Olahraga

Zidane Resmi Latih Prancis, Kontroversi Agama Membayangi Era Baru Les Bleus

Ringkasan

  • Zinedine Zidane dilantik sebagai pelatih timnas Prancis menggantikan Didier Deschamps, namun penunjukannya justru memicu perdebatan soal agama Islam yang dianutnya di tengah maraknya islamofobia di Prancis.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara resmi mengumumkan Zinedine Zidane sebagai pelatih baru timnas Prancis pada 28 Juli 2026, menggantikan Didier Deschamps yang menjabat selama 14 tahun. Kontrak Zidane beserta staf pendampingnya mulai berlaku efektif 1 September 2026, tepat sebelum jadwal UEFA Nations League musim depan. Keputusan ini menutup spekulasi berbulan-bulan soal warisan Deschamps yang mengumumkan pensiun sejak tahun lalu.

Penunjukan legenda Juventus dan Real Madrid ini seharusnya menjadi momen kebanggaan bagi sepak bola Prancis. Zidane membawa rekam jejak tak tertandingi: juara dunia 1998, Euro 2000, serta tiga gelar Liga Champions beruntun sebagai pelatih klub. Namun, kebanggaan itu tercoreng oleh gelombang pertanyaan yang tidak berkaitan dengan taktik atau manajemen skuad, melainkan fokus pada identitas agamanya sebagai seorang Muslim.

Kontroversi meledak di media sosial dan kalangan politik Prancis segera setelah pengumuman resmi. Beberapa akun berlabel kanan keras dan tokoh-tokoh islamofobia mempertanyakan apakah seorang Muslim layak memimpin timnas yang melambangkan nilai-nilai Republik. Narasi ini mengulang pola serupa yang pernah dialami Karim Benzema dan Samir Nasri di masa lalu, di mana asal-usul dan keyakinan pribadi dijadikan alat tekanan di luar garis putih.

Anggota Majelis Nasional dari Partai La France Insoumise, Abdelkader Lahmar, mengecam keras fenomena ini lewat akun X-nya. Ia menegaskan tidak ada pelatih sebelumnya — mulai dari Aimé Jacquet, Roger Lemerre, Jacques Santini, Raymond Domenech, Laurent Blanc, hingga Deschamps — yang pernah ditanya soal agama saat dilantik. "Mengapa pertanyaan ini hanya diajukan kepada Zidane?" tulis Lahmar, menyoroti standar ganda yang melekat pada sosok keturunan Algeria tersebut.

Latar belakang ketegangan ini tidak terlepas dari iklim politik Prancis yang semakin memolarisasi isu identitas dan imigrasi. Sejak terorisme 2015, perdebatan tentang laisisme, integrasi, dan Islam semakin tajam. Sepak bola, sebagai arena identitas nasional paling masif, sering menjadi medan proxy perang budaya ini. Zidane, lahir di Marseille dari orang tua imigran Algeria, menjadi simbol yang rentan dieksploitasi oleh kedua sisi.

Bagi Zidane sendiri, posisi pelatih timnas adalah dambaan jangka panjang. Ia menolak tawaran dari sejumlah klub elit Eropa — termasuk Manchester United dan Bayern Munich — demi menunggu kesempatan ini. Kedekatannya dengan Deschamps, mantan rekan setim di tim juara dunia 1998, dinilai memudahkan transisi kepemimpinan di ruang ganti. Namun, tekanan eksternal kini menambah beban pada bahu sang maestro nomor 10.

Dampak di Indonesia terasa relevan mengingat komunitas sepak bola lokal sangat mengikuti dinamika timnas Prancis. Banyak penggemar Indonesia yang mengidolakan Zidane sejak era pemain, kini mengamati apakah ia mampu menginspirasi generasi baru seperti Kylian Mbappé, Aurélien Tchouaméni, atau Warren Zaïre-Emery. Narasi intoleransi yang melanda Zidane juga menjadi pembelajaran bagi manajemen sepak bola Indonesia agar netralitas dan meritokrasi tetap jadi prioritas di atas identitas pribadi.

Di sisi teknis, tugas pertama Zidane cukup berat. Prancis dijadwalkan menghadapi Italia, Belgia, dan Turki di fase grup Liga Negara UEFA pada jeda internasional September-Oktober 2026. Laga lawan Italia di Paris dan Turki di Istanbul menjadi uji karakter awal. Zidane harus cepat menanamkan filosofi bermain yang berbeda dari era Deschamps yang cenderung pragmatis dan bergantung pada transisi cepat Mbappé.

Beberapa mantan pemain Prancis seperti Thierry Henry dan Bixente Lizarazu telah menyatakan dukungan penuh. Henry menilai Zidane memiliki "otak sepak bola" yang langka dan otoritas alami di depan pemain berbakat. Sementara Lizarazu mengingatkan agar media dan publik tidak membiarkan isu non-sepak bola mengganggu persiapan tim menuju Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

Kendati demikian, FFF belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi kontroversi agama. Kebijakan diam ini dinilai beberapa pengamat sebagai strategi menghindari eskalasi, namun berisiko dianggap toleran terhadap diskriminasi. Badan anti-diskriminasi Prancis (DILCRAH) diharapkan turut campur untuk menegaskan bahwa agama bukan kriteria kelayakan jabatan publik, termasuk pelatih timnas.

Ke depan, keberhasilan Zidane akan diukur dari dua sisi: hasil di lapangan dan kemampuannya menahan tekanan ruang publik. Jika Prancis tampil menakjubkan, narasi kebencian kemungkinan akan meredup tertutupi euforia kemenangan. Namun, jika hasil buruk, isu agama pasti akan kembali disodorkan sebagai alibi kegagalan — ujian mental yang lebih berat dari sekadar mengatur formasi 4-3-3.

Mengapa Ini Penting

Penunjukan Zidane bukan sekadar rotasi pelatih, melainkan uji ketahanan nilai inklusivitas di sepak bola Prancis yang selama ini diproyeksikan sebagai simbol persatuan. Bagi penggemar Indonesia, kasus ini memetakan bagaimana identitas agama masih bisa diinstrumentalkan di level tertinggi olahraga global. Jika Zidane sukses, ia membuktikan meritokrasi bisa mengalahkan prasangka; jika gagal, narasi kebencian akan mendapat amunisi baru. Dinamika ini juga relevan bagi PSSI dalam menyikapi tekanan identitas di pengelolaan timnas Garuda.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
16 Agustus 2026
Waktu Baca
5 menit