial juga mulai merambah ke olahraga kita, seperti ejekan terhadap pemain yang berdoa setelah gol atau kontroversi jadwal latihan di bulan Ramadan.
Analis sepak bola Prancis, Philippe Auclair, menilai bahwa FFF harus bersikap tegas menolak politisasi agama. "Zidane dipilih karena jejak rekamnya sebagai pelatih juara dan ikon kebanggaan nasional, bukan karena ia Muslim atau Katolik," ujarnya dalam wawancara terpisah. Ia menambahkan bahwa tekanan publik justru bisa jadi motivasi tambahan bagi Zidane yang dikenal mentalnya baja di momen-momen krusial.
Sementara itu, reaksi kalangan Muslim Prancis sendiri bercampur. Beberapa organisasi seperti CFCM (Conseil Français du Culte Musulman) menyambut baik pelantikan Zidane sebagai simbol inklusivitas, namun mengingatkan agar keberhasilannya nanti tidak dijadikan 'bukti' bahwa Muslim layak dipimpin — seharusnya itu sudah jadi hal biasa. Di sisi lain, grup anti-Islam justru menggunakan momen ini untuk menggalang narasi 'Islamisasi' institusi negara.
Ke depan, Zidane dijadwalkan memanggil tim pertama pada akhir Agustus untuk persiapan Nations League. Fokus utamanya akan pada transisi generasi: pemain senior seperti Kylian Mbappé, Antoine Griezmann, dan N'Golo Kanté harus mulai digabungkan dengan bintang muda seperti Warren Zaïre-Emery, Bradley Barcola, atau Leny Yoro. Kemampuan Zidane mengelola ego dan menciptakan kimia tim akan diuji jauh lebih berat dibandingkan era klub di Madrid.
Jika Zidane sukses membawa Prancis ke puncak kembali — apalagi di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara — jawaban terbaik bagi para kritikus agama justru ada di lapangan hijau. Sejarah mencatat Zidane selalu menjawab tekanan dengan prestasi, bukan perdebatan. Tugas FFF kini adalah memastikan lingkungan kerja bebas gangguan non-teknis, agar legenda nomor 10 itu bisa fokus pada apa yang paling ia kuasai: memenangkan pertandingan.