Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (KNVB) pada Rabu (13/8) secara resmi mengeluarkan surat keputusan penunjukan Xavi Hernandez sebagai pelatih kepala timnas Belanda. Keputusan ini mengakhiri pencarian yang berbulan-bulan setelah Ronald Koeman mundur pasca kegagalan De Oranje lolos ke babak final Liga Negara UEFA 2025. Kontrak yang ditandatangani Xavi berlaku hingga Piala Dunia 2030, menandakan komitmen jangka panjang federasi sepak bola Belanda untuk membangun tim dengan identitas bermain yang jelas.
Penunjukan mantan gelandang legendaris Barcelona ini memecah tradisi 48 tahun Belanda yang hanya dipercayakan pada pelatih lokal. Terakhir kali pelatih asing memimpin De Oranje adalah Ernst Happel dari Austria yang membawa tim hingga final Piala Dunia 1978. Sejak itu, nama-nama seperti Rinus Michels, Louis van Gaal, Guus Hiddink, Dick Advocaat, Bert van Marwijk, hingga Ronald Koeman sendiri semuanya berkebangsaan Belanda. Xavi kini menjadi pengecualian pertama dalam hampir setengah abad.
Latar belakang pilihan Jenderal Sekretaris KNVB, Gijs de Jong, mengarah pada keinginan untuk mengembalikan identitas "Total Football" versi modern. Belanda dinilai kehilangan arah bermain sejak era Van Gaal kedua berakhir 2014. Di bawah Koeman, tim bermain pragmatis dan sering kali kehilangan dominasi bola lawan meski memiliki pemain berkualitas seperti Virgil van Dijk, Frenkie de Jong, dan Cody Gakpo. Xavi dianggap figur ideal untuk menyuntikkan DNA penguasaan bola dan tekanan tinggi yang menjadi ciri khas akademi La Masia dan warisan Johan Cruyff.
Hubungan Xavi dengan sepak bola Belanda memang mendalam. Lahir di Terrassa, Katalania, ia masuk La Masia berusia 11 tahun saat Cruyff baru saja meninggalkan Barcelona namun filosofinya masih melekat kuat. Louis van Gaal, yang melatih Barcelona 1997-2000, adalah sosok yang memberikan debut senior Xavi pada 18 Agustus 1998 di Piala Super Spanyol lawan Mallorca. Frank Rijkaard kemudian mempromosikannya jadi pemain utama tim satu pada musim 2002/03. Ketiga nama itu — Cruyff, Van Gaal, Rijkaard — membentuk fondasi pemikiran taktis Xavi hingga kini.
Sebagai pemain, rekam jejak Xavi tak diragukan. 17 musim di Barcelona menghadirkan 767 penampilan, 8 gelar La Liga, 4 Liga Champions, 3 Piala Dunia Klub, dan tak terhitung trofi domestik lainnya. Bersama Spanyol, ia jadi arsitek tengah tiga gelar besar beruntun: Euro 2008, Piala Dunia 2010, Euro 2012. Gaya bermainnya yang mengutamakan kontrol tempo, presisi umpan pendek, dan kecerdasan posisi jadi referensi gelandang modern. Kini ia harus mentransfer kekayaan pengalaman itu ke bangku pelatih timnas.
Karier pelatih Xavi Namun belum sepenuhnya terbukti di level elit Eropa. Ia memulai di Al Sadd Qatar 2019-2021, memenangkan 7 gelar domestik dalam dua musim penuh. Kembali ke Barcelona November 2021, ia membawa tim juara La Liga dan Super Spanyol 2022/23 — gelar liga pertama pasca era Messi. Namun musim berikutnya, Barcelona gagal pertahankan gelar, kalah di final Super Spanyol, dan tersingkir dini Liga Champions serta Piala Raja. Joan Laporta memutus kontraknya Mei 2024 meski masih punya kontrak hingga 2025. Xavi lalu menganggur 15 bulan sebelum tawaran Belanda datang.
Kritik utama ke Xavi selama di Barcelona berkisar pada ketidakmampuan mengelola ego bintang senior, kakuannya pada sistem 4-3-3 murni tanpa variasi, dan ketergantungan pada pemain akademi yang belum siap. Di Belanda, ia akan menghadapi tekanan serupa: memadukan generasi emas Van Dijk (34 tahun), De Jong (28 tahun), dan Gakpo (26 tahun) dengan bakat muda seperti Xavi Simons, Quinten Timber, dan Jorrel Hato. Fleksibilitas taktis akan diuji keras di kualifikasi Piala Dunia 2026 yang dimulai Maret 2025.
Dampak penunjukan ini merambah ke liga domestik Indonesia. Beberapa klub Liga 1 yang mengadopsi sistem berbasis penguasaan bola — seperti Persib Bandung di era Bojan Hodak atau Bali United di masa Stefano Cugurra — kini punya referensi baru bagaimana filosofi Cruyff diterjemahkan ke era modern. Pelatih lokal Indonesia yang bersertifikasi AFC Pro, seperti Indra Sjafri atau Bima Sakti, bisa mempelajari bagaimana Xavi mengelola transisi generasi tanpa kehilangan identitas bermain. KNVB sendiri dikenal punya program pengembangan pelatih yang diekspor ke Asia, termasuk kerja sama dengan PSSI sejak 2022.
Xavi dalam konferensi pers pertamanya di Zeist mengungkapkan rasa hormat mendalam. "Menjadi pelatih kepala Belanda adalah kehormatan luar biasa. Saya dibesarkan dengan filosofi Cruyff dan Michels, dilatih Van Gaal dan Rijkaard. Saya merasa ini adalah pulang ke rumah spiritual sepak bola saya," ujarnya. Ia juga menegaskan tidak akan mengubah sistem paksa, melainkan menyesuaikan dengan karakteristik pemain yang ada. "Kita akan bermain sepak bola yang dominan, berani, dan menyeronokkan. Itu warisan Belanda."
Louis van Gaal, yang kini menjalani perawatan kanker prostat, dikabarkan telah memberi restu penuh lewat telepon pribadi ke Xavi pekan lalu. Mantan pelatih Bayern Munich dan Manchester United itu dinilai paling berhak menilai kelayakan Xavi karena mengenalnya sejak remaja. Frank de Boer, mantan bek Barcelona dan Ajax, menilai penunjukan ini "logis dan berani" meski mengakui risiko kegagalan di level timnas jauh lebih tinggi dibanding klub.
Langkah selanjutnya Xavi adalah menyusun staf pendamping. Nama Robert Moreno, mantan asisten Luis Enrique di Spanyol dan Monaco, diprediksi jadi asisten utama. Pepijn Lijnders, mantan asisten Jurgen Klopp di Liverpool, juga dikabarkan masuk daftar. Untuk posisi pelatih kiper, Erwin van de Looi — yang pernah asisten Xavi di Al Sadd — menjadi favorit. KNVB menargetkan staf lengkap diumumkan sebelum sidang teknis September 2025.
Proyeksi ke depan, keberhasilan Xavi di Belanda akan menentukan apakah era pelatih asing bisa dibuka kembali di negara yang sangat menjaga tradisi lokal. Jika sukses membawa De Oranje ke final Piala Dunia 2026 atau memenangkan Euro 2028, federasi lain di Eropa — seperti Italia, Jerman, atau Prancis yang saat ini semua dipimpin pelatih lokal — mungkin mulai mempertimbangkan talenta asing berkualitas. Bagi Indonesia, kasus Xavi jadi pelajaran: identitas bermain yang konsisten, didukung pengembangan pelatih berkelanjutan, lebih berharga daripada gonta-ganti pelatih tanpa jalan panjang.